Gadis dari Selatan Jakarta

Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima saja orang yang beruntung di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, malaikat cinta hanya berpihak pada seperlima manusia saja di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima pasangan saja di dunia ini yang beruntung. Yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama. Kau tahu dan aku tahu, kita bukan bagian dari mereka; yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama.

Sabtu pagi ini, kau tahu, aku sedang membuka-buka buku lama-ku. Masih tersimpan Poems-nya Emily Dickinson pemberianmu itu. Buku itu di tanganku sekarang. Kalau seandainya kau bertanya bagaimana kabar buku itu, buku itu sudah kumal, bagian-bagian sampul terlipat dan terkelupas, bagian dalamnya jangan ditanya, tapi jangan khawatir aku masih bisa membacanya ulang. Membaca ulang buku ini, sama saja mengenang ulang kita.

Bukan kah kau ingat di suatu sore, di halte bis dekat rumahmu, saat kau hendak menemaniku menunggu bis? Saat itu hujan agak deras dan tak ada bis menuju rumahku yang lewat. Kau membawa Poems Emily Dickinson dan kita membacanya bersama-sama hingga bisku datang, dan kau pulang berjalan kaki dengan payung merah delima. Aku menatapmu dari bis dan pandanganmu berpaling ke arahku. Kita bertatapan lewat kaca bis yang ditetesi air hujan dan rintik hujan di luar yang mulai reda. Setelah bis-ku menjauh dan kau sudah tak kelihatan lagi, aku baru saja ingat bahwa bukumu itu berada di tanganku. Sejak empatpuluh tahun berlalu. Hingga sekarang, hari ini.

Di hari naas itu, aku bilang padamu, “Poems. Emily Dickinson-mu, masih ada padaku,” tentu saja aku berharap kau memintaku mengembalikannya padamu dan kita membuat jadwal pertemuan lagi di kedai, taman, atau halte bus. Tetapi kau bilang, “Ambil saja, aku punya dua,” lalu aku angkat bahu dan pergi. Sekali itu, aku benar-benar pergi dari pintu rumahmu, atau dari kehidupanmu. Di hari naas itu, kau tak lagi mengantarku menuju halte bus dan mengatakan selamat tinggal, aku akan merindukanmu dan menunggumu lagi, atau hal-hal semacam itu.

Kopi telah diantar ke mejaku saat aku sampai di halaman ke-31, Rani melirikku dan berdeham pendek. Aku meliriknya sekilas dan kembali ke buku itu. Aku tidak pernah tertarik dengan mata perempuan mana pun selain matamu. Sejak empatpuluh tahun berlalu hingga sekarang, hari ini.

Kau ingat Anggi? Pernahkah dia bercerita padamu? Bahwa kau adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar ada di hidupku, perempuan lainnya hanya teman tidurku, teman nonton film-ku, teman minum kopi, teman mabuk-mabukan—yang dilanjutkan menjadi teman tidur. Tapi kau….

Kau tahu tidak, di antara semua jenis ‘pertemanan’, teman bercerita adalah satu yang paling istimewa; dan kau satu-satunya. Kau satu-satunya teman membaca, teman menulis, teman diskusi, dan yang paling penting, teman bercerita. Kita bisa bercerita apa saja dan di mana saja. Di kontrakanku yang sempit dan gerah, di teras warung jamu yang tidak buka 24 jam di Cikini, di halte bus yang sudah gelap dan tiada berlampu di Tanjung Barat, di depan toko listrik di Lenteng, di antara rak-rak buku di daerah Kalibata, di kolam renang dekat Pasar Minggu, di angkutan umum, atau di dalam mobil sedan tuamu yang kau bawa diam-diam untuk jalan-jalan denganku.

Kau masih ingat, di kolam renang itu? Kolam renang satu-satunya di kota itu. Pertama kali aku melihat hampir sekujur tubuhmu telanjang. Kau mengenakan bikini bekas kakak perempuanmu. Bikini itu sangat pas di tubuhmu yang memiliki lekuk pinggul paling seksi. Aku masih ingat warnanya, putih dengan garis-garis vertical yang lurus warna biru. Rambutmu yang panjang kau gerai saja hingga rambut-hitam-bergelombang-itu-menyentuh payudaramu. Aku masih mengingatnya-dengan-sangat-baik.

Barangkali kau akan mengingat kecupan kita di kolong air kaporit dan langit mendung waktu itu. Tapi bukan bagian itu yang membuat aku mengingatmu. Kau barangkali lupa atau bahkan kita sama-sama mengingat momen itu. Momen saat kita berdansa di air. Aku bersumpah, tidak akan ada pasangan seperti kita. Tidak akan ada pasangan yang berdansa di dalam air. Berdansa dengan gerak-gerak lamban karena air kaporit di antara kita. Flying and dancing, kau bilang. Dan kau bersumpah, kau tidak akan melupakan kolam renang ini.

“Aku tidak akan melupakan kolam renang ini,” katamu sambil mencelupkan kakimu ke dalam air dan menendang-nendang air seakan-akan air telah mengambilku darimu. Kau kemudian memandangku, “Dan tentunya, kamu.” Kau mengerling sedikit dan aku menciummu lama sekali. Di pinggir kolam renang yang lengang. Di bawah langit mahamendung. Dan ditetesi rintik-rintik tipis hujan Desember.

Sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Dan itulah mengapa dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh masa kecilku dan masa remajaku, membikinku jadi tulang punggung keluarga, membuatku jadi tukang minum dan pemabuk, berganti-ganti perempuan dari tempat pelacuran satu-ke-satu lainnya. Dan ketika dia mempertemukanku denganmu, barulah aku katakan pada langit, “Aku mencintaimu, takdir!” lawan kalimat yang selalu kukatakan pada langit dan Tuhan, di mana pun Ia berada.

“Aku tidak pernah mencintai hidupku sebelum kamu datang,” kataku.

“Kenapa? Hidupmu terlalu berharga untuk tidak kamu cintai,” katamu.

“Takdir tidak pernah mencintaiku.”

“Aku tidak ingin mengatakan kalau itu tidak benar. Tuhan selalu punya rencana untuk hidup kita.”

“Dengan cara menghancurkan hidupku?” tanyaku polos. Kau tertawa, tetapi bukan jenis tawa meledek.

“Barangkali begitu, tetapi Dia memperbaiki lagi, bukan? Dan membuat kau lebih baik. Dan lagi, bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku kalau kau tidak bisa mencintai dirimu sendiri?”

“Aku mencintai diriku sekarang, karena kamu telah datang.”

“Kalau begitu, jangan jadikan aku sebagai alasan kau membenci hidupmu, kelak,” kau tersenyum. Menatapku lurus-lurus. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa tidak menciummu sambil mengaitkan lenganku ke pinggulmu.

“Kau berjanji?” tanyamu.

“Janji apa?”

“Yang tadi…”

Aku tersenyum. Menyiumnya lagi.

“Janji.”

Kau mencintai Tuhan seperti kau mencintai hidupmu sendiri. Dan aku terbawa arusmu. Arus surga, kalau kataku, ketika teman-temanku dengan resek-nya meledekku karena belakangan rajin ikut kebaktian.

Aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku membenci hidupku sebagaimana aku dulu yang tanpamu. Setelah kau menutup pintu rumahmu dan kehidupanmu untukku. Setelah aku meninggalkan pintu rumahmu dan pergi dari kehidupanmu. Aku kembali membenci takdir. Ya, karena sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Setelah dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh hidupku, membikinku jadi tukang minum dan pemabuk, membuatku ke tempat-tempat pelacuran, mempertemukan denganmu—bagian ini tidak pernah aku sesalkan,—- menghadirkan pertengkaran di antara kita, membuatku mabuk lagi, membuatku ke tempat pelacuran, membuatku meniduri Rani, dan membiarkan Rani hamil dan menuntutku untuk menikahinya, dan memisahkan kau dan aku. Sudah kah kau sepakat bahwa takdir tidak pernah mencintaiku?

Kau pasti mengelak dan mengatakan, “Itu artinya takdir tidak menulis namaku di hidupmu. Itu artinya Rani lah perempuan yang Dia tuliskan,” dan kau akan melanjutkan, “Dan karena itu ibu dan kakak perempuanku melindungiku darimu,” dan kau akan melanjutkan, “Dan di hidupku, nama laki-laki yang dituliskan takdir adalah, Wijaya. Bukan namamu.”

Hidupku lesak-se-lesak-lesaknya ketika kau memutuskan untuk menikahi Wijaya di sebuah gereja dengan aksen lama di daerah Pasar Minggu. Gereja yang sering kita tunjuk-tunjuk untuk tempat kita nanti menikah, dan aku selalu menyetujuinya.

Aku menyesap kopi ketika ia sudah hampir dingin dan tidak enak. Rani tidak pernah becus membuat kopi. Dan aku telah sampai di halaman 41, aku terlalu banyak merenung.

Sabtu-masih-pagi- di luar hujan gerimis sudah turun. Beginilah Desember. Tanahmu basah, dan wangi bunga kenanga dan mawar menguar dari persemayamanmu. Aku belum sanggup menemuimu. Melayat ke pekuburanmu, dan meletakkan bunga-bunga kesukaanmu di sana. Aku tidak sanggup untuk tidak menangis dan mengakui bahwa aku masih sangat mencintaimu.

Semoga, Tuhan memberimu Poems-nya Emily Dickinson sekarang ini, dan membiarkan kita, sekali ini saja, untuk membaca buku yang sama, di alam yang beda.

Aku selalu mendoakanmu, di malam tergelapku,
Aku selalu mendoakanmu, di pagi tercerahku,
Aku selalu mendoakanmu, dan mencintaimu,
Di segala waktuku.


Jakarta, 10 November 2016

Catatan: Lagu ini terinspirasi dari lagu Bob Dylan di album The Freewheelin’ Bob Dylan, yang memakai foto Bob Dylan dan Suze Rotolo jadi sampul albumnya. Lagunya berjudul Girl from the North Country. Liriknya kutaruh di bawah catatan ini, ya!


Girl From The North Country
WRITTEN BY: BOB DYLAN

Well, if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

Well, if you go when the snowflakes storm
When the rivers freeze and summer ends
Please see if she’s wearing a coat so warm
To keep her from the howlin’ winds

Please see for me if her hair hangs long,
If it rolls and flows all down her breast.
Please see for me if her hair hangs long,
That’s the way I remember her best.

I’m a-wonderin’ if she remembers me at all
Many times I’ve often prayed
In the darkness of my night
In the brightness of my day

So if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

7fc02755b33af86a735744867f0e0249tumblr_l3x3k4k9rv1qc0beio1_500tumblr_nupoypmtjc1s82tn3o1_400
Iklan

Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

[PUISIK] Bookends by Simon & Garfunkel


Time it was
And what a time it was, it was
A time of innocence
A time of confidences

Long ago it must be
I have a photograph
Preserve your memories
They’re all that’s left you

Waktu berlalu bersama ingatan
yang ketika hujan kerap berlarian
Secepat itu waktu bergulir
Bersama detik-detik yang mengalir

Tiada yang lebih deras daripada kenangan
Kecuali jumlah butir hujan
Sayang, semua rapi dalam rak buku
juga album foto-fotomu

Kita ialah sepasang waktu yang berlalu
Ditiadakan takdir secepat ia membalik telapak tangan
Waktu yang berlalu, tetap menjadi masa lalu
Meski doa tak bisa diukur oleh panjang lengan

Tiada yang dapat mengembalikan detik
Pun engkau yang sedang membual; aku cinta mati padamu
Nyatanya kau pergi meninggalkan lagu patah hati berlirik
Kemudian kau hanya menjadi tamu

Masa lalu biarlah masa lalu
Ini bukan lagu Inul Daratista
Tapi takdir memang berjalan semestinya
Apa yang seharusnya ada tidak dibiarkannya berlalu

Lalu kita, tetap kita
Sepasang waktu yang dibiarkannya berlalu

Depok, 28 Januari 2015

[CERPEN] Sekali Lagi – Sheila On 7

https://soundcloud.com/reno-as-a-hippearce/sheila-on-7-sekali-lagi


Taman ini masih sama bentuknya, tata letak bangkunya, bahkan aromanya pun masih seperti dulu. Malam ini juga mirip seperti malam-malam kita yang lalu. Bertabur bintang. Indah. Kau pernah bilang, bintang-bintang itu ialah pikiran-pikiranku yang cemerlang, berkilauan, dan membuatmu terkagum. Kau ingat? Ah, kedengarannya aku begitu mengharapkanmu, padahal kan….memang iya. Tapi, apakah masih mungkin kau mengingatku sekarang? Setelah berjauh-jauh hari yang lalu keadaan tak sama lagi, dan kau kini sedang memiliki seseorang, apa masih sempat mengingatku? Ah, mana mungkin. Aku kan hanya serpihan debu saja di ingatanmu.

Bangku taman warna hijau pudar yang sisi pinggirnya berkarat kini menjadi sandaran dudukku. Tak ada siapa-siapa lagi yang duduk di sana kecuali aku. Dulu, kau duduk di sampingku. Membicarakan apa saja yang telah terjadi pada harimu bahkan sampai membicarakan hal yang sedang terjadi di sekitar kita. Apapun. Aku tidak mengingat kita memperbincangkan apa saja sih, terlalu banyak bahasan dan memori otakku tak mampu menampung sebanyak itu. Atau biasanya, taman ini hanya dipakai untuk kita bertemu sebentar lalu setelah itu pergi ke mana, entah nonton, entah ke toko buku, entah makan malam.

Aku ingat betul ketika menyuruhmu berdandan sebelum bertemu denganku. Bukannya aku tidak menerimamu apa adanya. Kau cantik meski wajahmu tak tersentuh make up, tetapi alangkah kau akan seribu kali lebih cantik bila berdandan, sedikit saja. Satu jam aku menunggu di taman ini, menunggumu berdandan. Dan aku benar. Kau seribu kali lebih cantik. Malam itu kau mengenakan dress selutut warna hitam berkilau, mirip langit malam. Rambutmu yang biasa diikat, tergerai lurus di belakang bahumu. Riasan tipis di wajahmu membuatmu nampak lebih segar dan tidak pucat seperti biasanya. Bibirmu kelihatan menggoda dengan gincu merah yang kaupoles tipis-tipis. Terbayar sudah waktuku untuk menunggumu. Kau benar-benar seribu kali lebih cantik.

Kau tersipu setelah kupuji demikian. Keesokannya lagi, setiap ingin bertemu denganku, kau selalu berdandan. Aku tetap setia menunggumu di bangku taman warna hijau pudar yang di pinggirnya terdapat karat-karat besi. Tidak peduli satu, dua, bahkan tiga jam aku menunggumu, tidak masalah.
Namun, setelah sekian lama kejadian itu terus berlangsung, perangaimu jadi berubah. Kau yang polos tanpa make up dan kau yang bergincu merah tipis menjadi dua pribadi yang berbeda padahal satu orang yang sama. Aku tidak mengerti.

Hanya tiga bulan kita menjalin kasih, tiba-tiba kau datang padaku menuntut perpisahan. Bukan main rasanya, kau tidak harus merasakannya, cukup aku katakan saja. Itu menyakitkan! Di saat cintaku padamu sedang mekar-mekarnya, kemudian kau gunting batang bunga itu dan kau buang ke tempat sampah. Kedengarannya kejam ya? Iya memang seperti itu lah adanya.

Aku mengiyakan permintaanmu. Perpisahan yang kau tuntut itu berhasil kupenuhi tanpa air mata. Kupikir saat itu, gampang saja aku melupakanmu nanti, toh kita hanya berjalan tiga bulan. Seumur jagung. Aku pasti akan melupakanmu dan cepat menemukan penggantimu.
Malam itu ialah malam terakhir kita bertemu. Setelah kita saling menukar kata pisah, hujan datang tipis-tipis seolah ikut bersedih dengan perpisahan ini. Kau pulang dengan air mata waktu itu, entah itu air mata sungguhan atau buaya, aku tidak tahu.

Kau tahu? Malam itu aku menunggumu dari pukul tujuh malam, lalu kau datang hampir pukul sembilan malam dengan wajah senyum-bersalah. Kulihat senyum itu berbeda, dan benar. Alasanmu meninggalkanku cukup terdengar masuk akal; Kita tidak bisa meneruskan ini, aku tidak tahu mengapa sebabnya, tapi rasanya hambar. Itu. Hambar katamu? Jadi, cinta itu hanya mekar sendirian di dadaku, dan sebaliknya di dadamu. Mungkin, cuaca buruk sedang melanda hatimu sehingga cinta tidak ikut mekar di sana. Atau ada cinta yang lain, entahlah. Setelah kau berkata begitu, aku mengerti. Kau menginginkan perpisahan. Bukannya aku tidak mau berjuang lagi, hanya saja percuma bukan? Menanam pohon misalnya saat musim kekeringan dan tidak ada hujan sama sekali? Tidak akan mekar, tidak akan tumbuh subur. Lalu kau pulang meninggalkanku dengan raut sedih lengkap dengan air mata pula. Aku masih duduk di bangku taman, tidak berniat pulang dalam keadaan kacau seperti itu.

Malam itu, aku duduk di taman sampai pukul dua belas. Merenungi saja sebelum memutuskan untuk ke toko tujuh-sebelas dan memesan beberapa kaleng bir.
Kupikir, mengapa aku sampai setolol itu? Baru kali ini aku putus cinta lalu setelahnya minum-minum. Biasanya, setelah putus cinta aku lebih memilih bermain gitar, nge-band dengan teman-temanku atau semacamnya. Tidak pernah berpikir untuk melupakan seorang perempuan dengan minum-minum bir sendirian. Yah, walaupun tidak sampai mabuk sih, tapi kupikir lucu saja bisa terlihat semenyedihkan itu aku kehilanganmu. Padahal, putus cinta bukan hal yang baru untukku. Bahkan, aku pernah putus dari mantan pacarku yang sudah menjalin kasih sampai tiga tahun lamanya, aku tidak mengapa. Tidak sampai menenggak belasan bir kaleng seperti malam itu.

Aku salah. Ternyata dugaanku kali ini salah. Aku tak mampu melupakanmu secepat kilat seperti aku melupakan perempuan-perempuan yang pernah singgah di hidupku. Aku tidak pernah menyangka sampai sejauh itu perasaanku padamu, sampai sedalam ini aku terluka olehmu. Padahal, kedekatan kita hanya sesaat. Seumur jagung. Entah mengapa. Sudah hampir satu tahun aku mendekam dengan perasaan seperti ini. Luntang-luntung memikirkanmu yang sudah melupakanku. Beberapa kawan pernah mengenalkanku dengan beberapa perempuan, tapi tak sama sepertimu. Bagiku, kau cuma satu. Terdengar gombal? Memang, tapi aku tidak sedang merayumu. Ini sungguhan.

Bagaimana kabarmu? Itu adalah pertanyaan pertama yang ingin kulontarkan padamu. Apakah kau bahagia setelah kita berpisah, atau sama sepertiku? Itu adalah pertanyaan yang kedua. Masih banyak lagi hal yang ingin kutanyakan padamu namun tak pernah sempat, dan kita tak pernah bertemu lagi semenjak hari itu.
Ah, aku harap kau di sini. Duduk di sampingku, di bangku taman warna hijau pudar yang pinggir-pinggirnya sudah berkarat dimakan usia. Membicarakan banyak hal lagi. Mungkin bila kau di sini, kita akan membahas isu-isu terhangat yang sedang terjadi di bumi kita seperti misalnya saja, kasus Charlie Hebdo. Aku ingin tahu, ingin mendengarmu bercerita tentang tanggapanmu terhadap kasus dua pemuda yang meneror kantor surat kabar kontroversial itu. Lalu mengenai hukuman mati pada narapidana pengedar narkoba. Aku juga ingin tahu apa pendapatmu mengenai Jokowi, presiden favoritmu itu yang mencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan perseteruan antara KPK vs POLRI yang sedang ramai. Lalu yang lebih parahnya lagi, tentang kasus penangkapan Bambang Widjojanto, wakil ketua KPK yang sebab-musababnya ditangkap masih mengambang tidak jelas dan terkesan dibuat-buat.

dasaaaaaa

ilustrasi : weheartit

Aku ingin tahu. Aku ingin mendengar argumenmu. Permintaan yang tidak muluk-muluk bukan? Tapi rasanya mustahil dikabulkan.

Tak pernah aku menyangka
Sejauh ini aku melangkah
Tak pernah aku menyangka
Sedalam ini aku terluka

Aku tak pernah menyangka bisa sejauh ini. Bisa sesakit ini.
Mungkin aku terlalu congkak, mengatakan bahwa melupakanmu adalah hal yang mudah dan tidak begitu sulit. Tapi nyatanya? Jauh api dari panggangan. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan harapan dan kenyataan yang kupunya saat ini.

Tapi biarlah. Mungkin aku perlu waktu. Entah sampai berapa lama untuk melupakanmu. Melenyapkanmu dari ingatanku. Bila kemarin aku begitu merasa bahagia bersamamu, kali ini terpuruk sedih. Tidak apa. Bagian dari hidup. Bagian dari hukum alam bahwa hidup akan terus berputar. Bumi akan terus berputar pada rotasinya sampai ia menua dan tak mampu lagi berputar alias kiamat.

Jika hidup terus berputar
Biarlah berputar
Akan ada harapan
Sekali lagi
Seperti dulu

Aku percaya, pasti akan ada harapan lagi untuk kita kembali bertemu. Entah di mana, dan entah dengan keadaan seperti apa. Semoga.

So, aku masih duduk di bangku taman warna hijau pudar yang pinggirannya sudah dipenuhi karat. Di bawah langit malam yang bertaburan bintang. Sendirian. Seolah aku menunggu seseorang. Menunggumu.

-FIN-

Depok, 26 Januari 2015

[CERPEN] Tanyaku – Sheila On 7


Seolah tak tahu
Hanya engkau yang kutuju
Akan kunantikan hatimu mengiyakanku
Ku mau kau tahu tiap tetes tatapmu
Iringi tanyaku, kapan kau jadi milikku?

Pagi ini adalah pagi yang sama dengan Minggu-minggu pagi kemarin. Suara derap kaki-kaki orang berlarian mengenakan running shoes warna-warni mengelilingi bundaran yang merupakan track berjogging.
Delima masih di sampingku, duduk di pinggir track sambil mengusap peluhnya dengan saputangan biru yang dibawanya.

“Dapet berapa putaran?” tanyaku basa-basi, tentu saja. Selama dia berlari di depanku, aku selalu memerhatikannya. Itulah alasan mengapa aku selalu berlari di belakangnya. Selain untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja, aku bisa lebih lama memperhatikan dia. Di putaran ke tujuh, aku membalap larinya dan istirahat di pinggir track. Aku sudah tahu dia pasti akan berhenti di putaran ke tujuh. Dia selalu begitu. Aku tersenyum ketika dia menghampiriku dengan napas terengah lalu duduk di sampingku, menenggak botol air mineral, lalu mengusap peluhnya. As always. Pagi seperti ini sudah sangat sering kami lalui berdua. Jumlahnya bisa tak terhitung.

“Tujuh. As always, you know me so well, right?” jawabnya sambil tertawa singkat. Aku mengikutinya, tertawa. Orang-orang masih berlarian di depanku, tapi suara degup jantungku seolah lebih ingar terdengar daripada suara-suara langkah running shoes mereka.

Pagi ini memang seperti pagi yang biasanya. Seperti minggu-minggu lalu. Delima masih mengenakan jaket lari yang sama; jaket adidas warna merah muda bergaris warna neon, celana jogging biru donker selutut, dan running shoes-nya yang berwarna senada dengan jaket lari. Kemudian rambutnya yang hitam, lurus, dan panjang itu selalu terikat rapi ke belakang seperti ekor kuda. Aku selalu menarik buntut kuda itu bila tingkahnya membuatku gemas, atau kadang malah tanpa alasan apa-apa. Senang saja bisa melihat wajahnya merengut ke arahku dan memarahiku seperti seorang kakak pada adiknya yang nakal. Bila sudah seperti itu, aku hanya bisa tertawa menikmatinya.

Namun hari ini berbeda. Sedikit berbeda. Semalam, aku benar-benar membulatkan tekadku untuk menyatakan sesuatu untuknya. Bisa ditebak, pernyataan seperti apa yang ingin kukatakan. Berminggu-minggu lalu aku melatih diri untuk mempersiapkan ini. Bukan main, seperti mau menghadapi pertandingan lari saja harus latihan berminggu-minggu. Malah, berbulan-bulan yang lalu aku ingin menyatakan ini, sayangnya keberanianku kerap ciut saat berhadapan dengannya. Entahlah hari ini akan bagaimana, kembali ciut atau aku bisa menebas rasa takutku sendiri? Berada di dekatnya seperti ini saja sudah membuatku berdegup gugup.

“Del,” aku memanggilnya. Dia sedang asik memainkan ponselnya.

“Hmm..?” sahutnya asal tanpa menoleh.

“Del,” panggilku lagi.

“Nyaut, nyaut, Val. Apaan?” Delima masih belum mau menoleh.

“Del! Buset dah asik banget sampe budek..”

“Ye elah Val, ribet bener. Apaan sih?” kali ini dia malah menatapku. Aku malah menelan ludah. Matanya itu lho, menyiutkan nyali.

“Itu….ngggg....” gumamku jadi tak jelas. Ah! Jangan sampai ciut lagi dong, Val!

Delima masih menatapku bulat-bulat seolah aku baso yang kuahnya sudah merah dilumuri sambal kesukaannya.

“Ada sesuatu yang pengen gue omongin.” jawabku sok serius. Delima malah tertawa.

“Ya, omongin aja, Val. Masih kaku aja deh kayak keset welcome.” Delima terbahak.

Nggg...nggak bisa di sini, Del.” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

“Ya elah, Val. Kok lo jadi ribet gini pagi-pagi. Salah makan apa gimana?” tanyanya dengan raut yang menyebalkan. Kalau saja perempuan ini bukan Delima, pasti sudah kutinggal sendirian saking gondoknya.

“Hmm…jalan-jalan deh yuk! Cari spot yang sepi, yang enak.”

“Nyari tempat sepi? Lo mau merkosa gue, Val? Gila lo parah, parah!” selorohnya. Gantian, kini aku yang memandanginya dengan tatapan gondok setengah mati.

Don’t look at me like that. Gue semakin yakin lo mau merkosa gue.” katanya sambil tertawa.

“Heh! Mulut kalo ngomong, ye! Siapa yang meu merkosa lo? Buset, dikasih gratis aja gue ogah.” balasku sambil berlalu pergi. Kalau tak begini, Delima akan terus berseloroh dan membuatku kesal.

Begitulah cara aku dan Delima selama ini berkawan. Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi aku dan Delima untuk menjalin komunikasi selancar-lancarnya tanpa saringan, tanpa kenal yang namanya gengsi. Seperti barusan. Caranya bercanda, berseloroh, mengumpat, marah, tertawanya yang seringkali ngakak, ngupil, kentut, sampai segala keluhannya sehari-hari pun aku hapal tanpa menghapalnya. Semuanya sudah biasa, di luar kepala. Kecuali isi hatinya. Tak pernah berani aku terka.

“Val, Noval! Tungguin gue! Ih diamah ngambek..” setengah berlari, Delima mengejarku. Benar kan, harus dengan cara seperti ini untuk menarik Delima.

Akhirnya, aku dan Delima sampai ke sebuah tempat di tepi danau buatan, agak jauh bila berjalan kaki dari track jogging. Delima pastinya mengeluh sepanjang jalan sambil rewel bertanya-tanya mau ke mana. Di sini, tidak ada yang namanya bangku taman atau semacamnya, sepi, hampir tidak ada orang yang lalu lalang lewat. Mungkin cuma satu-dua orang itu juga dalam durasi yang lama. Satu-satunya tempat untuk merebahkan diri adalah di tempat pijakan kaki itu sendiri. Dialasi rumput hijau yang masih basah oleh embun sisa semalam.

“Masih jauh lagi nggak, Val? Nggak sekalian lo ajak gue pulang jalan kaki.” gerutunya.

“Udah sampe. Buset berisik banget dari tadi.”

“Oh. Udah. Terus, di sini mau ngapain? Mana sepi banget, Val. Lo beneran kan nggak pengen merkosa gue?” Delima sok bergidik.

“Nggak. Gue mau nyeburin lo tuh ke danau. Biar kelelep nggak balik-balik lagi. Males gue.” aku kesel sendiri jadinya.

“Dih, gitu. Ntar gue nggak ada aja, kangen lo sampe ke ubun-ubun.”

“Oh iya dong pasti. Ah, gue lelepin juga lo lama-lama.” aku duduk di atas rumput berembun itu. Sedang Delima masih berdiri, enggan membasahi celana joggingnya.

“Yaelah jangan, Val. Eh, duduk di sini nih? Basah dong celana gue..” Kan.

“Iya duduk. Pilih duduk apa gue ceburin ke danau?” Delima menyoroti sekeliling tempat itu dan mengamati rumput-rumputnya. Kemudian ia berjongkok, masih enggan duduk di atas rumput. Delima memang seperti itu. Sudah tabiatnya tidak akrab dengan kotor.

“Basah, Val. Celana gue baru dicuci kan..”

“Ntar cuci lagi gampang. Enak deh duduk sini bikin pantat lo adem, cobain deh.” aku menarik tangannya agar duduk di sampingku.

“Iya lah, Val. Elo dudukin embun bukan kompor!” Delima akhirnya menyerah, ia duduk juga.

“Nah, udah lo pengen ngomong apaan dah? Cepetan, sebelum embun-embun ini meresap ke pori-pori kulit gue.” tembaknya jitu.

Degup itu masih ada, meski cair oleh suasana yang kami bangun sendiri. Justru suasana santai seperti ini membuatku berpikir dua kali untuk bagaimana memutar keadaan menjadi lebih serius sedikit. Sebab, pernyataan ini bukan pernyataan main-main. Tidak ada kata bercanda dalam urusan ini.

Berikutnya, mungkin hanya berisi dialog saja.

“Iya..ya adem juga pantat gue jadinya…” gumam Delima. Sontak kata-katanya membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia menoleh dengan wajahnya yang merengut.

“Heh, heh siapa suruh ketawa? Ngomong cepetan!” Delima melotot. Aku menelan ludah.

“Iye…iya nggak sabaran banget..”

Jeda. Aku terdiam. Delima juga. Dia sibuk memandangi danau yang sedang merefleksikan matahari pagi di tubuhnya. Gradasi warna antara warna danau bertemu sinar kuning matahari membuat matanya terpukau melihat pemandangan itu.
Aku berdeham. Delima langsung menoleh tanpa kupinta terlebih dahulu.

“Del, ada sesuatu….yang….” aku masih gugup melanjutkan kalimatku. Delima geming. Tatap matanya menyorotiku dengan beragam pertanyaan yang tak terlontarkan.

“…perlu gue kasih tau ke elo…tapi ini serius banget gue..” aku menelan ludah. Delima masih menatapku dengan tatapan yang sama. Penuh tanya.

“Selama ini, gue sayang sama lo, Del.” sekali lagi, aku menelan ludah. Pernyataan barusan menciptakan raut wajah kaget di wajah Delima hanya sebentar. Sebelum dia tertawa singkat menanggapi pernyataanku. Hasil latihanku lenyap sudah, aku sampai lupa skenario manis rancanganku sendiri untuk mengungkapkannya. Runtuh sudah. Biar saja berjalan apa adanya, natural tanpa skenario.

“Lo ngajak gue jauh-jauh ke sini buat ngomong gitu doang? Yaelah, Val, kayak baru temenan satu-dua bulan aja deh. Jelas lah lo sayang gue, gue sayang elo. Kalo nggak gitu mana mungkin kita masih temenan sampe lama banget gini?”

“Bu…bukan gitu, Del. Aduh…” aku menggaruk kepalaku lagi untuk kesekian kalinya pagi ini tanpa gatal sekalipun.

“Gue…cinta, Del sama lo. Rasa sayang gue, kebersamaan kita, membuat gue kayak semakin terperosok jauh. Gue….udah cinta sama lo jauh sebelum hari ini.” Nah, lega sudah. Akhirnya terucapkan sebagian teks skenario buatanku beberapa minggu lalu. Degup itu semakin keras, malah terasa seperti ingin melompat dan menyeburkan diri ke danau.
Delima terperangah sepersekian detik sebelum menghamburkan tawanya keras-keras. Lama.

“Lo…lo lagi latihan nembak cewek, Val?” ujarnya patah-patah sambil tertawa sampai air matanya berlinang. Entah di mana bagian lucunya, aku tidak tahu.

Kuraih tangannya. Sentuhan yang baru kurasakan bisa sehangat ini, bisa semendebarkan ini.

“Gue serius, Del.” Delima menatapku. Seperti mencari sesuatu, mungkin kesungguhan yang ia cari. Lalu ia geming, tak berkata apa-apa dan membuang muka. Kulihat, pipinya memerah.

“Bahkan, gue udah nyiapin ini, seandainya gue bener-bener nggak bisa ngomong langsung ke elo.” aku mengambil sesuatu dari dalam tasku. i-Pod touch gen 5 lengkap dengan earphone-nya. Aku memasangkan sebelah ke telinganya, sebelahnya lagi di telingaku.

“Dengerin, deh. Gue cover lagu ini buat lo…” Aku memutarkan hasil rekamanku dua malam yang lalu dengan gitar akustik yang sering menemaniku di atas panggung.

Tanyaku – Sheila On 7

Tak pernah ku merasa hawa sehangat ini
Di dalam hidupku
Kau beri kau bagi
Semua marah dan candamu
Kuharap hanya untukku

Tak pernah ku dihinggapi bahagia
Seperti ini, Jatuh hati
Tumbuhkan nyaliku
Tuk nyanyikan kepadamu,
Aku cinta

Sesaat tersenyum dan kau pun mulai terdiam
Dan berpaling
Biaskan laguku

Seolah tak tahu
Hanya engkau yang kutuju
Akan kunantikan hatimu mengiyakanku
Ku mau kau tahu tiap tetes tatapmu
Iringi tanyaku, kapan kau jadi milikku?

“Val, lo….nggak lagi nyepik gue kan?” Delima masih meragu.

“Gue bener-bener serius, Del.” aku menatap matanya seolah meyakinkannya. Wajah Delima merah tomat.

Diam. Tak ada suara. Delima memalingkan wajahnya. Sibuk dengan pikirannya.

“Val, kita temenan udah lama banget. Gue tau perasaan kayak gini pasti ada di antara kita. Nggak munafik lah, di dunia ini, temenan lawan jenis tanpa perasaan itu bullshit. Satu atau dua di antaranya pasti nyimpen rasa. Tapi,…” Delima menoleh ke arahku yang sudah gugup tak tertahankan akibat kata-katanya yang pelan-pelan mematikan nyali dan percaya diri.

“Gue takut, Val.” Delima menggenggam tanganku. Erat.

“Apa yang lo takutin, Del?”

“Gue takut kalo seandainya kita saling memiliki, kita pacaran, kita nggak bisa konyol-konyolan, nggak bisa songong-songongan, nggak bisa kayak gini lagi, Val.” katanya sedih. Itu memang salah satu resikonya.

“Kita kan udah laluin ini selama lima tahun, harusnya saling memiliki malah saling menguatkan hubungan kita..”

“Jujur….gue juga….punya….perasaan yang sama kayak lo.” akunya. Aku benar-benar terkejut. Wow, jadi selama ini kita saling memendam? Macam di film-film saja rupanya.

“Gue malah sering kangen sama suara lo ngunyah pop corn kalo lagi nggak nonton sama lo. Gue juga….cemburu waktu lo deket sama Nimas..” akunya lagi. Nimas itu temanku beberapa bulan yang lalu, sempat dekat hanya karena projek rekaman saja. Lucu juga mendengar pengakuan Delima kalau ia sampai cemburu pada Nimas. Lucunya lagi, ternyata dia merindukan suara pop corn yang kukunyah ketika menonton film. Suara yang sering ia maki-maki karena katanya mengganggu konsentrasinya menonton.

“Lo cemburu sama Nimas?” aku menertawakannya sampai wajahnya tertekuk bagai kertas yang dilipat, aku menghentikannya.

“Abisnya lo ngomongin Nimas mulu. Dipikir gue nggak bete apa?” Delima manyun. Aku semakin keras tertawa sebelum perutku dicubit habis-habisan olehnya.

So, what’s we’re waiting for? Kita udah sama-sama nunggu, kita punya perasaan yang sama.. Apa lagi, Del?”

“Ini nggak semudah yang lo pikir, Val.”

“Apanya yang nggak mudah, coba ceritain ke gue.”

“Bayangin, orang pacaran itu harus pake aku-kamuan, sedangkan kita udah belangsak banget pake elo-gue. Nggak bisa dah pake aku-kamu. Terus, orang pacaran punya panggilan sayang yang romantis macem abi-umi, ayah-bunda. Lah, kita? Panggilan aja jelek bener, Kuya ama curut.” aku tertawa mendengarnya bercerita.

“Jadi karena itu? Kamu mau aku panggil bunda? honey? bunny? sweetie?”

“Val, sumpah ye, gue geli banget!” Delima mendorongku ke samping kanan, membuat dudukku oleng. Aku tertawa.

“Nggak semudah itu, Val. Gue takut…kalo kita pacaran, kita malah jadi…garing. Nggak kayak gini lagi.”

“Terus juga, gimana kalo kita putus? Keadaan nggak mungkin pernah sama seperti semula, Val.”

“Kita pacaran bukan menginginkan untuk putus di tengah jalan kan?” tanyaku heran.

“Kita kan udah sama-sama dewasa, Del.”

“Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk, Val. Gue atau elo nggak tau kan siapa jodoh kita nantinya? Rencana kita nggak selalu sama dengan catatan rencana dari Tuhan.” ceramahnya. Perempuan satu ini memang terkadang konyol, resek, menyebalkan, tapi di satu sisi dia mempunyai jiwa bijak yang tertanam di dalamnya. Setiap perempuan sepertinya punya jiwa bijak semacam itu. Dalam hati, aku juga mengiyakan celotehannya.

“Jadi, gimana Del?” Delima menoleh ke arahku. Tersenyum.

“Gue masih mau kita yang kayak begini, Val.” katanya. Aku tidak sedih setelah mendengar jawabannya. Setidaknya aku lega telah mengatakan hal yang ganjil selama bertahun-tahun ini padanya, dan terjawab sudah pertanyaan di kepala. Ternyata, Delima juga sama menginginkanku.

“Oke. Akan kunantikan, hatimu mengiyakanku..” aku menyanyikan sepotong lirik lagu itu. Delima tertawa.

Lalu kita saling terdiam. Bernapas lega karena setelah ini tidak ada lagi yang disembunyikan.

“Kan diem-dieman gini. Jadi garing kan. Elo sih, Val!”

“Yeee curut siapa suruh nolak gue!”

“OPAAALLL!!!” Kemudian Delima mencubiti perutku sambil tertawa-tawa.

563300_573625525995079_309645005_n

Mungkin memang lebih baik begini. Membiarkannya alami, mengalir seperti air. Ikuti arusnya. Terserah arus membawa kita  ke mana; menuju satu laut yang sama atau ke dua laut yang berbeda, saling berpencar arah. Entahlah. Masih rahasia sang laju sungai. Intinya, nikmati saja apa yang ada hari ini. Toh, kebahagiaan konyol-konyolan seperti ini belum tentu bisa dinikmati lagi beberapa tahun ke depan. Waktu bisa melakukan apa saja kan? Memudarkan dan meniadakan itu bad skills-nya waktu kan? Seperti kata Delima, aku juga masih mau kita yang seperti ini. Dan aku akan menantinya seperti sepenggal lirik lagu itu; sampai hatinya mengiyakanku. Sampai laju sungai mengalirkan kita ke satu laut yang sama.

-fin-

Depok, 25 Januari 2015

Sweet Candies On My Head

There are so many things I wish I could say to you. I wish I could tell you. Just some poetry from my thoughts, I named it “Sweet Candies” because all is sweet like your morning vanilla milk; I hope you won’t hate me because of my way to love you..

  • I miss you. I just wanna meet you in where-ever. even if it just in dream. it’s gonna be all right.
  • I wanna get drunk with your mouth, get lost in paradise named your kiss, dance till I get my first jackpoet; I mean, get drunk with your words, once again. Could I?
  • night is another name of time to missing you.
    and at cock-crow of the day, is just another name of time to missing you so (truly) bad (bitch).
  • It would be nice to discuss about wor(l)d’s issues with you like; Charlie Hebdo, Budi Gunawan, execute, and how I had this feeling for you.
    If you wanna ask me, how I had this feeling for you, I just don’t know. It just my whole world issue. And I never mind.
  • I don’t love you like; I love you to the moon and back. It’s not deep enough to describe mine. I love you from sea to sky.
  • I wish I could find my own destiny in your heart.
  • It would be lucky enough to have you. And it would be greater to love you even more.
  • If your heart was full with her, I don’t mind. I can wait you in front of your (heart’s) door.
  • If the rain bathed you with that girl in your side, maybe I would get jealous, but never you be worry because I’m the rain is. I’m the first who touch your body before her.
  • It’s okay. But it’s hurt me enough. But I don’t think that I would have one shoot of wine tonight. It’s okay. All that I need is not a bottle of wine, but you (to be mine).
  • my heart is black and cold like the sky and the air at night, but you’re my only full moon, the lights of your body pouring me through.

So, let’s talk about night, and how sweet my love is. Don’t worry about my sadness. It always becomes a one-two-three-four-five-till million poems for you. And that’s my way to

love

you.

Depok, 21 January 2015
It’s raining outside, I love you inside.