ketika kelopak langit tertutup

ketika kelopak-kelopak langit tertutup, bulan menjadi satu-satunya mimpi yang menyala di kepala langit
burung-burung berhamburan dari kepalamu, kupu-kupu menjelma kepalaku
di bawah sinar redup lampu toko yang sudah tutup, kita adalah sepasang bangku yang bercakap-cakap
kendaraan lalulalang tapi tak melihat kesedihan kita.

wangi musim hujan menguar dari tubuhmu yang kering
namun aku tak mengenakan parfum apa-apa untuk kau ingat kembali nanti
tidakkah kau ciumi wangi basah dari percakapan kita?
mau kopi lagi?

angin malam sedang malas menyentuh kita malam ini
seolah tak ingin ikut campur dalam keheningan yang enggan diusik
mereka melewati kita dengan menundukkan kepala, lalu melesat jauh
apa gerangan yang terjadi?

burung-burung malam berhenti berbicara, ada pekikan lain dari kita, yang tak ingin mereka dengar
barangkali kesedihan membuat alam raya takut kalau-kalau kesedihan menular

cahaya pendar lampu turun menuju matamu, ia bahkan tak mampu menyentuh airmata yang kaujatuhkan
mereka sama-sama tak mau tahu kesedihan kita
biarlah kesedihan menjadi kesedihan yang kau tanam abadi dalam dada,
dan kauingat kembali ketika kau melewati jejak-jejakmu itu

kutatap lamat-lamat daun matamu, sudah menguning dan alangkah rapuh
kautatap lamat-lamat kedua bola mataku, apa yang kau lihat? apakah matahari ataukah rembulan yang kesepian? ataukah hujan yang amat sedih?
semuanya salah kecuali lubang hitam yang tak menyisakan apa-apa lagi

kesedihan ialah jurang yang tak tertembus ruang dan waktu,
ia akan tetap ada meskipun di atasnya berdiri sebuah kota yang megah
jurang tetaplah jurang
ia abadi seperti puisi-puisi yang kausulap jadi pisau yang memahat sebuah jurang

di jurang itu, seseorang membuang aksaranya
kata-kata terpeleset dan jatuh selamanya
bunyinya menyayat, seperti bunyi pemahat kayu yang memahat peti matinya sendiri
apakah kesunyian itu menyakitkan?

apakah ini puisi?
coba kau dengar. majulah sedikit, selangkah lagi. ya. dengarkan.
apakah yang kaudengar? itukah kesunyian?
atau kesedihan?

Iklan

Dunia dari Cangkir Kopi

khkhk

setiap kali bangun dari lorong mimpi, cahaya seperti menusuk mataku dengan tombak-tombak tajam. hampir seluruh mimpiku terluka, tetapi ia takkan menancapkan pedang ke leherku sekalipun aku ingin. aku membuka pagi pada jendela kamar, aroma kopi berjalan di sekeliling rumahku, koran pagi terhampar di depan pagar. peristiwa-peristiwa bagai tak memiliki gerak ruang dan waktu, ia seperti terjebak dalam halaman-halaman, tetapi mataku akan menyelamatkannya.

aroma kopiku ternyata berasal dari wangi hujan yang kau simpan dalam botol. tetapi warnanya lain dari bening hujan. ia hitam seperti dosa atau lubang dalam bumi, sebagai jurang, yang ketika kau menatapnya, kau kehilangan seluruh dirimu, digantikan rasa-rasa yang memakanmu seumur hidup. wajahmu tiba-tiba saja keluar dari dasar kopi, seperti mainan masa kecil dari dalam kotak, hadiah dari waktu ketika hidup hanya mengenal warna-warna balon. aku merasakan hawa napasmu mulai naik merambati dadaku, leherku, daguku, bibirku, hidungku, mataku. kau berhenti. bibirmu turun merayapi hidungku seperti pengelana yang berada dalam puncak ketinggian dan hendak kembali ke muasal.

apa yang kau cari? tanyaku. kau hanya bernapas lewat bibirku. diam. hening.

aku ingin menghidu kembali kenangan. katamu. kini tak kurasai lagi hawa hangat napasmu, seperti cahaya matahari pagi yang mencium leherku. bibirmu seperti memiliki nyawa sendiri, dan mendadak bibirku dan bibirmu jadi musim hujan.

kemudian ‘clup’ kau kembali lagi ke dasar cangkir kopi pagiku. mataku masih pejam, dan bisikanmu masih terdengar samar,

aku akan kembali. lagi. lagi. lagi.

kepalaku dipadati percakapan, tubuh dan kepalaku tidak berada di tempat yang sama. dua-duanya seperti tercerabut waktu, dan aku seperti melewati lubang yang memiliki banyak warna, yang memiliki banyak waktu. tiba-tiba lubang itu runtuh menjadi langit yang mirip masa lampau. aku seperti dilemparkan, tetapi bukan di sebidang tanah atau rerumputan liar. aku terjatuh duduk di sebuah kursi kedai kopi yang menawarkan sepi dan sunyi sekaligus. aku memesan keduanya, tetapi pelayan malah memberiku secangkir kopi. dan kau ada di sana, tersenyum.

‘dalam setiap cangkir kopi, adalah wajah kenangan.’

Depok, 17 Oktober 2015

Aku Adalah Sebuah Kota

aku adalah sebuah kota yang hujan
basah oleh genangan darah dan air mata
malam-malam memiliki samurai
siap menebas nyawa siapa saja

aku adalah sebuah kota yang terang-benderang
oleh lampu raksasa pengundang peluh
meranggaskan rambut-rambut pepohonan
semakin hari mereka semakin tua, dan botak

aku adalah sebuah kota yang penuh bunga
tapi namanya bukan mawar, anggrek, atau melati
melainkan plaza, hotel, apartemen, dan ruko-ruko
nama-nama yang diadaptasi dari barat sana

aku adalah sebuah kota yang gemerlap
oleh sinar-sinar mata si roda empat
tubuhku penuh oleh kerlap-kerlip
apabila gelap malam merayap langit

aku adalah sebuah kota yang dimaki-maki
bila tubuhku sedang penuh oleh kuda-kuda besi
padahal, mereka yang menunggangi
mengapa aku yang dimaki-maki?

ah, aku hanyalah sebuah kota
yang rindu kemegahan kata sederhana
yang rindu oleh kebaikan malam
yang rindu dengan cahaya yang tak pongah

ah, aku benar-benar hanya sebuah kota
yang rindu wajah segar pepohonan
yang rindu rambut-rambutnya
yang rindu dengan bunga-bunga mawar, anggrek, atau melati

ah, aku hanyalah sebuah kota
yang tua renta
yang batuk-batuk sebab kuda-kuda besi
yang tinggal menunggu waktu membuatku mati

Rahasia Februari

Februari penuh cinta. Cinta. Cinta. Cinta. Huh, apa itu cinta? Mengapa namaku disambung-sambungkan dengan cinta? Memangnya, siapa itu cinta? Aku saja sebagai Februari tidak mengenalnya.

Ya, kenalkan, aku Februari. Yang menurutmu aku ini bulan penuh cinta hingga di mana-mana merah muda terpasang di setiap sudut tempat. Bunga mawar disusun sedemikian rupa hingga menjadi rangkaian romantis-romantisan. Puisi-puisi cinta bergaung di mana-mana, diucapkan dengan bisik-bisik lembut kemudian berubah menjadi desah dan lenguhan panjang. Bunga diberikan pada perempuan-perempuan dari tangan kanan laki-laki yang sedang berlutut dengan wajah memelasnya. Setelah bunga, lalu cokelat, lalu kunci kamar hotel, lalu kondom yang laris manis di supermarket itu berserakan di mana-mana; di kamar kosan, di kamar hotel, di semak-semak. Begitukah cara manusia merayakan apa yang mereka sebut cinta? Cinta kelamin sendiri maksudnya? Cinta kepuasan? Atau cinta pembodohan?
Lho, tenang-tenang yang kemarin enak, kok sekarang ‘ndumel tho? Ingat, aku ini bulan cinta yang kalian jadikan alasan untuk memberi makan nafsu kalian! HAHAHA

Kalau kau mau tahu, langsung dari aku–Februari yang kalian bilang bulan penuh cinta–,aku pun muak dengan cinta. Asal kau tahu saja. Aku ini perempuan. Di tubuhku ini ada sebuah organ bernama 14, dan entah mengapa di dalam sana sangat bising sekali hingga suara-suara nyaring dari organ itu pun terdengar oleh telingaku. Kudengar dari teman-temanku; Januari, Maret–mereka teman terdekatku–aku ini disebut bulan cinta. Bulan penuh renda-renda merah muda. Entah mengapa, aku juga tidak tahu. Di organ bernama 14 itu aku mendengar orang bersuara lantang menyatakan cinta, ada yang bisik-bisik memberi mawar dan cokelat, ada suara ciuman, ada suara gesekan, ada suara napas yang memburu, ada suara desahan menggoda perempuan dan laki-laki, ada lenguhan yang panjang sekali dari dalam sana. Namun di antara kemuakkanku mendengar suara-suara itu, ada yang paling membuatku terkesan. Ya, suara orang membacakan puisi cinta. Ah, semasa-bodoh-nya aku dengan organ 14 itu, dengan manusia-manusia yang sedang bercinta, dengan kisah-kisah drama cinta manusia, aku paling menyukai suara orang berpuisi. Apalagi kalau suara laki-laki. Ah kau kan tahu aku ini perempuan yang lama melajang, aku akan luluh mendengar puisi-puisi itu, walau hanya terekam sebentar dalam organ 14ku itu. Sayangnya, cuma sebentar. Yang lebih lama justru suara ciuman lalu ‘plok-plok’ lalu lenguhan yang panjang. Hih!

Bagiku, puisi mempunyai sirat kejujuran tersendiri dari si penyair yang melantunkan larik-lariknya. Aku bisa menangis, dan tersenyum seperti orang tolol bila mendengar suara manusia berpuisi. Aku menangis sedih ketika mereka berbicara tentang luka yang diperindah dengan bahasa. Aku tersenyum seperti gadis tolol yang sedang jatuh cinta sebab puisi jatuh cinta yang terlampau manis. Ah, di antara suara-suara yang lain–yang memuakkan–puisi ialah suara terindah dari organ 14. Aku tidak akan menyumbangkan organ 14 ku pada bulan-bulan lain karena puisi. Kalau bukan karena puisi, sudah kusumbangkan organ itu seperti yang kulakukan pada organ 29, 30, dan 31. He..he..

Oh iya, mungkin ada yang protes kepadaku sebab tanggal 14 lalu di kota kalian malah hujan deras, jadi kalian tidak bisa merayakan cinta sekaligus esek-esek hangat itu kan? Kalau kalian mau tahu mengapa tanggal 14 hujan, yaaa…aku hanya iseng saja kok. Sekali-sekali lah mengisengi para manusia seperti kalian yang memakai namaku dan organku untuk alasan ‘enak’ kalian. Muehehehe….
Btw, kata teman-temanku, aku ini gadis usil tapi dermawan. Lha, organ-organku saja tak sumbangi ke bulan yang lebih membutuhkan! Hehehe…

Oh iya, satu lagi nih pesan buat para manusia yang masih ingin mempunyai tanggal 14 Februari di kalender kalian;
“Perbanyaklah berpuisi, dan kurangilah melenguh seperti kuda. Terima kasih.”

-Dari Februari. Salam xoxo buat para manusia :*


Oalaaaah Februari itu gadis lajang toohh! *manggut-manggut*

Depok, 24 Februari 2015

Berceritalah

Suatu pagi telingaku merindu
Pada suara yang sering bercerita di masa dahulu
Barangkali karena suaranya yang bak cericit burung gereja
Atau karena cerita-cerita yang menggugah selera

Dia bukan bercerita bagaimana sebuah makanan terhidang di atas meja makan
Bukan pula bercerita tentang pulau yang dipenuhi bidadari setengah telanjang
Dia bercerita kehidupan yang beragam macamnya
Caranya berbicara ialah cara sebuah laut menenggelamkan kapal

Aku ialah kapal yang karam
Tenggelam sampai dasar
Tanpa mau kembali ke daratan
Tanpa mau kembali bernapas

Biar kuceritakan bagaimana ia berdongeng
Tentang waktu-waktu yang perna ia lalui, datang dan pergi, pergi dan datang
Tentang binar matanya yang sinar matahari tengah hari bolong pun kalah api;
Semangatnya yang menceritakan sebuah harapan-harapan mulia

Ketika bibirnya terbuka satu kali,
Aku masih berlayar pada laut yang tenang
Ketika bibirnya terbuka lima kali,
Aku mulai terseret ombak-ombak yang mendengkur panjang

Ketika bibirnya terbuka sebelas kali,
Lautnya sedang melahap kapalku sampai dasar, tenggelam karam tanpa mau kembali
Ketika bibirnya tertutup, tanda cerita telah usai
Kapal dan aku, kembali bernapas

Lalu di mana-mana udara
Lalu di mana-man angin
Lalu sudah terdampar di daratan

Ah, rupanya kau sudah selesai bercerita
Ah, tenggelamkan aku lagi
Aku rindu tenggelam
Berceritalah…

Depok, 22 Februari 2015

Rindu Yang Runtuh

Hai, tadi kita berjumpa, ya?
Hanya sebentar sih, hanya sekilas kerjapan mata, dan aku hanya memandangmu tanpa bicara apa-apa.
Entah mengapa, bibirku rasanya seperti dirantai tangan iblis agar tidak berbincang denganmu seperti biasa. Entah. Seperti kataku; asing. Padahal, kau tahu yang sebenarnya? Jangan ditanya lagi bagaimana semangat kinerja jantungku mengantarkan degup-degup aneh dari dalam dadaku ke gemetar tangan dan kakiku saat kau tiba-tiba tak sengaja tertangkap mata sedang berjalan sendirian melewati aku yang sedang menyaksikanmu menjauh, kau pasti tidak sadar, kan? Itulah hebatnya aku.
Jangan tanya bagaimana rasanya ketika jantung seolah lompat dari tempat asalnya dan terjun bebas ke udara saat kau tiba-tiba muncul di depanku, dan aku pura-pura tidak melihatmu sama sekali sehingga akhirnya kau yang menyapaku lebih dulu dengan tepukan singkat di lengan. Ah, aku baru saja mau menyapa, hai ketika kulihat kau masuk ke dalam dan punggungmu tak terlihat lagi. Dan kebetulannya lagi, aku sedang diburu-buru waktu.

Jangan tanya lagi bagaimana rasanya. Rasanya kurang-lebih seperti tertimpa durian runtuh, namun sayangnya bukan durian yang jatuh menimpaku, melainkan rindu. Ya, rinduku runtuh.
Jatuh patuh satu-satu ketika tiap detiknya kunikmati kehadiranmu di sekitarku. Sungguh, setelah sekian lama, aku ingin kembali mendengarmu. Meranggaskan rindu itu sampai tiada sisa untuk satu hari saja. Sungguh.

Berceritalah, tentang biru laut yang baru saja kaujelajahi…
Berceritalah, tentang dingin angin yang menerpa wajahmu…
Berceritalah, tentang debur ombak yang kaudengar….
Berceritalah, tentang suara burung-burung camar di atas kepalamu…
Berceritalah, tentang langit biru yang luas bisa kau tatap sepuasnya….
Berceritalah, tentang perjalanan…
Berceritalah tentang apa saja…
Apa saja….
Aku ingin mendengarnya lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Berceritalah, bicaralah, aku ingin menyaksikan rinduku runtuh seluruhnya. Untuk hari ini. Hanya untuk hari ini. Karena besok, kau tahu? Rindu akan hadir kembali.

Depok, 20 Februari 2015

Perempuan Di Depan Pintu

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

“Diam. Diam di situ.” terdengar suara tawa dari balik pintu.
“Ah, kau memelukku terlalu erat!” suara perempuan memekik, lalu disusul gelak tawa.
“Bukan. Aku mencintaimu terlalu dalam.” suara laki-laki. Ah, kuhapal betul suara itu. Suaramu. Perempuan itu tertawa.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam? Bisikku. Tentu ada. Kau. Dan dia. Perempuan itu.

Suara tawa makin nyaring terdengar, ketukan pintu itu dianggapnya hanya suara angin yang lewat. Tidak terdengar, bilapun terdengar, tidak penting. Bagimu. Baginya. Bagi kalian.
Aku melabuhkan tubuhku sendiri pada pintu kayu itu. Semakin lama, semakin tenggelam tubuhku ke bawah. Terduduk lemah, sambil memeluk lututku sendiri. Menangis. Ah, bodoh! Sudah sejak kapan aku berada di sini? Di depan pintu, sebagai tamu yang tak pernah diajak masuk, atau disuguhi segelas teh saja. Menunggu kau membukakan pintu. Bodoh! Sudah berapa lama? Rutukku dalam hati. Hatiku tak mampu menjawab, ia lupa sudah berapa lama aku di sini.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

Tulang-tulang jemariku rasanya sakit sekali, lebam di segala permukaannya, lelah mengetuk pintu. Bukan hanya itu, rasanya tanganku juga pegal sebab setiap hari aku menulis surat untukmu dan menyelipkan puluhan surat itu di bawah pintu. Surat yang tak pernah tersentuh olehmu. Aku masih bisa melihat puluhan surat itu menumpuk di dalam, pada lantai kayu berwarna hangat, dan seringkali surat-surat itu terinjak olehmu, oleh perempuan itu. Yang kulakukan justru bukannya geram, tetapi malah tetap diam di sini. Di depan pintu. Seperti orang tolol yang tengah duduk di depan pintu, dilumuri air mata disekujur wajah, dan menunggui dua orang yang sedang dimabuk asmara. Dan aku mencintai salah satunya. Kau.

Tok, tok, tok.
Ada orang, di dalam? suaraku sudah melemah.

Kemudian hujan datang mengguyur tubuhku dengan gerimisnya yang tipis-tipis, kemudian menjadi deras yang menghujam tubuhku. Kuyup sudah. Namun aku masih terkulai di depan pintumu. Aku tidak bisa ke mana-mana. Aku tidak mau.
Seorang perempuan datang, lewat di depan pintu itu, mengenakan payung merah jambu. Perempuan itu menoleh.

“Hei, hujan. Meneduhlah sini.” katanya. Aku menggeleng.

“Ah, kau ingin menikmati hujan?” tanyanya. Aku mengangguk. Perempuan itu kemudian hanya tersenyum, lalu pergi.

Kemudian, satu, dua, tiga laki-laki lewat di hadapanku. Mengenakan jas hujan, tapi membawa payung.

“Hei, hujan! Mau satu payung denganku?” mereka menanyakan hal serupa. Aku menggeleng untuk ketiganya.

“Baiklah.” tukasnya sebelum pergi. “Ah, ya, jangan berlama-lama di bawah hujan, nanti flu.” sambung yang lain. Aku hanya bisa mengangguk.

Setelah hujan pasti ada pelangi. Aku percaya itu. Aku percaya.
Langit semakin gelap, hujan telah berangsur-angsur mereda bersama warna langit yang menghitam sebab hari lagi dilahap malam. Bulan hanya memamerkan separuh tubuhnya, entahlah ke mana separuhnya lagi. Namun, bulan itu masih menyisakan keindahan walaupun hanya terlihat separuh. Bintang-bintang berhamburan di angkasa raya. Aku tersenyum. Aku menunggu gelap ini; gelap yang kugunakan untuk merapalkan namamu dalam setiap larik doaku.

Hening.

Tok, tok, tok.
Perempuan itu masih di dalam. Kau juga. Entah sudah berapa lama perempuan itu di dalam sana hingga kau lupa untuk menyapa matahari, menyapa pagi, dan melihat tubuhku yang sudah sangat menyedihkan ini masih berada di depan pintu. Menunggu. Menunggu.

“Hei, kau masih ingin berada di situ sampai kapan?” tanya seorang laki-laki yang kebetulan melintas. Tapi aku sering melihatnya.

“Aku masih ingin–”

“Pergi saja. Dia tidak menginginkanmu!” ujar laki-laki itu jujur. Iya, aku tahu. Aku mengangguk.

“Aku tidak akan pergi.” kataku. Dia tersenyum meremehkan.

“Terserah saja.” katanya. Aku mengulas senyum untuk membalas perkataannya. Lalu laki-laki itu pergi.

Tok, tok, tok.
Aku kembali mengetuk pintu, meski jemariku masih lebam karenanya. Masa bodoh. Aku tidak peduli. Sama sekali.

Kemudian suara gelak tawa itu lagi. Disusul suara gaduh lainnya. Ah, aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Aku tersenyum pahit. Seperti kopi hitam yang kauseduh tanpa gula. Tanpa pemanis apa-apa. Itulah wujud senyumku kini.
Ah, bodoh! Sudah berapa lama aku di sini? Di depan pintu hati seseorang yang tak kunjung membukakan pintu, hati seseorang yang sedang sibuk oleh mabuk sebab cinta. Dan yang menyedihkan lagi, mabuknya itu bukan denganku. Ah! Tolol! Aku memaki diri.

Tapi, kau harus tahu; aku tidak akan pergi, entah sampai kapan aku bertahan, aku tidak tahu. Setidaknya, sampai hari ini, aku belum berniat untuk melangkahkan kaki dari sini; dari hatimu. Di luar hatimu, lebih tepatnya. Aku belum mau pergi. Biar saja hujan menghajarku sampai belur, dan menggigil. Biar saja matahari membakar tubuhku hingga legam. Biar saja bulan dan bintang menertawai aku, dan biar saja orang-orang menganggapku bodoh atau gila, aku tidak peduli.
Aku akan menunggumu, membukakan pintu. Untukku.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

i’ll always be a homeless woman in front of the door called your heart.

Depok, 14 Februari 2015