Gadis dari Selatan Jakarta

Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima saja orang yang beruntung di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, malaikat cinta hanya berpihak pada seperlima manusia saja di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima pasangan saja di dunia ini yang beruntung. Yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama. Kau tahu dan aku tahu, kita bukan bagian dari mereka; yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama.

Sabtu pagi ini, kau tahu, aku sedang membuka-buka buku lama-ku. Masih tersimpan Poems-nya Emily Dickinson pemberianmu itu. Buku itu di tanganku sekarang. Kalau seandainya kau bertanya bagaimana kabar buku itu, buku itu sudah kumal, bagian-bagian sampul terlipat dan terkelupas, bagian dalamnya jangan ditanya, tapi jangan khawatir aku masih bisa membacanya ulang. Membaca ulang buku ini, sama saja mengenang ulang kita.

Bukan kah kau ingat di suatu sore, di halte bis dekat rumahmu, saat kau hendak menemaniku menunggu bis? Saat itu hujan agak deras dan tak ada bis menuju rumahku yang lewat. Kau membawa Poems Emily Dickinson dan kita membacanya bersama-sama hingga bisku datang, dan kau pulang berjalan kaki dengan payung merah delima. Aku menatapmu dari bis dan pandanganmu berpaling ke arahku. Kita bertatapan lewat kaca bis yang ditetesi air hujan dan rintik hujan di luar yang mulai reda. Setelah bis-ku menjauh dan kau sudah tak kelihatan lagi, aku baru saja ingat bahwa bukumu itu berada di tanganku. Sejak empatpuluh tahun berlalu. Hingga sekarang, hari ini.

Di hari naas itu, aku bilang padamu, “Poems. Emily Dickinson-mu, masih ada padaku,” tentu saja aku berharap kau memintaku mengembalikannya padamu dan kita membuat jadwal pertemuan lagi di kedai, taman, atau halte bus. Tetapi kau bilang, “Ambil saja, aku punya dua,” lalu aku angkat bahu dan pergi. Sekali itu, aku benar-benar pergi dari pintu rumahmu, atau dari kehidupanmu. Di hari naas itu, kau tak lagi mengantarku menuju halte bus dan mengatakan selamat tinggal, aku akan merindukanmu dan menunggumu lagi, atau hal-hal semacam itu.

Kopi telah diantar ke mejaku saat aku sampai di halaman ke-31, Rani melirikku dan berdeham pendek. Aku meliriknya sekilas dan kembali ke buku itu. Aku tidak pernah tertarik dengan mata perempuan mana pun selain matamu. Sejak empatpuluh tahun berlalu hingga sekarang, hari ini.

Kau ingat Anggi? Pernahkah dia bercerita padamu? Bahwa kau adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar ada di hidupku, perempuan lainnya hanya teman tidurku, teman nonton film-ku, teman minum kopi, teman mabuk-mabukan—yang dilanjutkan menjadi teman tidur. Tapi kau….

Kau tahu tidak, di antara semua jenis ‘pertemanan’, teman bercerita adalah satu yang paling istimewa; dan kau satu-satunya. Kau satu-satunya teman membaca, teman menulis, teman diskusi, dan yang paling penting, teman bercerita. Kita bisa bercerita apa saja dan di mana saja. Di kontrakanku yang sempit dan gerah, di teras warung jamu yang tidak buka 24 jam di Cikini, di halte bus yang sudah gelap dan tiada berlampu di Tanjung Barat, di depan toko listrik di Lenteng, di antara rak-rak buku di daerah Kalibata, di kolam renang dekat Pasar Minggu, di angkutan umum, atau di dalam mobil sedan tuamu yang kau bawa diam-diam untuk jalan-jalan denganku.

Kau masih ingat, di kolam renang itu? Kolam renang satu-satunya di kota itu. Pertama kali aku melihat hampir sekujur tubuhmu telanjang. Kau mengenakan bikini bekas kakak perempuanmu. Bikini itu sangat pas di tubuhmu yang memiliki lekuk pinggul paling seksi. Aku masih ingat warnanya, putih dengan garis-garis vertical yang lurus warna biru. Rambutmu yang panjang kau gerai saja hingga rambut-hitam-bergelombang-itu-menyentuh payudaramu. Aku masih mengingatnya-dengan-sangat-baik.

Barangkali kau akan mengingat kecupan kita di kolong air kaporit dan langit mendung waktu itu. Tapi bukan bagian itu yang membuat aku mengingatmu. Kau barangkali lupa atau bahkan kita sama-sama mengingat momen itu. Momen saat kita berdansa di air. Aku bersumpah, tidak akan ada pasangan seperti kita. Tidak akan ada pasangan yang berdansa di dalam air. Berdansa dengan gerak-gerak lamban karena air kaporit di antara kita. Flying and dancing, kau bilang. Dan kau bersumpah, kau tidak akan melupakan kolam renang ini.

“Aku tidak akan melupakan kolam renang ini,” katamu sambil mencelupkan kakimu ke dalam air dan menendang-nendang air seakan-akan air telah mengambilku darimu. Kau kemudian memandangku, “Dan tentunya, kamu.” Kau mengerling sedikit dan aku menciummu lama sekali. Di pinggir kolam renang yang lengang. Di bawah langit mahamendung. Dan ditetesi rintik-rintik tipis hujan Desember.

Sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Dan itulah mengapa dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh masa kecilku dan masa remajaku, membikinku jadi tulang punggung keluarga, membuatku jadi tukang minum dan pemabuk, berganti-ganti perempuan dari tempat pelacuran satu-ke-satu lainnya. Dan ketika dia mempertemukanku denganmu, barulah aku katakan pada langit, “Aku mencintaimu, takdir!” lawan kalimat yang selalu kukatakan pada langit dan Tuhan, di mana pun Ia berada.

“Aku tidak pernah mencintai hidupku sebelum kamu datang,” kataku.

“Kenapa? Hidupmu terlalu berharga untuk tidak kamu cintai,” katamu.

“Takdir tidak pernah mencintaiku.”

“Aku tidak ingin mengatakan kalau itu tidak benar. Tuhan selalu punya rencana untuk hidup kita.”

“Dengan cara menghancurkan hidupku?” tanyaku polos. Kau tertawa, tetapi bukan jenis tawa meledek.

“Barangkali begitu, tetapi Dia memperbaiki lagi, bukan? Dan membuat kau lebih baik. Dan lagi, bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku kalau kau tidak bisa mencintai dirimu sendiri?”

“Aku mencintai diriku sekarang, karena kamu telah datang.”

“Kalau begitu, jangan jadikan aku sebagai alasan kau membenci hidupmu, kelak,” kau tersenyum. Menatapku lurus-lurus. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa tidak menciummu sambil mengaitkan lenganku ke pinggulmu.

“Kau berjanji?” tanyamu.

“Janji apa?”

“Yang tadi…”

Aku tersenyum. Menyiumnya lagi.

“Janji.”

Kau mencintai Tuhan seperti kau mencintai hidupmu sendiri. Dan aku terbawa arusmu. Arus surga, kalau kataku, ketika teman-temanku dengan resek-nya meledekku karena belakangan rajin ikut kebaktian.

Aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku membenci hidupku sebagaimana aku dulu yang tanpamu. Setelah kau menutup pintu rumahmu dan kehidupanmu untukku. Setelah aku meninggalkan pintu rumahmu dan pergi dari kehidupanmu. Aku kembali membenci takdir. Ya, karena sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Setelah dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh hidupku, membikinku jadi tukang minum dan pemabuk, membuatku ke tempat-tempat pelacuran, mempertemukan denganmu—bagian ini tidak pernah aku sesalkan,—- menghadirkan pertengkaran di antara kita, membuatku mabuk lagi, membuatku ke tempat pelacuran, membuatku meniduri Rani, dan membiarkan Rani hamil dan menuntutku untuk menikahinya, dan memisahkan kau dan aku. Sudah kah kau sepakat bahwa takdir tidak pernah mencintaiku?

Kau pasti mengelak dan mengatakan, “Itu artinya takdir tidak menulis namaku di hidupmu. Itu artinya Rani lah perempuan yang Dia tuliskan,” dan kau akan melanjutkan, “Dan karena itu ibu dan kakak perempuanku melindungiku darimu,” dan kau akan melanjutkan, “Dan di hidupku, nama laki-laki yang dituliskan takdir adalah, Wijaya. Bukan namamu.”

Hidupku lesak-se-lesak-lesaknya ketika kau memutuskan untuk menikahi Wijaya di sebuah gereja dengan aksen lama di daerah Pasar Minggu. Gereja yang sering kita tunjuk-tunjuk untuk tempat kita nanti menikah, dan aku selalu menyetujuinya.

Aku menyesap kopi ketika ia sudah hampir dingin dan tidak enak. Rani tidak pernah becus membuat kopi. Dan aku telah sampai di halaman 41, aku terlalu banyak merenung.

Sabtu-masih-pagi- di luar hujan gerimis sudah turun. Beginilah Desember. Tanahmu basah, dan wangi bunga kenanga dan mawar menguar dari persemayamanmu. Aku belum sanggup menemuimu. Melayat ke pekuburanmu, dan meletakkan bunga-bunga kesukaanmu di sana. Aku tidak sanggup untuk tidak menangis dan mengakui bahwa aku masih sangat mencintaimu.

Semoga, Tuhan memberimu Poems-nya Emily Dickinson sekarang ini, dan membiarkan kita, sekali ini saja, untuk membaca buku yang sama, di alam yang beda.

Aku selalu mendoakanmu, di malam tergelapku,
Aku selalu mendoakanmu, di pagi tercerahku,
Aku selalu mendoakanmu, dan mencintaimu,
Di segala waktuku.


Jakarta, 10 November 2016

Catatan: Lagu ini terinspirasi dari lagu Bob Dylan di album The Freewheelin’ Bob Dylan, yang memakai foto Bob Dylan dan Suze Rotolo jadi sampul albumnya. Lagunya berjudul Girl from the North Country. Liriknya kutaruh di bawah catatan ini, ya!


Girl From The North Country
WRITTEN BY: BOB DYLAN

Well, if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

Well, if you go when the snowflakes storm
When the rivers freeze and summer ends
Please see if she’s wearing a coat so warm
To keep her from the howlin’ winds

Please see for me if her hair hangs long,
If it rolls and flows all down her breast.
Please see for me if her hair hangs long,
That’s the way I remember her best.

I’m a-wonderin’ if she remembers me at all
Many times I’ve often prayed
In the darkness of my night
In the brightness of my day

So if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

7fc02755b33af86a735744867f0e0249tumblr_l3x3k4k9rv1qc0beio1_500tumblr_nupoypmtjc1s82tn3o1_400