Kado Untuk Shizuka

Aku masih menemani laki-laki yang senang memakai baju warna kuning seperti warna kulitku ini mengelilingi mall. Kakinya menyusuri berbagai sudut gerai-gerai yang menjual kado-kado manis untuk perempuan. Ya, Nobita kini sibuk mencari kado yang cocok untuk Shizuka. Bukan rahasia umum lagi kan kalau Nobita sungguh-sungguh menyukai Shizuka. Gadis cantik yang sering mengikat dua rambutnya.

“Dorami, kalau kamu jadi Shizuka, kado apa yang paling kamu inginkan?” tanya Nobita padaku yang sedang sibuk melamun. Ha? Kalau aku jadi Shizuka? Aku sempat menatap Nobita lama. Seandainya saja, aku bisa bertukar tempat dengan Shizuka.

“Hmm…kalau kamu bertanya padaku, aku akan menjawab buku.” jawabku sambil tersenyum. Nobita mengangguk.

“Buku ya? Boleh juga. Shizuka suka buku apa ya?” Nobita berjalan menyusuri mall, menghampiri toko buku yang ada di dalamnya. Aku hanya diam saja, menyejajarkan langkahnya.

“Kalau gaun bagaimana?” tanya Nobita lagi. Dia bingung buku apa yang disukai Shizuka. Dia bertanya padaku, buku kesukaan Shizuka, tapi aku bukan Shizuka, jadi mana kutahu?

“Boleh saja.” ujarku singkat. Aku ingin ini segera berakhir, tetapi Nobita kelihatan sangat bersemangat ingin membelikan Shizuka kado ulang tahun. Besok adalah ulang tahun Shizuka.

“AAAAA ini bagus sekali ya, Dorami!” Nobita menunjuk gaun selutut warna merah muda. Persis dengan baju yang sering dikenakan Shizuka, tetapi gaun ini lebih gemerlap, lebih indah.

“Ba…ba..gus Nobita.” aku benar-benar terkesima dengan gaun itu. Berharap, aku yang akan memakainya.
Ah, seharusnya kakak Doraemon yang menemani Nobita, tapi justru aku yang harus menahan rasa terluka ini sebab seharian aku sudah mendengar nama Shizuka ratusan kali dari bibir Nobita. Dan aku cemburu. Awas nanti ya kak Doraemon! geramku dalam hati.

“Ah, aku sudah tidak sabar melihat Shizuka mengenakan gaun ini! Pasti cantik sekali!” Nobita nyengir super-lebar. Aku melihat cinta itu di matanya tumbuh sedemikian besar untuk Shizuka. Dan itu membuatku terluka.

Ah, siapalah aku. Hanya robot kucing perempuan yang jatuh cinta pada manusia. Robot dan manusia? Robot kucing pula! Huh, mana mungkin cinta semacam itu ada pada kisah ini. Biarkan saja aku melihat Nobita menggapai cinta Shizuka, toh aku lebih suka melihat senyum Nobita terkembang meski bukan karena aku. Si Dorami, robot kucing abad 21. Dan melihat Nobita bahagia saja seperti sekarang ini, sudah cukup bagiku.

ilustrasi : weheartit.com

-end-

Depok, 25 Februari 2015
#RabuMenulis

Iklan

Kenanglah Senja, dan Balon Udara


Kau masih duduk di sampingku, beralaskan rumput yang basah bekas hujan pagi tadi. Masih saling diam dan mengunci bibir masing-masing. Hanya terdengar embusan napas gelisah. Aku menggigit bibir, kita telah sama-sama sepakat untuk menyudahi segalanya. Segala yang pernah kita mulai bertahun-tahun lalu. Ah, aku tak mampu menahan tangis lebih lama lagi. Lagi pula, sudah hampir gelap, tapi aku tidak ingin membuang kesempatan ini. Kesempatan terakhir kita menatapi langit senja yang oranye. Seoranye kaus kesukaanmu. Kaus yang sedang kau kenakan. Setelah ini, tidak akan ada lagi senja yang bisa kita bagi berdua. Tidak ada lagi obrolan ringan. Tidak ada lagi senyap yang bisa kita nikmati seperti ini. Tidak akan ada lagi kita.

Kau tersenyum, menoleh ke arahku yang hampir saja menumpahkan air mata.
“Langit senja yang indah.” lesung pipitmu muncul di sisi kiri bibirmu. Satu lubang kecil yang Tuhan sematkan pada senyummu yang manis. Yang memikatku bertahun-tahun lalu.

Aku mengangguk. Iya, langit senja terakhir, bisikku. Aku tak berani mengatakan yang sesungguhnya padamu.

Tiba-tiba sebuah balon udara yang besar muncul ke permukaan langit. Semakin lama, semakin tinggi terbang ke udara. Semakin jauh, semakin mengecil dari pandanganku. Aku terpukau. Kau terpukau. Kita sama-sama terpukau.
Di dekat sini memang ada wisata balon udara. Tak jauh dari tempat aku duduk di atas rumput yang masih basah oleh genangan hujan. Namun tak pernah sekalipun aku melihatnya dikala senja sedang di ujung langit.
Senja terakhir yang indah, bisikku pelan.

“Waaow…” kau menatap benda lonjong yang terbang ke udara bulat-bulat, kau tak pandai menyembunyikan perasaan. Aku masih bisa membacanya sedang terpukau. Sangat terpukau.
“Aku akan mengingat momen ini.” katamu sambil merogoh kantung celana, mengambil ponsel dan segera mengabadikannya dengan kamera ponsel.

Aku terpaku melihatmu begitu. Keantusiasanmu yang selalu lucu kupandangi. Yang selalu membuatku bersemangat.
Dalam desah lirih yang tak pernah kaudengar, aku berbisik, aku juga akan mengingat momen ini. Dan kita. Aku akan mengingat kita.

“Bagus, ya?” tanyaku basa-basi.

“Ini indah bukan main. Kau tahu? Aku baru pertama kali melihat pemandangan seindah ini.” katanya bersemangat.

“Aku tahu. Wajahmu kentara sekali kalau baru melihat pemandangan seperti ini.” kataku disusul suara tawa.

Kau menoleh. Pipimu memerah. Semerah semburat senja yang disapukan pada cakrawala di depanku.
Kembali hening. Langit semakin merah. Merah menuju gelap.
Semuanya tampak diam. Pepohonan diam. Bibir kita diam. Balon udara juga ikut terdiam di atas langit.

“Kau tahu, balon udara itu mengingatkanku pada kita.” ujarmu pelan.

“Kita?”

“Ya, kita.”

“Apanya?”

“Melambung terbang, kemudian semakin lama semakin jauh. Semakin mengecil, kemudian samar-samar menghilang.” katamu sedih.

“Kita sudah sepakat, bukan?” tanyaku tak kalah pedih.

“Ya…memang.”

“Lalu?”

Kau menoleh. Menatapku tanpa bicara apa-apa. Tersenyum.
“Hanya saja, balon udara itu seperti kita. Kita yang pernah indah.” Kau membuang muka lagi. Memandangi cakrawala yang luas oleh oranye. Balon udara itu semakin tinggi, semakin kecil dari pandangan.

Aku tersenyum mendengar perkataannya begitu. Kita pernah indah. Ya, pernah. Hanya pernah, bukan selalu. Waktu telah merenggut detik kebersamaan kita. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi.

“Sudah hampir gelap, Ra. Mari pulang.” ujarmu sambil menarik tanganku yang terkulai. Aku masih ingin bersamamu, Nan. Masih ingin. Jangan pergi. Kata-kataku tertahan di ujung bibir, tubuhku lemas hingga menurut saja kau bawa menuju mobilmu dan pulang. Setelah ini apa? Tidak ada lagi. Tidak ada kita. Selesai.

Dalam perjalanan pulang, kami tak bicara barang satu, dua, tiga patah kata pun. Kita memasung suara agar biar saja senyap di luar, namun ramai di dalam. Kita telah bersepakat berpisah, alasannya karena kita memang harus berjarak satu sama lain. Semakin hari, harus semakin jauh. Lalu hilang. Yang terakhir, aku tak sepakat denganmu. Kita tidak akan pernah hilang. Takkan pernah. Setidaknya, dalam ingatanku.

Arnando, kita adalah sepasang takdir yang waktu kebersamaannya telah usai. Telah selesai. Tuntas.
Namun aku masih Amora, perempuan yang mencintaimu penuh kasih, meski segala tali di antara kita telah kau putuskan dengan geligimu yang tajam. Dengan kata-katamu.
Kau bilang, ‘Amora, kita telah dewasa, dan telah mengerti apa itu cinta. Aku mencintainya, Amora. Maka itu aku harus pergi darimu. Aku tidak ingin melukai dia karena kedekatan kita.’
Begitu katamu. Menyakitkan. Frontal saja begitu, tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Terakhir yang kuingat betul, kau bilang, ‘Aku akan menikahinya.’ saat itu kau berbisik pelan, namun menusuk telingaku dan hampir bisa membuatku tuli.

Dua puluh tahun, aku bersamamu. Tidakkah itu cukup?
Seharusnya cukup. Seharusnya.
Tapi perasaan cintaku menuntut waktu yang lebih lama. Tuntutan waktu yang tak pernah terkabul.
Kau memilih dia. Dia yang baru saja datang ke hidupmu, namun mampu mengambil alih seluruh hatimu. Seluruhku.
Kau memilih berjarak. Kau memilih pergi.
Ah, seandainya saja kau tahu perasaanku, apa kau dapat berubah pikiran? tanyaku dalam hati. Rahasia yang tak pernah diucapkan masa.
Namun kita berdua telah sepakat hilang. Aku telah sepakat merelakanmu pergi. Dengannya. Dengan dia yang kaupilih.

Langit semakin merah tua, ungu gelap, kemudian memekat hitam. Tidak ada lagi balon udara menggantung pada langit. Hanya ada bulan sabit. Separuh yang tak utuh namun masih indah. Seperti aku. Seperti kita.

Arnando, anggaplah aku langit senja, dan kita ialah balon udara yang tak pernah hilang dari sana.
Kita, tidak akan pernah hilang, setidaknya dalam ingatanku.

Depok, 10 Februari 2015

Pemetik Senja

Rerimbunan hijau itu nampak masih sama seperti puluhan tahun lalu. Daun-daun dari dahan pohon jeruk yang dulu kutanam dengan Amira, istriku tercinta, kini sedang berbuah banyak. Musim panen jeruk di desaku membuat halaman belakang rumahku penuh oleh jeruk-jeruk yang menggantung di batang pohonnya. Wanginya pun masih sama. Persis seperti bertahun-tahun yang lalu saat aku memetik jeruk bersama Amira. Katanya, aku dan dia adalah pemetik senja.

Aku teringat sebuah percakapan dulu, ketika pagi muncul di kedua bola matamu yang berbinar emas,
Pukul sembilan, kebun belakang rumah,

“Kita adalah pemetik senja, Roum.” Ujarnya dulu. Bertahun-tahun lalu, aku masih ingat. Usiaku belum menelan memori yang itu. Kata-kata Amira yang itu.

“Mengapa pemetik senja? Bukankah kita sedang memetik jeruk?” Tanyaku sambil memasukan jeruk yang kupetik ke dalam keranjang. Dia menoleh. Keranjangnya isinya sudah penuh.

“Lihat, warna jeruk kita oranye. Persis seperti senja. Kau kan tahu betapa aku menyukai senja sama seperti menyukai aroma jeruk dan aroma tubuhmu.” Dia mengerling genit.

“Aromaku tidak berbau jeruk kan?” Tanyaku sambil mengendus tubuhku sendiri. Amira tertawa.

“Tentu tidak. Tapi aku menyukainya.” Itu ialah kata terakhir yang kuingat.

Segaris senyum mematri di wajahku. Mengingat percakapan dulu dengan Amira, istriku tercinta.
Tanganku masih sibuk mengambil jeruk-jeruk di atas kepalaku. Benar katamu, warnanya senja. Indah, sama seperti binar matamu.


Amira, kalau kau berada di sini, kau pasti akan sibuk memetik senja, seperti yang sedang kulakukan sekarang. Bibirmu pasti akan terkulum senyum, karena aroma jeruk yang berada di mana-mana. Di kebun belakang, di ruang tamu, di ruang makan, kamar mandi, dan kamar kita. Kamar yang dulu beraroma peluh ketika malam sedang di ujung langit. Kamar yang dulu hidup oleh suara tawa kita, suara pertengkaran kita, atau lenguhan yang pernah mengisinya juga.

Amira, apa di surga ada pohon jeruk? Apa di surga punya kebun jeruk seindah kebun belakang rumah kita? Apa di surga memiliki senja dan aroma jeruk?
Aku tahu Amira, pasti ada. Tuhan pasti mengabulkan segala inginmu karena kau adalah istriku yang paling baik.
Tapi kau tahu, Amira? Ada yang tidak ada di surga. Kau pasti tahu, kau pasti merasakannya juga. Yaitu aromaku. Aromaku yang kau sukai.

Amira, bersabarlah, aku akan datang membawa aroma jeruk dan aroma tubuhku ke surga. Aku hanya butuh sedikit waktu lagi untuk menjadi pemetik senja yang kesepian. Tanpa kau. Hanya aku, kebun jeruk, dan jeruk di keranjangku.

Hujan Untuk Kay

Hujan masih menaungi langit bulan Januari. Kay masih menyukai segala hal tentang hujan. Wanginya, suaranya, bahkan mendung sebelum datangnya hujan. Segalanya masih sama, termasuk Kay juga masih berpacaran dengan Dika. Teman satu ekskul pramukanya. Setiap pulang sekolah, celotehnya tak habis-habis mengenai hubungannya dengan Dika. Contohnya saja, betapa manisnya Dika memberinya cokelat pagi ini, puisi cinta yang dibuat Dika semalaman suntuk untuk Kay, dan beberapa lainnya yang menyakitkan bila kudengar lebih lanjut.

Kay. Gadis itu kukenal saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Matanya yang polos, bulat, dan bersinar, pipinya yang tembam menggemaskan, dan memerah jika diledek olehku dan beberapa temanku. Rambutnya lurus, dikepang dua. Cantik. Tak terasa waktu begitu cepat melangkah gontai, sekarang kita tengah duduk di bangku SMA, yang katanya; masa-masa paling indah. Iya, memang indah, sebelum Dika mengambil gadisku, Kay beberapa bulan lalu. Salahku sendiri, mengapa tak pernah bisa menyatakan perasaan ini padanya.

Gerimis rintik-rintik di luar ruangan. Kay belum kelihatan keluar dari kelasnya. Sedangkan aku sudah menunggunya di depan gerbang sekolah seperti biasa.

“Jo?” kudengar derap kaki seseorang mendekat, suara yang kuhapal itu memanggilku.

“Kay, akhirnya. Lama banget, tumben.” lawan bicaraku malah tersenyum.

“Hujan.” ujarnya singkat. Wajahnya muram tak seperti biasanya. Mulutnya berhenti berceloteh tentang luapan kegembiraannya sebab hujan turun. Dia diam saja, memandangi hujan dengan raut sedih.

“Kenapa? Biasanya lo suka hujan..” aku mencoba menggodanya. Kay tertawa singkat.

“Dika, Jo..” bisiknya pelan. Oh, jadi gara-gara Dika, Kay bisa semuram ini.

“Kenapa dia? Lo berantem?” gerbang sekolah sudah mulai sepi. Beberapa orang memilih menerobos hujan, beberapa rela kuyup menuju tempat parkir dan pulang bersama kendaraannya.

“Iya, Jo..masalah sepele..tapi…” Kay menatap hujan yang turun satu-per-satu seolah wajahku ada di sana mendengarnya bercerita. Tapi dengan atau tanpa menatap wajahku, aku akan tetap mendengarkan Kay bercerita. Semanis atau sepahit apapun ceritanya, aku akan saksikan.

Hening. Wajah Kay masih muram durja seperti langit sore ini. Aku tak menanggapi ceritanya, tapi kepalaku berpikir, bagaimana caranya mengembalikan senyum dan keceriaan Kay. Aku tak suka melihat senyum itu tenggelam dari wajahnya. Jangan Kay juga yang harus mendung seperti langit.

“Kay. Hujan-hujanan, yuk!” ajakku akhirnya. Hanya itu ide yang keluar dari kepalaku. Dulu, jaman SD, aku dan Kay sering sekali bermain hujan keliling komplek. Berlari kesana-kemari tanpa takut flu menyerang tubuh kami setelahnya. Kami tertawa lepas. Kay tertawa lepas ketika tubuh hujan jatuh luruh di tubuhnya, membuatnya kuyup kebasahan.

Lama, Kay menimbang-nimbang. Kemudian samar, senyum itu terbit lagi dari bibirnya.
“Yuk!” ujarnya senang. Senyumnya terkembang lagi.

“Ayo. Hitung sampai tiga, kita keluar ya… satu…dua.ti…ga!” Kay berlari menerobos hujan, tangannya terentang, tubuhnya berputar, kepalanya tengadah; seperti berdansa dengan hujan. Aku menarik tubuhnya, mengajaknya berlarian menjauh dari area sekolah yang jaraknya tak begitu jauh dengan komplek perumahan kami. Kejar-kejaran, tertawa lepas.

“Kita kayak anak kecil ya?” teriak Kay di tengah suara hujan. Tubuhnya sudah kuyup, tubuhku juga. Kita benar-benar seperti dua bocah SD bermandikan hujan.

“Iya. Nggak apa-apa sekali-kali. Biar lo nggak galau!” balasku teriak juga. Kay tersenyum lebar-lebar. Tubuhnya asik berpesta dengan hujan. Aku kembali senang melihatnya begitu. Itu lebih baik.

Thanks, Jo. I’m better now.” Kay kembali merentangkan tangannya, berputar-putar dan menengadahkan kepalanya. Aku di sini hanya bisa menyaksikannya diciumi ratusan rintik hujan dengan lembut. Menyaksikan bibirnya yang merah muda terkembang ranum sekali. Manis. Matanya terpejam seolah sedang menghayati air hujan yang jatuh satu-satu di wajahnya. Dan aku lega mendengarnya lebih baik. Dengan begini, setidaknya dia bisa melupakan sejenak mengenai masalahnya dengan Dika. Untuk sementara.

Aku tersenyum. Dalam hati berbisik; Kay, bersama siapa pun itu, aku senang ada banyak orang yang mencoba membahagiakanmu selain aku yang tlah lama di sisimu. Aku hanya bisa berusaha menjadi sahabat terbaik untukmu, yang selalu ada di kala kamu senang, atau sedih seperti hari ini. But I don’t let the rain down in your eyes. I don’t wanna see you sad, so let me make you smile everyday, every time, even if you’re not mine. And never be mine.

Di tengah hujan ini, Kay, aku mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang lain.

B73kk2WIAAAR_LU

-fin-

Depok, 21 Januari 2015; hujan di luar.