Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

Iklan

Dunia dari Cangkir Kopi

khkhk

setiap kali bangun dari lorong mimpi, cahaya seperti menusuk mataku dengan tombak-tombak tajam. hampir seluruh mimpiku terluka, tetapi ia takkan menancapkan pedang ke leherku sekalipun aku ingin. aku membuka pagi pada jendela kamar, aroma kopi berjalan di sekeliling rumahku, koran pagi terhampar di depan pagar. peristiwa-peristiwa bagai tak memiliki gerak ruang dan waktu, ia seperti terjebak dalam halaman-halaman, tetapi mataku akan menyelamatkannya.

aroma kopiku ternyata berasal dari wangi hujan yang kau simpan dalam botol. tetapi warnanya lain dari bening hujan. ia hitam seperti dosa atau lubang dalam bumi, sebagai jurang, yang ketika kau menatapnya, kau kehilangan seluruh dirimu, digantikan rasa-rasa yang memakanmu seumur hidup. wajahmu tiba-tiba saja keluar dari dasar kopi, seperti mainan masa kecil dari dalam kotak, hadiah dari waktu ketika hidup hanya mengenal warna-warna balon. aku merasakan hawa napasmu mulai naik merambati dadaku, leherku, daguku, bibirku, hidungku, mataku. kau berhenti. bibirmu turun merayapi hidungku seperti pengelana yang berada dalam puncak ketinggian dan hendak kembali ke muasal.

apa yang kau cari? tanyaku. kau hanya bernapas lewat bibirku. diam. hening.

aku ingin menghidu kembali kenangan. katamu. kini tak kurasai lagi hawa hangat napasmu, seperti cahaya matahari pagi yang mencium leherku. bibirmu seperti memiliki nyawa sendiri, dan mendadak bibirku dan bibirmu jadi musim hujan.

kemudian ‘clup’ kau kembali lagi ke dasar cangkir kopi pagiku. mataku masih pejam, dan bisikanmu masih terdengar samar,

aku akan kembali. lagi. lagi. lagi.

kepalaku dipadati percakapan, tubuh dan kepalaku tidak berada di tempat yang sama. dua-duanya seperti tercerabut waktu, dan aku seperti melewati lubang yang memiliki banyak warna, yang memiliki banyak waktu. tiba-tiba lubang itu runtuh menjadi langit yang mirip masa lampau. aku seperti dilemparkan, tetapi bukan di sebidang tanah atau rerumputan liar. aku terjatuh duduk di sebuah kursi kedai kopi yang menawarkan sepi dan sunyi sekaligus. aku memesan keduanya, tetapi pelayan malah memberiku secangkir kopi. dan kau ada di sana, tersenyum.

‘dalam setiap cangkir kopi, adalah wajah kenangan.’

Depok, 17 Oktober 2015

Pistol

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Barisan aksara itu menembaki kepala
Dengan tubuh tegap seperti tentara
Mereka lihai menembaki peluru-peluru ke arah yang diincar

Aku tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Tubuhku hanya kaku di tempat
Seperti manusia yang diperdungu rasa takut

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kubiarkan aksara berseragam tentara
Meleburkan kepalaku dengan peluru-peluru
Berisi tubuhnya sendiri

Aku masih tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Kubiarkan kepalaku lumat oleh luka
Oleh darah yang mengucur dari sana serupa hujan

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kunikmati tiap bunyi ledakan itu
Bergemuruh gaungannya pada telingaku
Serupa suara dewi-dewi yang suaranya merdu

Aku tidak akan menghindar
Sebab jitu peluru menghabisi kepalaku dengan aksara
Darah-darah yang mengalir dibuat air minum oleh para perindu
Yang haus akan sebuah temu dan angan semu

Ah, mereka mungkin seperti aku
Yang kepalanya sudah lebur oleh peluru
Dari para aksara-aksara berpakaian tentara
Lalu yang membuat mereka, juga aku, rela ditembak hancur
Ialah pistol pada tangan-tangan tentara

Tak perlu lagi aku bertanya pistol apa yang dipegang tentara
Sebab aku, juga mereka, sudah tahu jawabannya
Itulah alasan mengapa kami, para perindu, tidak gentar menghadapi peluru-peluru
Tidak takut akan darah yang mengucur deras dari kening

Pistol itu bernama rindu
Peluru-pelurunya membuat candu
Ah, mana mungkin aku kabur
Dari tiap ledakan yang buat kepalaku lebur

rindu itu pistol yang siap meledakkan kepalaku.
sekarang.

– @chikopicinoo

Depok, 24 Februari 2015

Surat Untuk Kopi

Surat ini kutulis kepada kopi; buah kopi dalam genggaman petani kopi, biji-biji kopi dalam toples kaca, biji-biji kopi yang tlah disangrai hingga baunya membuai indera penciuman siapa saja yang menghidu, bubuk kopi di mesin grinder, cairan kental dalam mug kopi, dan yang sudah tercerna dalam lambung. Surat ini untukmu, kopi.

Ya, kau boleh tertawa ketika membaca surat ini. Kopi mana bisa baca? lol.
Kopi itu memiliki nyawa, kau tahu? Senyawa kopi itu dinamakan antioksidan, dan itu berguna membantu tubuh dalam menangkal efek pengrusakan oleh senyawa radikal bebas, seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun. Yang barusan itu dari wikipedia. Oh ya, selain itu, kopi juga memiliki beberapa nyawa lagi yakni; polifenol, flavonoid, proantosianidin, kumarin, asam klorogenat, dan tokoferol. Yang tadi juga dari wikipedia kok.
Oke, selesai intermezzo-nya.

Kopi yang kita sudah sama-sama tahu; ia memiliki aroma. Aroma pahit tapi tidak kecut, manis tapi tidak membuat mual, asam tapi bukan asam ketiak. Ya, aroma kopi bagiku memiliki magnet yang kuat bagi siapa saja yang menyukai kopi. Aku tidak bisa dibilang pecinta kopi ulung sih, karena minum kopi hitam tanpa gula saja aku ‘mbuh-lah daripada penyakit magh-ku harus kambuh, lebih baik menkonsumsi sanak saudaranya kopi macam moka, kapucino, atau istrinya kopi; kopi susu. Aku lebih suka yang begitu; perpaduan pahit-manisnya mengingatkan aku akan kehidupan di dunia yang fana ini. Atau kalau boleh melankolis sedikit, pahit-manisnya kadang lebih mirip kisah percintaan. Manisnya mirip manis ketika sedang jatuh cinta; hanya sementara di lidah. Lalu pahitnya selalu mengingatkan pada rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan. Pahit kan? Hehe..

Seperti yang sudah-sudah, kopi identik dengan kesedihan, dan kesepian hidup seseorang. Semoga kopi tidak keberatan diidentikan dengan neraka dunia; sedih, sepi. Tapi kopi bukanlah neraka, melainkan minuman dari surga yang diberikan juga pada orang-orang yang sedang dalam neraka dunia; sedang sedih, sedang sepi. Entahlah bila di neraka sungguhan, ada kah kopi itu? Dan entahlah apa di neraka kita merasa sedih, dan sepi?

—skip.

Surat ini kutulis untuk kopi. Untuk berterima kasih saja kepada para petani kopi yang kini sedang memetik buah-buah kopi dan mengambil biji-biji terbaiknya. Terima kasih, sebab kopi-kopi yang kalian rawat, kalian hibah ke tangan-tangan peracik kopi, telah menemaniku menulis selama ini. Bukan hanya menemaniku menulis, melainkan menemaniku hidup selama beberapa tahun belakangan. Kopi-kopi itu juga telah membuatku mengerti dari tiap sesapannya; tentang pahit manis, tentang hidup, tentang cinta, dan rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan.

Kepada kopi, kau akan selalu menjadi pengingat yang baik tentang pahit-manis hidup kapanpun saat aku menyesap tubuhmu ke dalam tenggorokan.

Depok, 22 Februari 2015

Huruf-huruf Untuk Tuhan Baca

Sebenarnya, ‘kau’ di sini bukanlah kepadaTuhan. Melainkan memang untukmu. Iya, kau.
Ini sebabnya, judul surat ini juga bukan Surat Untuk Tuhan macam judul film itu. Bukan.
Hanya saja, surat-surat ini perlu dibaca Tuhan. Huruf-huruf yang kutulis di sini, untuk Tuhan baca, sebab ini berisi doa. Untukmu. Bahagiamu.

Baiklah, aku tidak perlu mengulang lagi, memperkenalkan aku ialah siapa dan kau ialah siapa untukku. Kau mungkin sudah bosan membaca aksara-aksaraku yang menulisimu setiap harinya, atau mungkin kau tidak peduli sampai rasanya tidak perlu membaca surat-suratku. Ini memang menyedihkan, di lain sisi. Tetapi buatku, ini cukup melegakan dan menyenangkan sebab rasanya seperti berbicara kepadamu secara langsung, tanpa perantara apa pun, dan tanpa kendala apapun. Menulis bagiku bukan hanya pengusir kesedihan, melainkan pengusir rindu yang kian hari kian menumpuk menyesaki rongga batin. Kau tahu? Ah, kau pasti tahu, aku tidak bisa apa-apa lagi selain menulis surat untukmu. Berbicara lewat aksara yang kuketik untukmu seolah-olah aku sedang berbicara sekaligus bertatap mata langsung denganmu. Aku tahu, aku dungu, tapi biarkanlah aku dungu untuk hal semacam ini lebih lama lagi karena ternyata dungu dalam mencintaimu tidak seburuk menjadi dungu pada pelajaran hitung-hitungan.

yang ingin kusampaikan di sini pendek saja, aku ingin kau tahu, dan huruf-huruf ini untuk Tuhan baca,
aku ingin kau bahagia, tersenyum, dan tertawa konyol dengan-atau-bukan-karena ulahku. Aku ingin kau bahagia sebab menjadi kau, tidak perlu jadi siapa-siapa untuk membuat dirimu dan orang lain bahagia.
Di surat ini, aku sekaligus menitipkan kebahagiaanku, sebab bahagiaku cukup sederhana; melihatmu bahagia, dan mencapai mimpimu lekas-lekas walau bukan aku yang memeluk tubuhmu dari belakang ketika engkau sibuk bersepeda mengayuh mimpi. Biar doa saja yang kutitipi lewat langit menuju Tuhan agar kau kuat mengayuh sepeda dan lekas sampai menuju mimpimu.

Huruf-huruf ini untuk kau baca, untuk Tuhan baca,
semoga dengan entah bagaimana, surat ini bisa sampai ke tanganmu. Sebab aku tahu, surat ini pasti sampai ke tangan Tuhan bahkan Ia sudah membaca tiap kata surat ini saat aku masih sibuk mengetik-hapus-dan ketik ulang. Pasti. Kau bilang, Tuhan Mah Tahu Segalanya, kan? Dan aku percaya.

Demikian saja ya isi suratku ini. Berbahagialah selalu, dengan siapa pun itu. Biar saja aku di sini menjadi penyaksi bahagiamu, sebab aku bukan hanya menyaksikan sambil mengiris-iris bawang, tetapi aku menikmatinya seolah sedang menikmati hidangan yang disajikan Tuhan untuk hidupku.
Kau pernah mengajariku bersyukur, ikhlas dalam hal melepaskan, dan beginilah caraku mengamalkan nilai hidup yang pernah kauajarkan.

Terima kasih.

Depok, 19 Februari 2015

Malam Di Kantung Mataku

Malam itu angin membenamkanku di tubuhmu. Bintang-bintang kalah sinar dibanding dekapmu yang terang. Bulan bukan lagi bundar, sebab separuhnya tlah menjelma sebagai senyum paling cahaya di ingatanku.

Malam itu hujan menderaskan luka ke dadaku. Kau lah biang keladi. Kau lah kepulan awan mendung di langitnya. Namun entah di mataku, kau lah satu-satunya terang di gelap kelam malam.

Malam itu tatapmu memenjarakanku. Senyummu seperti polisi yang mengintai pembunuh. Kata-katamu seolah menuntutku untuk hukuman mencintaimu seumur hidup.

Malam itu kau merupa kopi pada jam sebelas malam. Membuatku susah tidur sampai bertemu pagi lagi. Melahirkan kantung-kantung hitam di mataku.

Malam itu kau bilang; “Semakin malam, aku semakin mencintaimu.”
Maka kuhabiskan malam-malamku setelahnya bersama kantung-kantung hitam lainnya; untuk mencintaimu.

Depok, 19 Januari 2015