Love Me Like You Do

Seperti biasa, setiap hari aku akan menuliskanmu surat yang akan menumpuk menjadi link-link yang tak pernah kaubuka sama sekali.
Namun biarkanlah si bodoh ini tetap mengukiri aksara walau kepala rasanya pening akibat mengingatmu terlalu banyak, dan mencoba melupakanmu dengan banyak minum kopi. Oh what a fool me, melupakanmu dengan minum kopi? lol.

Belakangan ini, aku entah mengapa tergila-gila dengan lagu Love Me Like You Do-nya Ellie Goulding. Bila mendengar lagu itu pastilah tubuhku seperti kesurupan disco dancer, tangan menari-nari ke udara, tubuh berdansa mengikuti aliran tempo yang bersemangat, dan kepalaku seperti yang sudah-sudah; mengingatmu dalam ingar-bingar musik yang menyumbat telinga. Entah mengapa, setiap lirik yang kudengar bisa melayangkan ingatanku kepadamu. Setiap larik indah jatuh cinta seraya membuatku mengenangmu kembali, mengingat debar dan hangat yang sempat mampir di dadaku.

You’re the light, you’re the night
You’re the color of my blood
You’re the cure, you’re the pain
You’re the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much

Kau ialah cahaya, kau ialah gelap, kau ialah warna dalam darahku; merah; cinta. Ah, lirik yang merayu, berkobar-kobar dengan rasa jatuh cinta yang membara. You’re the cure, you’re the pain, kau  ialah penyembuh, dan kau juga derita yang ditawarkan sekaligus dalam satu waktu. Ironis. Dan mencintaimu sama ironisnya dengan lirik lagu ini. Ya, jatuh cinta denganmu ialah penyembuh luka masa laluku, kemudian kau menawarkan aku luka lagi. Kau obat sekaligus penyebab sakit. Ah, ironis bukan?
You’re the only thing I wanna touch, ya lebih ironis lagi ketika engkau masih satu-satunya orang yang masih ingin kusentuh, padahal seharusnya tidak. Dan aku seharusnya jangan sekali-sekali mencoba menyentuhmu. Kau duri mawar, dan aku ialah yang tak gentar ingin menggenggammu kuat-kuat.
Never knew that it could mean so much. Aku tidak pernah tahu mengapa mencintaimu bisa sedemikian berarti banyak untukku. Sedemikian gila.

You’re the fear, I don’t care
Cause I’ve never been so high
Follow me to the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life

Kau ialah ketakutanku, di mana seharusnya cinta tidak tumbuh dariku untukmu. Cinta ini hanya benalu yang menempel pada dahan tubuhmu. Ada, dan mengganggu. I don’t care. Aku tidak peduli. Terdengar egois? Ya, memang benar adanya demikian. Aku tidak mau memunafikan diriku lebih jauh sebab aku tidak dapat membohongi diri lagi, aku tidak pernah merasa setinggi ini ketika mengenalmu. I’ve never been so high. So let me high, baby. Let me love you in my way and let it be my own sin. My beautiful sin.
Follow me to the dark. Ikuti aku ke dalam gelap. Mencintaimu ialah dosaku, dan berdosalah denganku. Cintai aku dengan semestinya. Love Me Like You Do. Tidakkah kau ingin ikut berdosa denganku? Meskipun itu dosa, meskipun itu dapat menggores wajah kesetiaan yang berparas ayu nan lugu nan dungu.
Let me take you past our satellites. Ayo jabat tanganku, berdosa dengan mencintaiku kembali, aku akan mengajakmu keliling ruang angkasa, melalui beragam planet, rasi bintang, dan satelit-satelit di angkasa raya. Dan kau akan melihat sesuatu yang pernah kaubawa dalam hidupku; ribuan bintang, cahaya, dan matahari. Ya, seluruh keindahan angkasa raya pernah engkau bawa ke kehidupanku yang gulita. Kau bawa lagi gemerlap itu, lalu kembali pergi, kembali meninggalkan gelap..

Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find
Only you can set my heart on fire, on fire

Loving you can brought me to the edge of paradise. Mencintaimu bisa membawaku ke tepian surga duniawi. Ah, surga duniawi. Ternyata, aku bisa menemukan surga di dunia ini selain kopi dan cokelat hangat yang mampu meleburkan duka menjadi senyuman hanya dalam satu sesapan saja, yaitu engkau. Kau.
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find. Gila! Setiap inci tubuhmu ialah kesucian manusiawi yang pernah kutemui. Lagu ini benar-benar penuh oleh lirik rayuan!.
But damn! The last line of those lyric; only you can set my heart on fire. Yeah, only you can set my heart on fire and burning my heart inside. Ironic. Ironic. Ironic,

Yeah, I’ll let you set the pace
Cause I’m not thinking straight
My head spinning around I can’t see clear no more
What are you waiting for?

I let you set the pace. Cause i’m not thinking straight. Ya. Aku tidak bisa berpikir waras lagi bagaimana ini bisa terjadi begitu gilanya kepadaku. Rasanya seperti mabuk kepayang! My head spinning around I can’t see clear no more. 
What are you waiting for? Apa yang kau tunggu?

Love me like you do, love me like you do
Love me like you do, love me like you do
Touch me like you do, touch me like you do

Kuulangi lagi, mencintaimu ialah dosaku, dan berdosalah denganku. Cintai aku dengan semestinya. Love Me Like You Do. Love me like you do. Cintai aku dengan semestinya.

love me like you do
let me be your favorite mistake
because loving you is my beautiful sin i ever do.

– @chikopicinoo

So, What are you waiting for?

Depok, 21 Februari 2015

Sepucuk Surat Untuk Morrissey

Kepada Morrissey yang wajah dan tubuhnya hanya bisa kutatap lewat foto hitam-putih,—foto ketika dirmu masih mempunyai senyum maut, melumpuhkan detak jantungku. Masih muda belia. Masih mampu merayu keimanan batinku. Masih… Ah, pokoknya masih sangat tampan, dan kiranya masih seusiaku, sebab kalau sekarang, kau lebih pantas menjadi Ayahku, atau bahkan Kakekku— ada gadis kecil patah hati yang menggilai suaramu.
Ya, itu aku, Mozz.

Aku gadis yang bertempat tinggal jauh dari tempatmu sekarang.
Aku berada di Indonesia. Kau pernah dengar nama negara itu? Apa kau pernah menyambanginya?
Ah, sudahlah yang barusan hanya basa-basi belaka.
Mozz, kau tahu, suaramu ialah kebahagiaan kecil yang ramai dipestakan pada dadaku yang digelimangi rasa galau. Ya, aku mengenalmu, mengenal The Smiths pada akhir 2013, sebuah keterlambatan memang. Aku tahu lagumu kali pertama ialah “Please, please, please Let Me Get What I Want” yang menjadi soundtrack film 500 Days Of Summer, kemudian disusul dengan lagu berjudul “There’s A Light That Never Goes Out” yang aku artikan sendiri, ialah harapan. Cahaya yang tidak pernah pergi. Bukan begitu?
Baiklah, film itu berasal dari tangan temanku. Dia memberiku film itu, entah alasannya apa, aku lupa, mungkin untuk mengobati rasa sakitku setelah putus dengan mantan pacarku. Entah untuk mengobati rasa sakit, atau membuatnya bertambah parah, entahlah. Hanya dia yang tahu.

Skip! Awal mula mendengar lagumu satu kali. Ya, hanya sekali, dan aku merasa aneh. Lagumu aneh. Lagu The Smiths aneh! Tapi kemudian, kutemukan diriku sendiri memutar lagu aneh itu di kepala. Lagu yang kuputar hanya sekali itu menggaung di kepala, memaksaku untuk memutarnya kedua kali. Dan selanjutnya bisa ditebak….hhhmm...lagunya kok enak juga….mmmm...duh kok enak….hhmmmm duh nagih! Ya, kurang lebih seperti itu.

Setelahnya, aku kelimpungan sendiri mencari-cari lagumu, untungnya temanku yang memberikanku film romance itu memiliki beberapa album The Smiths, dan dia dengan baiknya memberikannya padaku. HAHAHA kan jadi tidak usah repot-repot mencarinya lagi.  Dan kau tahu apa, Mozz? Aku benar-benar jatuh cinta dengan suaramu, sepertinya.
Mendengar kau mendesah, dan melengking pada lagu This Charming Man saja aku masih terpesona. Ah, rasanya aku bahagia begitu mendengar suaramu. Seketika saja galau patah hatiku itu pupus. Ajaib!

Mozz, I just let you know; how your taste of music was messed up my life. Turn my black and white into colorful life–even what you said in Unloveable is you wore black on the outside, and black on the inside. D you know, Mozz? Your Unloveable makes me…..I’m not alone who unloveable. HAHAHA sounds pity, isn’t it?

Yeah, at least, aku, gadis patah hati yang sering sekali memutar suaramu, ingin berterima kasih.
Atas beberapa lagu yang kusukai berkat suarmu;

Ask
Heaven Knows I’m Miserable Now
I Want The One I Cant Have
Please, please, please Let Me Get What I Want
Rusholme Ruffians
Still Ill
Stretch Out And Wait
The Boy With The Thorn in His Side
There’s A Light That Never Goes Out
This Charming Man
Unloveable
A Rush And A Push And The Land Is Ours
Death Of A Disco Dancer
Paint A Vulgar Picture
I Won’t Share You

(The Smiths)

Everyday Is Like Sunday
My Love Life
Now My Heart Is Full
The More You Ignore Me, The Closer I Get

(Morrissey)

Terima kasih telah mengantarkan sepotong bahagia dari sepenggal lagu-lagu yang pernah terputar di telingaku.
Terima kasih sebab suaramu tlah menjadi teman perjalananku sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu sampai Depok yang macetnya ampun-ampunan itu.
Terima kasih, Mozz, your voice mean a lot to me. Xoxo.

[PUISIK] Bookends by Simon & Garfunkel


Time it was
And what a time it was, it was
A time of innocence
A time of confidences

Long ago it must be
I have a photograph
Preserve your memories
They’re all that’s left you

Waktu berlalu bersama ingatan
yang ketika hujan kerap berlarian
Secepat itu waktu bergulir
Bersama detik-detik yang mengalir

Tiada yang lebih deras daripada kenangan
Kecuali jumlah butir hujan
Sayang, semua rapi dalam rak buku
juga album foto-fotomu

Kita ialah sepasang waktu yang berlalu
Ditiadakan takdir secepat ia membalik telapak tangan
Waktu yang berlalu, tetap menjadi masa lalu
Meski doa tak bisa diukur oleh panjang lengan

Tiada yang dapat mengembalikan detik
Pun engkau yang sedang membual; aku cinta mati padamu
Nyatanya kau pergi meninggalkan lagu patah hati berlirik
Kemudian kau hanya menjadi tamu

Masa lalu biarlah masa lalu
Ini bukan lagu Inul Daratista
Tapi takdir memang berjalan semestinya
Apa yang seharusnya ada tidak dibiarkannya berlalu

Lalu kita, tetap kita
Sepasang waktu yang dibiarkannya berlalu

Depok, 28 Januari 2015

[CERPEN] Melepasmu – Drive


PRAAAANGGG!

Piring di dapur pecah satu-satu. Andita melemparkannya sebagai bentuk amarah yang seringkali tak terkendali. Perempuan itu menangis, sementara tangannya sibuk meraih piring, gelas lalu melemparkannya ke mana saja. Ke lantai, ke tembok. Meretakkan sunyi yang terjadi berjam-jam lalu.

“Andita, hentikan!” aku menarik tubuhnya menjauh dari rak piring. Tangannya meronta. Perempuan itu terus saja menangis.

“Brengsek kamu, mas! Kamu selingkuh kan? Iya kan?” PRAAANGGG! satu piring dibanting lagi ke depan wajahku. Air matanya leleh serupa lilin yang dibakar api. Bahunya terguncang sebab tangisannya yang memilukan.

Kegusaranku semakin menjadi, kutarik tangannya, tak peduli perempuan itu akan meronta atau mencakar lenganku. Andita sudah kelewatan! Beling-beling gelas dan piring yang berserakan di lantai, kulewati begitu saja tanpa peduli goresannya akan melukaiku dan kaki Andita. Dia sudah kelewatan membuatku muak!

“Mas,lepas, Mas! Brensek kamu, mas! Bajingan!” makinya terus-terusan. Kalau aku bisa tega, mungkin aku bisa menamparnya karena ucapannya yang tak pantas. Tapi aku tak sampai hati melakukannya.

“DIAM! Kamu sudah kelewatan, Dita!” aku mencengkram tangannya. Dita masih menangis sesegukan. Berteriak kesakitan, aku tidak peduli lagi.

“Sakit, mas, lepas!” perempuan itu terus meronta di depanku.

Setelah keluar dari dapur, aku melepasnya.

“Kenapa kamu melakukan itu semua?” tanyaku gusar. Mataku menatapnya tajam, sementara dia masih sibuk menangis.

“Harusnya aku yang bertanya begitu sama kamu, mas!” suara Dita meninggi. Tatapannya tak kalah tajam.

“Apa? Apa yang mau kautanyakan? Apa lagi yang mau kautuduhkan?”

Dita terdiam. Wajahnya membuang muka. Masih menangis.

“Kamu selingkuh! Iya kan?” suara Dita makin meninggi. Perempuan itu sekarang sudah berani mengarahkan telunjuknya ke wajahku.

“Bukti dari mana? Kamu jangan asal menuduh ya?!” Aku semakin gusar. Pertengkaran itu tak lagi dapat terelakan lagi. Andita sudah keterlaluan. Semakin hari, semakin muak saja aku padanya. Perangainya dari dulu tak berubah, sikap cemburunya pun sama.

Dengan gontai langkah Dita menuju kamar, lalu kembali lagi bersama buntalan kemeja putih yang kemarin malam kukenakan.

“Ini apa, mas? APAAA?” Dia melemparkan kemeja itu ke depan wajahku. Pada bagian kerah, aku melihat noda merah muda itu. Noda lipstick perempuan.

“Cium, kemeja itu, mas. CIUM!!” kini Andita menjejalkan kemeja itu ke hidungku. Sekilas, terhirup bau yang asing. Wangi parfum perempuan.

Aku menelan ludah. Habislah sudah, riwayatku.


Perempuan di depanku kini tengah sibuk melepas dasi di kemejaku. Dengan senyum yang terlampir di wajahnya, dia mampu menghapus segala lelah juga kerumitan-kerumitan yang sedang kualami. Aku mengecup keningnya. Debar ini masih utuh untuknya. Belum pernah berkurang sedikit pun. Perempuan itu tertawa.

“Aku rindu kamu, mas.” katanya masih dengan melepas dasi lalu disusul membuka kancing kemejaku.

Kukecup kening itu untuk kedua kali. “Aku juga.” kataku sambil tersenyum. Sudah hampir satu minggu kami tak bertemu lagi. Kesibukan di kantorku, dan urusan yang kian meruncing di rumah, membuatku jarang menemuinya. Dia tersenyum samar. Rambutnya yang lurus dan kemerah-merahan nampak makin menggodaku di kala malam seperti ini. Perempuan itu kini dibalut kemeja putih yang kebesaran di tubuhnya, saking kebesarannya, celana pendeknya pun tertutupi dengan itu. Aku selalu suka bila dia menyambutku dengan penampilannya yang seperti itu; membuatku merasa semakin tertantang untuk mencintainya.

Kancing itu hampir habis ia lepaskan. Lalu dia memajukan tubuhnya untuk melepas kemejaku. Sekilas, tercium aroma tubuh yang bercampur parfum yang sering ia kenakan; aroma yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Aroma yang sampai kini terus kuingat; cinnamon. Aroma yang tak pernah gagal menghangatkan tubuh dan ingatanku.

Beberapa menit kemudian, tubuhku dan tubuhnya sudah saling berhadap-hadapan. Siap untuk saling mencintai dari posisi yang berlawanan. Atas-bawah. Kuturunkan bibirku sedikit untuk mencium bibirnya yang lembut. Bibir yang dulu hanya membayangiku lewat mimpi. Bibir yang pernah kuterka seberapa lembut rasanya. Kini aku merasakannya. Tekstur bibirnya, tarikan bibir yang saling berpagut, harum liurnya, dan seberapa manis ludah yang saling kita tukar.

Malam ini angin tak mampu lagi mengeringkan tubuh kita yang saling basah. Dinginnya udara malam tak dapat lagi menyentuh kita yang sedang membara dalam lenguhan yang panjang. Suara burung hantu ataupun jangkrik tak terdengar, lenyap oleh suara rintihan dan bunyi-bunyian yang lain. Kita sepasang dosa yang sedang melawan arus takdir yang begitu kejam. Kita sepasan do’a yang tak pernah terkabul, lalu berontak dengan dosa-dosa yang sedang kita perbuat.

Satu tarikan napas terdengar lebih mirip seperti lenguhan.

“Aku….hh…mencintaimu…” bisiknya lembut.

“Aku..juga….hh..” balasku. Kucium lagi bibirnya. Untuk kali terakhir di malam ini. Aku, sungguh-sungguh mencintaimu, lanjutku dalam hati.


Andita sudah menungguku di depan pintu ketika aku baru saja masuk ke dalam rumah. Wajahnya tersenyum. Berbinar-binar. Ini kejadian langka. Biasanya, dia selalu memamerkan wajah muak, kesal, bosan, marah ketika aku sampai di rumah. Tapi ini berbeda. Wajahnya tersenyum. Bibirnya menyungging senyum paling lebar. Dan aku, pernah jatuh cinta dengan senyumnya yang seperti ini.

Berbeda dengan malam satu minggu sebelumnya, ketika dia heboh membanting hampir seluruh perkakas makan di dapur, malam ini Andita terlihat cantik sekali dengan senyum menawan yang pernah memikat hatiku dulu. Akhirnya, selama berbulan-bulan, aku menemukan oase di tengah gurun pasir. Aku menemukan sedikit harapan atas kacaunya rumah tanggaku belakangan ini.

“Mas…sudah pulang? Aku menunggu kamu dari tadi, lho..” katanya lembut sambil melepas dasi dan kemejaku. Seingatku, ini kali pertamanya dia lakukan sejak pernikahanku satu tahu lalu.

“Ngg…kamu kok tumben, bun manis begini…” kataku menggodanya. Dia tersenyum, matanya menyimpan banyak rona bahagia.

“Aku cuma mau jadi istri yang baik buat kamu, mas.” katanya lembut. Lalu tubuhnya memelukku. Seperti ada yang salah, dia memelukku lama sekali. Seakan takut kehilangan aku.

“Mas, aku hamil.” ujarnya senang.

Seperti tersengat ribuan lebah, aku terpaku. Terkejut dengan kalimat yang baru saja diucapkan perempuan yang sedang memelukku ini. Andita hamil. Ini jelas kabar baik buat keluarga kecilku. Segelintir rasa gembira ikut hadir dalam benakku. Andita hamil. Artinya, sebentar lagi aku akan menjadi Ayah seutuhnya untuk calon bayi mungil yang belum bernama itu.

Namun segelintir rasa cemas juga turut hadir di pesta kecil itu.

Ingatan tentang seorang perempuan.

Riana. Perempuan berambut lurus kemerah-merahan. Perempuan yang gemar mengenakan kemeja longgar tiap kali aku datang. Perempuan yang selalu menungguku dalam flat nomor 56 di apartemen bergengsi di bilangan Jakarta. Perempuan yang selalu menungguku sejak dulu. Perempuan yang aku cintai. Sejak dulu. Jauh sebelum Andita hadir di hidupku. Perempuan beraroma cinnamon.


Malam, pukul sebelas waktu Indonesia bagian barat.

Hujan mengguyur Desember setiap malam. Hujan yang selalu dijadikan alas kaki untuk terhindar dari beling-beling. Hujan yang kerap dijadikan alasan demi dosa-dosa yang indah dan direncanakan.

Basah kuyup, tanpa payung, aku berlari menuju gedung apartemen Riana dari tempat parkir mobil. Derap langkahku bergetar, memasuki kotak bernamakan lift dan menekan nomor lantai tempat di mana Riana menungguku.
Setiap bunyi lift, tanda satu-satu lantai telah dilewati ialah bunyi lain dari kecemasan yag satu-satu ikut membuncah di dadaku. Kita semakin dekat dengan kesedihan, bisikku dalam hati.

Tokk..tokk..tok..

Kuketuk pintu flatnya tergesa-gesa. Tak ada jawaban. Kuketuk lagi untuk kedua kali. Tak lama pintu terbuka.
Perempuan berdiri dengan mata bundarnya yang kelihatan terkejut, sebab aku tak mengatakan akan datang. Kemudian dia tersenyum lebar, sambil bibirnya rewel karena tak bilang akan datang dan karena tubuhku yang kini kuyup kebasahan.

“Kamu kok nggak bilang mau ke sini. Mau bikin kejutan ya? Kebiasaan kamu mah bikin aku terkejut terus. Aduh…baju kamu basah banget. Aku ambilin bajumu di lemariku, ya?” katanya rewel. Aku hanya menatap punggungnya yang makin berlalu menuju kamar, megambil sepotong bajuku yang ia simpan di lemarinya. Untuk mengobati rindu, katanya.

“Tidak usah, Ri. Aku hanya sebentar.” kataku menghentikan langkahnya. Dia menoleh.

Lho, sebentar? Ada apa, mas?” tanyanya sambil kembali menghampiriku. Aku menarik napas panjang. Rasanya berat sekaligus sesak.

“Ri…aku bingung memulainya dari mana..” aku tak berani menatapnya yang duduk di sampingku dengan wajah bertanya.

“Ada apa, mas? Kabar buruk?” tanyanya menebak. Tangannya kini sibuk mengusap punggungku. Mencoba menenangkanku. Percuma, semakin ia membelaiku, semakin sedih aku mengatakan ini padanya.

Aku mengangguk. Sebagai jawaban, ya ini kabar buruk. Sekaligus gembira di lain sisi.

“Istriku hamil, Ri…” desahku pelan setelah jeda yang lumayan panjang. Hening. Tak ada yang keluar baik dari bibirku maupun bibir lembut Riana.

“Bukankah itu kabar baik?” tanyanya. Aku menoleh. Memberanikan diri menatap wajanya yang sedang tersenyum. Walau aku tahu di sana terselip kesedihan yang sangat kentara.

“Di satu sisi, memang kabar baik. Tapi, Ri..” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Hening lagi. Kata-kataku menggantung bagai do’a yang tak pernah terjawab.
“Aku tak bisa meneruskan ini..” kataku akhirnya. Ucapan selamat tinggal yang buruk.

Riana melepas tangannya dari punggungku. Kemudian dia sibuk memandangi jari-jemarinya sendiri di pangkuan.
“Aku sudah tahu ini akan terjadi pada kita, mas..” ujarnya pelan. Kepalanya terus menunduk. Menahan tangis yang tak ingin ia tumpahkan, kurasa.

“Takdir memang tidak pernah menginginkan kita.” lanjutnya sedih. Aku masih menatapnya yang kini tenggelam dalam lamunan dan lipatan buku-buku di jarinya.

“Aku mencintaimu, Ri…” aku mengatakan lagi kalimat serupa berulang kali padanya.

“Aku tahu.” balasnya singkat. Masih menundukan kepala.

“Tetapi itu cukup. Aku tidak ingin mencintaimu lebih jauh lagi. Aku tidak ingin melukai kita semakin dalam.”

“Aku paham…” balasnya. Kali ini dengan suara tangis yang samar terdengar.

“Ri….” aku memanggilnya. Kita sama-sama hening dalam ramai di kepala kita masing-masing. Saling mengumpat, mengapa takdir harus setega ini memisahkan dua hati yang tak pernah bisa menyatu. Mengapa takdir harus membiarkan dua hati saling terluka dengan cintanya. Cinta yang katanya agung. Cinta yang katanya bisa membahagiakan hidup seseorang. Namun yang kurasakan, justru sebaliknya.

“Lepaskanlah aku selagi sanggup, mas. Sebelum cinta membuatmu lupa jalan pulang.” gumamnya pelan.

“Aku bukan rumah yang disediakan takdir untukmu, pulanglah. Lepaskanlah aku. Kita memang seharusnya tidak memulai ini.” lanjutnya lagi. Kudengar, tangisnya semakin kentara. Jelas. Bunyi kesedihan yang paling menyayat. Kutarik tubuhnya dalam dekapanku. Perempuan itu tak meronta sama sekali. Dia pasrah jatuh pada dadaku yang selalu lapang untuknya. Untuk tangisannya yang semakin pecah di hening malam ini. Suaranya serupa suara pecahan beling yang Andita lemparkan ke lantai ataupun ke tembok. Bunyi lain dari kesedihan dan amarah paling dalam.

Malam ini, tak ada lenguhan panjang, tak ada hasrat liar yang bergemuruh dalam dada, tak ada basah yang menyenangkan kecuali air mata kesedihan Riana di kemejaku. Malam ini, angin malam mampu menggigilkan kita yang berpeluk tanpa berpeluh, udara malam mampu membekukan hangat bara api yang dulu singgah di dadaku ketika kita berdua dalam satu ruang, dan suara burung hantu juga jangkrik terdengar lebih lantang dari biasanya. Malam ini, aku menghirup lagi aroma cinnamon lebih panjang, lebih dalam lagi, untuk diingat dalam jangka waktu yang lama. Sekali lagi.

Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin terus bersama

Suatu saat nanti kau kan dapatkan
Seorang yang kan damping hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu

Maafkan aku
Yang membiarkanmu masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku
Yang harus melepasmu walau ku tak ingin

Semakin terasa cintamu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku

I will let you go
I will let you go

I will let you go….

-fin-

Depok, 20 Januari 2015

Nyala Lampu


Would be nice to hold you
Would be nice you to take you home
Would be nice to kiss you…

Kupuisikan kerinduanku ini,
Lewat lagu yang bisa kaudengarkan
Sebab aksaraku mati kutu ketika berhadapan denganmu
Dan huruf-hurufku ketakutan di balik senyum yang tersungging

Kudapati risau memuisikanmu di kepala
Bagimana ribuan kata rasanya tak cukup tajam
Untuk membunuhmu dalam ingatan
Dan membunuh kita dalam angan dan harapan

Suatu kali kutemukan diriku tenggelam,
Dalam menyentuh dasar palung;
Aku menemukanmu di sana sebagai satu-satunya lampu
Tak pernah padam meski air mataku seringkali menderas di sana

Kini kubertanya, dalam remang lampu di tubuhmu,
Adakah tubuhku menjelma lampu di palungmu?
Lampu yang tak pernah padam meski hanya ada musim kemarau di dadamu
Lampu yang terus membuatmu mengingat hadirku.

Adakah?

Kupuiskan kerinduan ini,
Agar tak hilang dalam benak, bagaimana rasanya
Sebab mungkin di suatu hari aku akan melupakan
Rasa rindu yang menghangat di sekujur dadaku sebab engkau

Satu pesan kutulis di ujung puisi,
Kalimat yang kupinjam dari bibir sebuah lagu,

Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku

Sekacau apa pun cuaca di dadamu,
Tetapkanlah aku sebagai lampu di palungmu,
Agar rinduku ini sampai dan menjelma hangat di sana.

Depok, 18 Januari 2015

Nyala Lampu


Would be nice to hold you
Would be nice you to take you home
Would be nice to kiss you…

Kupuisikan kerinduanku ini,
Lewat lagu yang bisa kaudengarkan
Sebab aksaraku mati kutu ketika berhadapan denganmu
Dan huruf-hurufku ketakutan di balik senyum yang tersungging

Kudapati risau memuisikanmu di kepala
Bagimana ribuan kata rasanya tak cukup tajam
Untuk membunuhmu dalam ingatan
Dan membunuh kita dalam angan dan harapan

Suatu kali kutemukan diriku tenggelam,
Dalam menyentuh dasar palung;
Aku menemukanmu di sana sebagai satu-satunya lampu
Tak pernah padam meski air mataku seringkali menderas di sana

Kini kubertanya, dalam remang lampu di tubuhmu,
Adakah tubuhku menjelma lampu di palungmu?
Lampu yang tak pernah padam meski hanya ada musim kemarau di dadamu
Lampu yang terus membuatmu mengingat hadirku.

Adakah?

Kupuiskan kerinduan ini,
Agar tak hilang dalam benak, bagaimana rasanya
Sebab mungkin di suatu hari aku akan melupakan
Rasa rindu yang menghangat di sekujur dadaku sebab engkau
Satu pesan kutulis di ujung puisi,
Kalimat yang kupinjam dari bibir sebuah lagu,

Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku

Sekacau apa pun cuaca di dadamu,
Tetapkanlah aku sebagai lampu di palungmu,
Agar rinduku ini sampai dan menjelma hangat di sana.

Depok, 18 Januari 2015

[CERPEN] Tentang Cinta – Ipang


Aroma pagi selalu sama di bulan Januari; kopi yang mengepul di teras depan, juga aroma hujan yang merembes di permukaan aspal. Benda-benda yang diletakkan di meja teras depan selalu sama; koran pagi, kopi, dan rokok. Pun, lagu yang terdengar sepasang indera pendengar juga sama; tetangga sebelah yang hampir setiap hari memutar tigapuluh enam lagu yang sama. Ya, aku menhitungnya. Seperti pagi ini, sound system di rumahnya yang terputar kencang-kencang, terdengar sampai rumahku. Awalnya memang sedikit membuatku terganggu, tapi karena lagu-lagu 90-2000’an yang diputarnya, alih-alih sebal, aku malah menyempatkan mendengar lagu-lagunya demi mengingat seorang perempuan di masa lalu. Mengenang Adinda, perempuanku lima tahun yang lalu.

We always remember someone that we can’t have. Agaknya, kalimat bule tadi pantas menggambarkan hubunganku dengan Adinda, atau panggilan kesayanganku padanya, Dinda. Perempuan yang tidak bisa aku miliki. Bukan. Bukan karena perempuan itu jual mahal atau kecantikannya di luar batas sehingga menolakku mentah-mentah. Tapi karena keadaan. Atau mungkin, karena memang waktu yang mengacaukan hubunganku dengannya. Atau bisa saja takdir yang menggarisinya begitu.

Aku teringat di mana Dinda datang ke hidupku. Setelah putus dengan mantan kekasihku, Bian, Dinda hadir sebagai penyelamat diriku dari keadaan patah hati yang kronis. Dinda hadir bersama senyum dan mata polosnya yang aduhai membuatku jatuh cinta setengah hidup. Dia seperti pelangi yang dijanjikan langit setelah hujan badai bertubi-tubi, berhari-hari. Oh, Dinda...
Suatu hari, hubunganku dengannya selancar orang yang bermain sepatu roda di aspal yang licin tanpa ada lubang. Kami sms-an, teleponan, janjian di suatu tempat, dan bersenang-senang. Untuk yang di bagian terakhir, itu jarang dilakukan karena jarak kotaku dan kotanya lumayan jauh untuk ditempuh setiap hari atau bahkan mingguan.

Sampailah hari di mana yang kutunggu-tunggu itu datang juga. Hari penembakan. Jauh-jauh dari Jakarta, aku menemuinya ke kotanya. Bogor. Yaelah, Jakarta-Bogor mah deket ya? Maklum, saat itu masih jadi mahasiswa semester pertama. Duit masih minta orang tua, tugas kuliah terus menghujani hari-hari.
Hari itu, kuingat betul hari selasa. Aku lagi libur kuliah, dia juga. Aku mengajaknya bertemu di Taman Topi. Mengobrol saja sambil menikmati suasana Bogor yang gerimis tipis-tipis. Bersama satu cangkir kopi, satu cangkir lagi cappuccino, dan dua piring pisang bakar cokelat-keju, aku berbincang-bincang santai dengannya. Dilatari suara rintik-rintik hujan dan suasana sore yang teduh.

“Nda, emm...” Pernyataan cinta itu tertahan di ujung bibir. Mata polosnya memandangiku. Membuat debarku makin tak karuan.

“Kenapa, Bar?”

“K..kamu…emm..” Sumpah, ini bagian tertolol yang sepanjang hidupku ingin aku tertawakan. Kegugupan bocah laki-laki menyatakan cinta. Aku tertawa sendiri mengingatnya.

Aku menyatakan cinta saat itu. Memintanya untuk jadi kekasihku. Tidak perlu aku ceritakan dialognya di sini. Cukup memalukan untuk dibaca. Dan, bisa terlalu panjang nanti. Intinya, dia bilang, dia butuh waktu untuk menerimaku (baca : dia menolakku secara halus). Dia bilang, dia belum siap sama sekali untuk terikat hubungan dengan seseorang. Atau lebih tepatnya, dengan laki-laki sepertiku. Bodohnya kubilang saat itu adalah,

“Aku akan menunggu sampai kau siap.” kataku. Duh, kedengarannya menggelikan sekaligus romantis sekali ya…

Benar. Aku memang menunggunya. Lama sekali. Saking lamanya, aku sampai hilang kontak berbulan-bulan dengannya. Sampai akhirnya aku bertemu lagi dengan Bian. Mantan kekasihku. Awalnya, bertemu Bian sudah biasa saja, toh aku masih ingin menepati janjiku pada Adinda. Menunggunya. Namun lama-kelamaan, menunggu Adinda menjadi agenda yang tak pasti. Rutinitas yang bodoh. Kehadiran Bian justru malah memunculkan kepastian.
Akhirnya, bisa ditebak, Aku dan Bian rujuk lagi. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Bian sungguh hebat bisa menaklukanku dua kali. Bisa membuatku ingkar janji pada Adinda.

Dan Adinda, kabarnya waktu dekat ini, dia akan melahirkan anak pertamanya. Iya. Dia sudah menikah dengan laki-laki lain yang (mungkin) lebih sabar menunggunya, lebih tahan dari godaan mantan, dan lebih bertanggung jawab pada janjinya. Dengan laki-laki yang memang jodohnya. Dan bukan aku. Bukan.

Cangkir kopi di teras depan sudah hampir habis, tersisa ampas-ampas kopi. Rokok pun sudah habis dua batang. Hujan makin lama makin deras. Playlist lagu yang diputar tetanggaku kini sudah sampai di lagu ke-24. Ya, aku menghitungnya. Bukan lagu lama sih, tetapi lagu ini yang paling bisa membangkitkan ingatanku tentang Dinda. Perempuanku lima tahun lalu. Perempuan yang tak bisa aku miliki.

Tentang Cinta – Ipang

Sekilas tentang dirimu
Yang lama kunanti, memikat hatiku
Jumpamu pertama kali
Janji yang pernah terucap
Tuk satukan hati kita,
Namun tak pernah terjadi

Mungkin kah masih ada waktu
Yang tersisa untukku
Mungkinkah masih ada cinta di hatimu?
Andaikan saja aku tahu, kau tak hadirkan cintamu
Inginku melepasmu
Dengan pelukan…

Adinda, seandainya aku tahu, akhirnya akan seperti ini, aku ingin melepasmu. Seperti yang dikatakan lagu ini, melepasmu dengan pelukan.

Mas, ayo sarapan dulu. Masakannya sudah siap, nih.” panggil Bian lembut. Mantan kekasihku ini sekarang sudah berdiri di ambang pintu, dengan senyum seperti biasa; senyum yang membuatku takluk berkali-kali. Perutnya kian hari, kian mebuncit sebab di dalamnya ada putra-ku yang sedang tertidur sampai suatu hari nanti terbangun dari pejam dan menatap dunia. Ya, Bian adalah mantan kekasihku, yang kini menjadi istriku.

Tentang Adinda, semua orang punya masa lalu dan kisah cinta yang belum dituntaskan waktu. Namun harus dituntaskan oleh diri sendiri.

Dan, ya. Kenyataan memang terkadang mengejutkan.

ilustrasi : weheartit

-fin-

(SPS, 17 Januari 2015)

Semua Tentang Kita


Dalam lamunan aku terisak sepi
Berjejalan di dalam sini bagaimana cerita kita bermula
Cerita yang seringkali kaulupa perihal mengapa kisah ini ada
Seringkali kaulupa jumlah tawa juga angka tangisan kita

Ketika rajutan kata perpisahan itu selesai
Kau rangkai, selimutilah aku dengan itu
Sebab hangat merupa air mata di balik untaian kata
Serangkaian ucapan selamat tinggal yang haru

Berikutnya, kisah ini menjelma raga-raga yang tak nyata
Waktu-waktu yang berjalan mundur ke belakang
Barangkali sebagai pengingat, bahwa pernah ada kita
Walau hanya di batas garis temu-dan-pisah, tinggal-dan-pergi

Semua tentang kita barangkali kini tlah terbaring
Di suatu tanah merah yang lapang menyimpan kenang
Mengubur suara tawa yang disirami air mata kepedihan
Menisankan huruf-huruf yang membentuk nama masa lalu

Kau petik gitarmu tuk terakhir kali
Aku mengingatnya sebagai melodi patah hati
Di mana kau lantunkan kegetiran juga sunyi yang melatari
Di mana ucapan selamat tinggal terdengar lebih suci

Dalam lamunan aku terisak sepi
Berjejalan di dalam sini bagaimana kita memaknai hadir-dan-pergi
Hal yang seringkali kita lupa bahwa yang hidup pasti akan mati
Dan kisah kita, katamu, hanya sampai di sini

(SPS, 14 Januari 2015)

[CERPEN] Ketidakwarasan Padaku – Sheila On 7


Aroma obat-obatan menjalari indera penciumanku. Sejak kecil aku membenci aroma ini. Semenjak nenekku meninggal, karena sakit-entah apa- yang tega membunuh nenekku, aku  jadi membenci aroma rumah sakit yang kental dengan bau obat dan cairan yang entah-apa aku tidak tahu. Bau-bau mereka sungguh tak enak, membuatku muak. Membuatku seolah-olah disekap oleh duka yang berkepanjangan.

Suara rintik-rintik hujan terdengar pelan, berirama. Lembut menggoda telingaku. Tapi ini lebih terdengar mencekam daripada bermelodi. Ini adalah kali pertama setelah kematian nenekku aku menginjak lagi gedung bernuansa putih-hijau, beraroma duka dan kabung. Ya, aku di rumah sakit. Terbaring lemah tak berdaya. Tanganku yang kurus harus dijejali selang kecil, dan jarum-jarum kecil itu seolah berebut untuk masuk ke dalam tubuhku. Dan hidungku kini tertutup oleh plastik serupa masker yang katanya dapat memasok oksigen ke dalam paru-paruku. Entah apa yang terjadi sebelum ini, aku tidak mengingat apa-apa lagi selain ingin mencari keberadaanmu. Dianka. Kau ada di mana? tanyaku dalam hati. Tentu saja aku tak bisa mencarimu dalam kondisiku yang sedang dalam keadaan seperti ini. Aku sekarat!


“Dianka, kamu sudah makan? Jangan sampai telat makan, Dianka, aku tidak mau kamu sakit.” Ujarku berbisik. Sedang yang diajak bicara hanya diam saja.

Berbulan-bulan terbaring di rumah sakit karena koma membuatku rindu sekali dengan perempuan yang tlah menemani hidupku dua tahun belakangan ini. Dianka, kekasihku. Entahlah perempuan ini merindukanku juga atau tidak, setahuku setelah aku pulang dari rumah sakit, wajahnya selalu menyambutku dengan datar. Tanpa berekspresi. Seringkali kutemukan wajahnya termangu sedih menatapku.

Ini adalah hari ke delapan aku berada di rumah. Dianka selalu menemani ke manapun aku pergi. Dia sama sekali tidak rewel bila aku memintanya mengobrol banyak hal, sama sekali tidak mengeluh bila aku menumpahkan segala kerinduanku padanya. Dianka akan senang hati mendengarkanku bicara, dan dia akan patuh seperti itu selama aku bercerita. Dianka adalah satu-satunya perempuan yang membuatku merasa didengar. Dia, satu-satunya pendengar yang baik untukku.

“Dimas, itu makanannya habiskan dulu. Buburnya nanti keburu dingin.” suara Mama yang lewat di depan kamarku mengagetkanku.

“Iya, ma. Ini lagi mau makan bareng Dianka.” jawabku singkat sambil menyendoki bubur ayam yang baru saja dibeli Mama. Lalu setelah itu, tidak terdengar apa-apa lagi.

“Dianka, ayo dimakan. Kamu pasti belum makan pagi dari rumah kan? Kamu kan selalu malas untuk sarapan. Sekarang, sarapan ya?” Dianka, kau tidak menjawab apa-apa lagi. Tapi kulihat tanganmu kemudian menyendoki bubur ayam itu kemudian memakannya tanpa banyak cakap. Malah, tanpa berkata apa-apa. Aku tersenyum menyaksikanmu begitu.

“Bagaimana buburnya? Enak tidak? Makanya, kalau tidak enak lebih baik kamu masakin aku yang lagi sakit bareng mama. Mama itu jago banget masak. Kamu harus belajar masak sama beliau. Biar ketika kita menikah nanti, anak-anak kita akan bilang seperti itu juga pada kekasih mereka.” Aku tersenyum. Kau juga. Mimpi yang indah.

“Kau tahu, Dianka? Aku mencintaimu. Aku ingin menikahimu.” Kau tersipu.

Bubur di mangkukku sudah habis, bebarengan dengan mangkuk yang digenggam Dianka. Sudah sama-sama kosong. Kita berdua kemudian hanya diam. Saling menatap. Wajahmu sedih sekali entah mengapa seperti itu. Namun terkadang, kau juga tersenyum manis sekali seperti tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu membuatmu murung.

“Dimas, buburnya sudah habis?” Mama masuk ke dalam kamarku, mengambil mangkuk bubur dan dibawanya ke belakang.

Tubuhku rasanya masih sakit semua. Komanya aku berbulan-bulan ternyata tidak cukup memulihkanku sehingga apa-apanya harus diurus oleh Mama. Seingatku, Mama menceritakan segala kejadian sebelum aku koma di ranjang rumah sakit yang berbau obat-obatan itu. Katanya, di malam tahun baru lalu, sepulang dari ancol, aku mengalami kecelakaan parah. Mobil Avanza berplat nomor B -bla-bla-bla aku tidak ingat, menabrak motorku kencang hingga aku terpelanting sejauh tiga meter dengan kondisi helm telah lepas dari kepalaku. Itulah yang membuatku koma berbulan-bulan. Untungnya, sum-sum tulang belakang yang kondisinya hampir membuatku mati, masih bisa dipulihkan dengan beragam pengobatan yang dilakukan oleh tim medis.

“Kau tahu, Dianka? Aku bersyukur masih bisa diberi napas oleh Tuhan, dan masih bisa melihatmu baik-baik saja. Padahal, seingatku, kau juga bersamaku ketika malam tahun baru itu.” Dianka tersenyum tipis. Lebih mirip seringaian.

“Aku bersyukur masih bisa melihat senyummu yang begitu. Cantik.” Dianka masih tersenyum. Pipimu merah jambu. Cantik sekali, Dianka.

“Tapi sepanjang kita bertemu mengapa kau diam saja?” Aku bertanya. Heran. Dianka yang biasanya ceriwis tiba-tiba jadi pendiam setelah kecelakaan itu. Setelah aku pulang dari rumah sakit. Apa tragedi itu terlalu memukulmu, Dianka? Sehingga merenggut segala jiwa keceriaanmu dan juga suaramu yang dulu seringkali rewel?

“Dianka, jangan hanya diam saja. Tolong. Aku rindu suaramu. Bicaralah.” Dianka menatapku sedih. Bukan senyum manis itu yang dia tunjukan lagi. Kini murung yang menjawab permintaanku.

“Dianka, jawab aku!” Namun Dianka hanya diam saja.

Aku kesal. Akhirnya aku keluar dari kamarku. Meninggalkanmu sendirian dalam kamar.  Sedang kau masih diam memandangi punggungku tanpa mencegahku atau berbicara sepatah-dua-patah kata.

Aku terduduk pada kursi kayu jati di teras depan. Menunggumu untuk membujukku masuk ke dalam kamar lagi dan mengajakku berbicara. Tetapi tak lama kemudian, aku melihatmu di depanku. Berdiri dengan gaun biru mudamu. Tersenyum. Cantik sekali. Seketika saja marahku menguap entah ke mana, rasa kesalku pun juga.

Tubuhku berdiri, bangkit dari dudukku. Lalu menghampirimu yang tersenyum. Aku kemudian menghambur ke pelukanmu. Tubuhmu yang ingin terus kurengkuh dalam tubuhku. Aku memelukmu erat sekali. Erat. Aku sangat merindukanmu. Sangat. Teramat. Namun ada hal yang ganjil di kepalaku ketika aku memelukmu. Mendekap erat-erat tubuh yang kurindukan. Aromamu berbeda. Bukan lagi aroma cherry blossom. Parfum kesukaanmu. Kau kini lebih beraroma seperti daun jambu. Namun tak apa, aku tetap suka wangi apa pun yang menguar dari tubuhmu, Dianka.

“PRAAAANNNGGG” suara ribut itu tercipta dari depan pintu rumahku. Kulihat Mama berdiri di situ dengan tatapan takjub. Gelas berisi teh, dan kaleng berisi biskuit tumpah di kakinya berhamburan menjadi beling-beling. Aku menatapnya heran.

Setengah berlari, Mama menghampiriku, menangis,

“Dimaaaasss…..kamu ngapain Nak meluk-meluk pohon?!” Ujar Mama sambil menarik tanganku menjauh darimu. Dianka, kau dibilang pohon sama Mama!

“Ma, itu Dianka, bukan pohon!” Sergahku marah. Mama masih menatapku dengan airmata yang terus turun di pipinya.

“Dianka sudah mati, Nak.”

Seperti ditampar tangan Tuhan, mataku membeliak. Kata Mama, kau sudah mati Dianka? Padahal lihat, kau masih ada di sampingku. Tersenyum. Baik-baik saja. Dianka masih hidup! HAHAHAHA Mama mau menipuku? Jelas-jelas Dianka masih hidup! HAHAHAHAHA… Siapa yang gila? Siapa? HAHAHAHAHAHA.

ilustrasi : weheartit

-fin-

13 Januari 2015

[CERPEN] Untuk Perempuan – Sheila On 7


Mataku mencoba terpejam. Namun setiap gelap menghampir, ingatanku selalu melayang ke waktu silam. Waktu di mana masih ada kita. Waktu di mana kenyataan adalah bahagiaku. Bukan sedih seperti malam ini. Kubangkitkan tubuhku, menepuk-nepuk bantal, lalu menghempaskan tubuh lagi. Berharap dengan begitu, aku bisa langsung tertidur. Tapi tidak. Setiap aku terpejam, kau tahu apa yang aku rasakan? Kau. Iya. Kau di sini, di depan mataku sambil mengatakan kalau kau juga rindu padaku.
Ya, memang. Itu hanyalah khayalanku saja. Khayalan yang menyakitkan!

Jam dinding yang menggantung di atas meja kerjaku menunjukan, ini pukul sebelas malam. Perasaanku, tadi di kantor aku sama sekali tidak menenggak kopi hari ini. Mengapa aku jadi sulit tidur begini?

Ah, aku menyerah saja. Memaksa mataku terus terpejam membuat mataku pegal. Langkahku berjalan ke ruang tamu. Mengambil sesuatu. Radio mungil. Ini obat mujarabku bila susah tidur seperti malam ini. Tetapi biasanya, bila aku susah tidur, itu artinya aku habis mengonsumsi dua-tiga cangkir kopi seharian. Tapi hari ini aku tidak menyesap cairan itu sama sekali.

Jariku mulai melakukan ritual biasanya; memencet-mencet tombol kecil di bagian depan radio untuk mencari saluran. Nah, dapat! Lumayan buat mengusir rinduku padamu. Hehe.. aku mencoba menghibur diri. Saluran itu satu-satunya saluran radio yang suaranya jernih di radio kecilku. I-radio fm. Aku juga suka mendengarkannya di mobil selama perjalanan.

“Balik lagi di Sheila On 7 Sabotase Iradio.” Ah, kebetulan sekali. Sudah lama rasanya tidak mendengar lagu-lagu mereka. Banyak lagu-lagu dari Sheila On 7 yang menggambarkan kita, dulu. Kau ingat tidak? Kau dulu pernah menyanyikan lagu KITA-nya SO7 di masa-masa PDKT lewat telepon. Ingat? Sepertinya, tidak.

Terakhir kau pergi, bahkan kau bilang padaku, “Jangan menungguku. Jangan mencariku. Jangan pikirkan aku lagi.” katamu. Aku menangis saat itu pun kau tak peduli.

Jangan mengejarnya
Jangan mencarinya
Dia yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatinya
Di hari yang tepat

Lagu itu mengalun pelan di telingaku. Denting gitar akustik, dan suara Duta yang mendayu-dayu membuat perasaanku biru lagi. Mengingatmu. Dalam hati, bertanya-tanya sendiri, apa kau akan menemukanku lagi? Apa aku mekar di hatimu? dan kapan hari yang tepat itu? Aku sudah tidak sabar lagi menunggunya. Menunggumu.

Jangan mengejarku
Jangan mencariku
Aku yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatiku
Di hari yang tepat

Lirik itu mengalun lagi. Tuk keduakali. Duta memakai kata ganti dia menjadi aku. Aku langsung teringat kamu. Ah, memang daritadi apa yang sedang aku lakukan sepanjang lagu ini diputar? Mengingatmu saja, kan? Senyumku sedikit naik. Mengingat katamu. Kata-kata yang sama seperti yang baru saja Duta lantunkan. Jangan mencariku, katamu. Ingat?

Bukanlah cinta
Bila kau kejar
Tenanglah tenang, dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu

Bukanlah cinta bila kaukejar. Aku tersenyum. Ini cinta, Re. Untukmu. Aku tidak akan mengejarmu. Aku menunggu. Merawat tabah. Memang apa lagi yang bisa aku lakukan, selain merawat tabah setelah pergimu? Tidak ada.
Tenang, tenang, Rani, tenang. Dia akan kembali. Dia akan memungutmu lagi ke hatinya yang terdalam. Dia bahkan takkan bertahan tanpamu, Rani, hiburku dalam hati. Re, benarkah itu?

Takdir yang kan menuntunmu
Pulang kepadaku
Di hari yang tepat

Takdir yang kan menuntunmu pulang, Re, dengar itu… bisikku pelan pada udara sebelum mataku akhirnya terpejam. Sambil mengingatmu, selalu.

***

Di ruangan yang berbeda, pukul sebelas malam lewat yang sama, kota yang sama, saluran radio yang sama,

Rani, apa kau sudah tertidur? Aku baru saja mendengarkan lagu Sheila On 7 berjudul Untuk Perempuan di radio mobilku. Aku baru saja memasuki kawasan kota Jogja lagi. Aku pulang, Rani.

Dua tahun aku meninggalkanmu pergi ke Jakarta untuk meneruskan kuliah dan bekerja di sana. Tidakkah kau rindu padaku? Rani, kau sedang apa?

Teringat kata-kata terakhirku padamu yang pasti menyakitimu. Jangan mencariku. Jangan menungguku. Jangan pikirkanku. Maaf, Rani.

Rani, dengarkan ini,

Tenanglah tenang, aku kan datang
Dan memungutmu ke hatiku yang terdalam
Bahkan ku takkan bertahan tanpamu

Ooo…Ohooo
Aku yang kan datang!
Aku yang kan datang!
Aku yang kan datang!

Aku yang kan datang, menghampirimu!

Rani, aku pulang.
Aku yang kan datang menghampirimu!
Besok pagi, adalah hari yang tepat.

Tunggu aku, Rani…