Cinta Tak Sesederhana Menjadi Bahagia

Mungkin mereka pikir saya kelewat dungu, atau ketakutan. Mereka pikir, saya adalah pecundang paling naif yang tinggal di negeri ini. Pecundang yang mereka kenal sebagai pemuja cinta, padahal sebenarnya cinta lah yang menghabisi nyali saya. Cinta lah yang pecundangi saya selain dunia dan caci-maki mereka. Cinta. Ah, sebuah kata yang mengubah saya menjadi manusia yang bukan saya. Kata yang mengubah jiwa saya.

“Adendong, lama deh lo dandannya, yang mau kencan kan gue, masa jadi cakepan elo!” Itu suara Liana. Dia perempuan paling cantik setelah ibu saya. Dia perempuan paling gagah setelah ayah saya.

“Ey, mak! Secakep-cakepnya gue, laki lo nggak mungkin naksir sama gue!” Sahut saya sekenanya. Perempuan itu tertawa, suaranya renyah serenyah biskuit penganan teh sore.

Liana berkaca di cermin rias saya sekali lagi, merapikan sisa cokelat di bibir yang sudah dipoles gincu merah marun. Tangannya asik menyisir rambut sebahunya dengan jari-jari lentiknya. Jari-jari yang sering saya lihat mengambang di udara dengan gerakan-gerakan naik-turun seperti lenggokan pinggul penari yang paling gemulai. Ya, Liana suka menari. Dan saya suka melihatnya menari.

“Iya juga sih, lagi elo nama doang Adam, tapi kelakuan Hawa,” Liana terbahak.

“Ye, kampret lo, mak!” saya mencubit lengannya gemas, dia meringis.

*

Masih teringat di benak saya bagaimana suara Liana berteriak sekencang suara badai di telinga saya. Bagaimana suara tangisnya yang meraung-raung mencabik bahu saya. Suara-suara yang keluar mirip suara ibu saya di rumah ketika saya kecil. Suara-suara pilu perempuan terluka sebab laki-laki.

“Remon udah merkosa gue, Dam. Gue nggak tau harus gimana lagi. Gue udah kotor!” Liana terisak. Suaranya lirih seperti burung yang ingin menjemput ajalnya. Indah, tetapi menyedihkan. Suara Liana lima tahun silam. Suara yang tidak ingin saya dengar lagi.

Suara yang sama seperti masa lalu saya;

“Ampun, Yah. Ampuuunnn!” perempuan itu terisak setelah suara beling pecah di lantai. Suara tangisnya ikut pecah di muka pintu kamar saya. Saya mendengarnya.

Itu suara ibu saya. Setelah itu saya keluar kamar, dan melihat ibu saya tergolek di lantai dengan vas bunga pemberian ayah saya yang sudah pecah berhamburan. Seperti hati ibu saya. Usai malam itu, saya tidak pernah melihat vas bunga ditaruh di meja, dan juga ayah saya.

Tidak ada yang bisa saya lakukan kepada dua orang tersayang itu kecuali memberi rasa aman yang tak seberapa. Mereka membenci laki-laki, saya juga. Bedanya, saya adalah laki-laki, yang membenci raga saya sendiri.

*

Lima tahun sudah berlalu sejak tangis dan raungan Liana mendekam serupa ingatan di kepala saya. Hampir lima tahun pula saya tidak bisa mendengar suara tawa Liana yang serenyah biskuit penganan kopi pagi. Hampir lima tahun sebelum ia bertemu dengan Rajib Waguna Alanasakti, laki-laki pemabuk di bar langganan saya. Laki-laki itu senang menghabiskan lima botol chivas ketika menjelang pukul dua dini hari. Saya sempat mengobrol dengannya, sebelum ia dan Liana bertemu tak sengaja, katanya, hidup bahagia di dunia ini sebagai orang yang benar-benar sadar ialah dusta. Maka, ia habiskan tujuh tahun belakangan ini dengan mabuk-mabukan. Ketika saya bertanya alasannya, dia bilang, get drunk is my way to pleasure myself.

“Gue nggak bilang kalo bahagia itu harus dengan mabuk, but it’s my own way dan orang lain nggak berhak ngurusin gue seolah-olah ini dosa besar. Well, setiap orang punya dosanya masing-masing. Just, get a life, man.” katanya. Di depan saya dan Liana. Yang saya tahu, setelah itu senyum biskuit Liana terdengar lagi. Perempuan itu jatuh cinta. Dan saya baru sadar, letak kesalahan terbesar saya adalah ketika mengajak Liana ke bar langganan saya dan mengenalkannya pada Rajib.

*

Colony, 21:18 WIB.

Rajib sudah lebih dulu datang sebelum saya dan Liana. Mereka akan berkencan di depan saya, tapi yang saya suka dari Rajib adalah laki-laki ini tidak seperti laki-laki lainnya yang mencoba menjauhkan hubungan saya dengan Liana, dia malah sebaliknya. Dia tidak menghilangkan sebagian potongan dari hidup Liana, termasuk masa lalunya yang kelam dan juga saya. Tangan laki-laki itu seolah kuncup mawar yang mekar; terbuka untuk siapa dan apa saja tanpa pilih-pilih ras ataupun orientasi seksual.

people just people who judging each other. I may say that i’m not kind of them, but i’m only human.” dia pernah berkata begitu. Itulah yang saya tahu bahwa laki-laki bertubuh kurus dan berkulit cokelat gelap ini mempunyai hati yang lapang. Well, he’s not talking bullshit, anyway. Jadi saat dia bilang dia mencintai Liana, saya tahu laki-laki itu sungguh-sungguh. Dan saya tidak menyesali kesalahan saya; mempertemukan Liana dan Rajib. They’re such of lovely couple i’ve ever met.

Entah berapa jam kami bertiga menghabiskan waktu, dan berbotol-botol bir di sini dengan percakapan-percakapan yang tak kenal kata usai. Berkali-kali saya melihat bibir Liana dan Rajib bersentuhan seperti bibir saya dengan gelas bir di tangan saya. Berkali-kali ciuman mereka liar membangkitkan emosi saya. Berkali-kali saya berdebar melepaskan cemas di dada, berharap tatapan mata dari Rajib adalah kesungguhan pada Liana. Saya sama sekali tidak ingin mendengar tangis Liana. Tidak lagi. Namun yang saya lihat adalah kebahagiaan sekaligus kehilangan pada mata dan ciuman Rajib. Dia betul-betul mencintai Liana. Hal itu melegakan, membahagiakan, sekaligus menyakitkan bagi saya. Bila kalian ingin bertanya apa sebabnya, saya ingin mengakui beberapa hal; rahasia terbesar dalam hidup saya selama terjebak dalam tubuh ini;

Saya mencintai Liana. Setelah saya tahu dia membenci laki-laki, saya putuskan agar saya tidak menjadi laki-laki. Saya menjadi perempuan untuknya. Karena cinta.

Saya mencintai Rajib. Dia adalah laki-laki ‘straight’ satu-satunya yang saya cintai.

Pada mulanya, semua membingungkan. Apalagi ketika berhadapan dengan dua orang yang saya cintai dan tidak pernah bisa saya miliki. Dua orang yang saya cintai saling mencintai. It’s more difficult than you think. But at least, I know that, I love the way Rajib loves Liana.

Saya membiarkan dua orang yang saya cintai berbahagia dengan saling mencintai satu sama lain. Dan yang lebih membahagiakan untuk saya adalah, dua orang itu juga mencintai saya. Walau tak pernah bisa saya miliki.

Mereka boleh berpikir saya pecundang, atau bahkan sampah dunia, tetapi yang mereka tidak tahu adalah, bahwa Tuhan menciptakan manusia selalu ada gunanya, He knows what people don’ts, right?

At least, saya mungkin belum menemukan letak kebahagiaan saya yang utuh, tetapi saya tahu apa yang sedang saya lakukan; menjemput takdir. Seperti puisi yang pernah saya tulis.


Takdir Di Tangga Waktu

Saya pikir, saya pecundang
Saya pikir, dunia bukan untuk saya yang malang

Saya pikir, dunia tidak adil
Saya pikir, pemikiran saya yang kerdil

Saya pikir, manusia hanyalah manusia
Yang nanti akan menemukan takdir masing-masing

Biar saja waktu menyeret saya dari tanpa cahaya, sampai ada cahaya lagi
Terseret anak-anak tangga sambil mengaduh kesakitan
Berjalan meniti tangga naik
Menjemput takdir

Adam,
(Klender, 23 Januari 2014)

(sumber: weheartit.com)

(sumber: weheartit.com)

END-

Depok, 24 Maret 2015

[PUISIK] Bookends by Simon & Garfunkel


Time it was
And what a time it was, it was
A time of innocence
A time of confidences

Long ago it must be
I have a photograph
Preserve your memories
They’re all that’s left you

Waktu berlalu bersama ingatan
yang ketika hujan kerap berlarian
Secepat itu waktu bergulir
Bersama detik-detik yang mengalir

Tiada yang lebih deras daripada kenangan
Kecuali jumlah butir hujan
Sayang, semua rapi dalam rak buku
juga album foto-fotomu

Kita ialah sepasang waktu yang berlalu
Ditiadakan takdir secepat ia membalik telapak tangan
Waktu yang berlalu, tetap menjadi masa lalu
Meski doa tak bisa diukur oleh panjang lengan

Tiada yang dapat mengembalikan detik
Pun engkau yang sedang membual; aku cinta mati padamu
Nyatanya kau pergi meninggalkan lagu patah hati berlirik
Kemudian kau hanya menjadi tamu

Masa lalu biarlah masa lalu
Ini bukan lagu Inul Daratista
Tapi takdir memang berjalan semestinya
Apa yang seharusnya ada tidak dibiarkannya berlalu

Lalu kita, tetap kita
Sepasang waktu yang dibiarkannya berlalu

Depok, 28 Januari 2015

Mencintaimu;

Selamat malam, kau yang sedang dikerudungi bahagia. Semoga aku tak mengganggu.
Malam ini, entah malam ke berapa aku merindukanmu terlalu banyak, lewat doa atau puisi yang tertulis di surat digital ini. Aku tak pernah sempat menghitung berapa banyak aksara yang melebur ketika bayanganmu hadir sesering napasku berembus. Aku pun enggan menganggapnya sebagai beban. Sebab, terluka karena merindumu ternyata patut dinikmati. Seperti yang sedang aku lakukan ini; menulisimu. Menulisi deru rindu yang menderas di dada ketika malam menggelap ataupun pagi merayap menuju langit. Ya, sepagi itu.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mataku enggan terpejam karena begitu banyak cairan kafein di lambungku. Ini bukan tentang kopi. Melainkan tentang ingatan tentangmu yang tak mau hilang dari benakku. Bayanganmu, kafein. Lihat, sekarang pukul berapa? 00:00
Seawal itukah aku mencintaimu? Ya. Tetapi tidak cukup lebih awal untuk bisa bersamamu.

Kenyataan dan harapan terkadang tidak membaur jadi satu-padu yang harmonis. Malah, terkadang mereka saling berpunggungan. Seperti nasib baik dan nasib buruk.
Seperti malam ini. Tak perlu aku menceritakan maksudnya, sebab kurasa kau sudah tahu maksudku.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mencintaimu, cukup hanya lewat barisan kata dan doa; sebab ketulusan bisa menjelma apa saja. Dan mencintaimu, juga bisa melalui cara apa saja.

Depok, 26 Januari 2015

Januari Yang Sibuk Memuisikan Rindu

Januari sibuk memuisikan rindu
Setelah Desember pergi menyisakan sendu
Tangis, sedu-sedan sepasang kekasih yang saling meninggalkan
Ketika tatap dan ratapan tiada lagi berarti tuk bertahan

Belasan koper pembawa kenang tlah dilarungkan jauh-jauh
Menepikan ingatan-ingatan yang lalang di dua kepala
Percuma, kenangan itu ternyata tertanam dalam-dalam meski raga kian menjauh
Meski lipatan waktu kini terentang untuk saling melupa

Dua kota di kepala yang berbeda, terkadang masih riuh oleh kenangan
Saat malam menjelang, ingatan serupa lalu lintas yang padat lalu lalang
Saat pagi datang, mimpi semalam merupa lembar buram kenang dan harapan
Apalagi ketika rintik hujan memenuhi gendang tipis di telinga, bersenandung

Bayang tubuh laki-laki yang ia cintai menjelma hujan di kota pikirannya
Rindu menembus ulu hati dengan anak panah seruncing kata perpisahan
Di kepala lelakinya, bayang perempuan yang pernah ia cintai, lenyap menjadi kemarau di kotanya
Baginya, musim hujan telah berakhir digantikan musim yang lain

Tetapi dua rindu, semakin hari, semakin tinggi berterbangan ke udara
Ke langit Januari yang terkadang mendung abu-abu
Sementara dua hati saling melupakan, Januari sibuk menyusun aksara
Lewat hujan yang turun dari tanggal satu hingga tiga puluh satu

Sesibuk itu Januari memuisikan rindu

Kepada Januari Yang Sibuk Memuisikan Rindu,
Akulah Perempuan yang mengerami hujan di kepalaku
Pemilik sayap-sayap rindu yang berterbangan ke langitmu
Perenggut cahaya kuning matahari dan mengubahnya jadi abu-abu

Akulah yang kerap berdoa agar langitmu mendung abu-abu
Sebab lelaki yang kucintai itu mencintai warna abu-abu
Akulah yang memohon hujan kepadamu
Sebab lelaki yang kucintai itu gemar minum kopi sambil mendengar suara hujan yang merdu

Sebab mendung dan hujan pernah mempertemukan kami
Sebab abu-abu dan aroma hujan ialah kenangan paling manis di kisah kami
Sebab aku berharap, hujan yang tumpah, akan mengingatkannya tentang aku
Sebab aku berdoa agar hujan membuatnya rindu padaku

Januari masih sibuk memuisikan rindu
Sebelum lewat tanggal tiga puluh satu
Hujan serupa celotehan masa lalu
Yang berpuisi dengan sendu

Depok, 26 Januari 2015
Di luar tidak hujan, tapi di kepalaku sedang deras
Oleh ingatan tentang kamu.

Air Mata Januari

Januari masih menggantung di udara
Kesedihan kerapkali menjadikan langitnya abu
Beberapa pasang sepatu memaki air matanya
Hujan Bulan Januari yang katanya candu

Dua tatap mata kadangkala redup menatap langit
Betapa hujan serupa petaka pereguk kebahagiaan
Beberapa lainnya menjadikannya bait-bait
do’a supaya langit Januari bisa menyingkap awan

Hujan Bulan Januari, katanya candu
Bagi setiap hati yang kehilangan pemandu
Betapa kesedihan dinikmati bagai tetes madu
Serupa pemanis gulali dalam liang ladang tebu

Januari masih beraroma sama
Kesedihan dan air mata dalam satu napas
Desember pun punya aroma sama
Kesedihan dan air mata dalam satu lapas

Di luar kamarku ini, sayang
Hujan menampar-nampar jendela riang
Seolah bayangmu hadir sebagai kenangan yang lamat-lamat
tergerus waktu yang tenggat, dan kau masih kucintai sangat

Januari masih menggantung di udara
Kebahagiaan tak dapat lagi membirukan langit yang abu
Jadi biarkan hujan berdansa di luar sana
Sebagai pengingat bahwa kita pernah satu

Air mata Januari
Biar ia menyimpan kenang kita sendiri-sendiri

Depok, 21 Januari 2015
Di luar hujan, aku kuyup oleh rinduku sendiri.

Sepucuk Rindu di Rak Bukumu

1.

Akalku rupanya tak kehabisan cara untuk menyampaikan sepucuk rindu dalam deretan kata yang tersusun di kepala. Liar berisik kata dalam kepalaku agaknya beringas memuisikan kerinduanku padamu; pada engkau yang kini terlalu memanjangkan jarak seolah kau memanjangkan ombak-ombak rambut di kepalamu.


2.

Hujan di senin pagi, aksara merupa bulir hujan yang jatuh satu-per-satu ke daratan pikiranku. Mengingatmu; adalah nama hujan yang paling deras hari ini. Mengenangmu, adalah seorang gadis yang gemar berlama-lama di bawah hujan sendirian. Dan melupakanmu, adalah payung yang tak terpakai di sudut pintu.


3.

Katanya, Tuhan tak suka apa-apa yang berlebihan. Sekarang aku merasa berdosa karena telah merindumu terlalu banyak. Tapi jangan khawatir, jika banyak merindu mengantarkan seseorang ke neraka, aku yakin aku tidak akan sendirian.


4.

Hujan kian deras menampar pekarangan rumah. Ingatan tentangmu jatuh perlahan di kening. Aku masih berdiri di samping jendela. Kian deras hujan di luar, kian deras pula kenangan melebamkan sepasang mata. Tapi aku masih berdiri di samping jendela, membiarkan hujan mampir juga di mataku. Sekali lagi.


5.

Jika hatiku sebuah rumah mungil di hutan yang rimbun bunga mawar, kau pasti berada di sana. Tinggal sebagai penjaga kebun, sebab mawar-mawar yang mekar ialah rindu yang kaurawat dengan tabah.


6.

Ini sajak ke-enam untuk memuisikan kerinduanku yang deras. Lebih deras dari hujan bulan Juni-nya Sapardi.. Lebih deras, lebih panjang dari hujan bulan Desember. Lebih deras. Berhari-hari. Menggenangkan air. Menggenapkan luka. Lalu aku, satu-satunya yang mati terseret arus.


7.

Menghitung hari. Hari yang kuhapal nama-nama-nya. Menghitung hari. Menjumlah berapa tangis dan rindu yang selalu mengisi setiap harinya. Menghitung hari. Hari-hari yang kini jumlahnya cuma satu, itu-itu saja namanya. Bukan lagi Tujuh. Bukan lagi Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, atau Minggu. Bukan. Nama hari cuma satu bagiku; Hari Merindumu.


8.

Senin. Aku mengingat hari itu sebagai hari kau membaca buku. Buku apa saja yang rapi kaususun di rak bukumu. Maka kutulislah kumpulan puisi rindu dan buku cerita mengenai gadis yang menunggu hujan di bulan September, kuselipkan di rak bukumu; agar suatu hari kau baca, agar suatu hari kau tahu; akulah gadis yang menunggu hujan di bulan September. Meski hujan tak kunjung datang, setidaknya rinduku bisa kaubaca di Senin pagimu.


9.

Permohonan maaf seluas-luasnya; Seharusnya, aku tidak merindumu. Maaf.


10.

Kuselipkan sepuluh sajak rindu di bawah bantalmu, agar menjelma mimpi dalam pejammu yang damai. Kuselipkan lagi di meja kerjamu sebagai dokumen yang harus kaupelajari, kaupahami. Kuselipkan lagi di rak bukumu, supaya kaubaca dan tak lagi lelah menerka apa yang kurasa.


Depok, 19 Januari 2015