Dunia dari Cangkir Kopi

khkhk

setiap kali bangun dari lorong mimpi, cahaya seperti menusuk mataku dengan tombak-tombak tajam. hampir seluruh mimpiku terluka, tetapi ia takkan menancapkan pedang ke leherku sekalipun aku ingin. aku membuka pagi pada jendela kamar, aroma kopi berjalan di sekeliling rumahku, koran pagi terhampar di depan pagar. peristiwa-peristiwa bagai tak memiliki gerak ruang dan waktu, ia seperti terjebak dalam halaman-halaman, tetapi mataku akan menyelamatkannya.

aroma kopiku ternyata berasal dari wangi hujan yang kau simpan dalam botol. tetapi warnanya lain dari bening hujan. ia hitam seperti dosa atau lubang dalam bumi, sebagai jurang, yang ketika kau menatapnya, kau kehilangan seluruh dirimu, digantikan rasa-rasa yang memakanmu seumur hidup. wajahmu tiba-tiba saja keluar dari dasar kopi, seperti mainan masa kecil dari dalam kotak, hadiah dari waktu ketika hidup hanya mengenal warna-warna balon. aku merasakan hawa napasmu mulai naik merambati dadaku, leherku, daguku, bibirku, hidungku, mataku. kau berhenti. bibirmu turun merayapi hidungku seperti pengelana yang berada dalam puncak ketinggian dan hendak kembali ke muasal.

apa yang kau cari? tanyaku. kau hanya bernapas lewat bibirku. diam. hening.

aku ingin menghidu kembali kenangan. katamu. kini tak kurasai lagi hawa hangat napasmu, seperti cahaya matahari pagi yang mencium leherku. bibirmu seperti memiliki nyawa sendiri, dan mendadak bibirku dan bibirmu jadi musim hujan.

kemudian ‘clup’ kau kembali lagi ke dasar cangkir kopi pagiku. mataku masih pejam, dan bisikanmu masih terdengar samar,

aku akan kembali. lagi. lagi. lagi.

kepalaku dipadati percakapan, tubuh dan kepalaku tidak berada di tempat yang sama. dua-duanya seperti tercerabut waktu, dan aku seperti melewati lubang yang memiliki banyak warna, yang memiliki banyak waktu. tiba-tiba lubang itu runtuh menjadi langit yang mirip masa lampau. aku seperti dilemparkan, tetapi bukan di sebidang tanah atau rerumputan liar. aku terjatuh duduk di sebuah kursi kedai kopi yang menawarkan sepi dan sunyi sekaligus. aku memesan keduanya, tetapi pelayan malah memberiku secangkir kopi. dan kau ada di sana, tersenyum.

‘dalam setiap cangkir kopi, adalah wajah kenangan.’

Depok, 17 Oktober 2015

Pistol

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Barisan aksara itu menembaki kepala
Dengan tubuh tegap seperti tentara
Mereka lihai menembaki peluru-peluru ke arah yang diincar

Aku tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Tubuhku hanya kaku di tempat
Seperti manusia yang diperdungu rasa takut

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kubiarkan aksara berseragam tentara
Meleburkan kepalaku dengan peluru-peluru
Berisi tubuhnya sendiri

Aku masih tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Kubiarkan kepalaku lumat oleh luka
Oleh darah yang mengucur dari sana serupa hujan

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kunikmati tiap bunyi ledakan itu
Bergemuruh gaungannya pada telingaku
Serupa suara dewi-dewi yang suaranya merdu

Aku tidak akan menghindar
Sebab jitu peluru menghabisi kepalaku dengan aksara
Darah-darah yang mengalir dibuat air minum oleh para perindu
Yang haus akan sebuah temu dan angan semu

Ah, mereka mungkin seperti aku
Yang kepalanya sudah lebur oleh peluru
Dari para aksara-aksara berpakaian tentara
Lalu yang membuat mereka, juga aku, rela ditembak hancur
Ialah pistol pada tangan-tangan tentara

Tak perlu lagi aku bertanya pistol apa yang dipegang tentara
Sebab aku, juga mereka, sudah tahu jawabannya
Itulah alasan mengapa kami, para perindu, tidak gentar menghadapi peluru-peluru
Tidak takut akan darah yang mengucur deras dari kening

Pistol itu bernama rindu
Peluru-pelurunya membuat candu
Ah, mana mungkin aku kabur
Dari tiap ledakan yang buat kepalaku lebur

rindu itu pistol yang siap meledakkan kepalaku.
sekarang.

– @chikopicinoo

Depok, 24 Februari 2015

Peniup Ruh Baru

Kepada engkau yang giat merajut benang-benang kata menjadi puisi paling memilukan sekaligus syahdu dalam satu-waktu, penjahit kata-kata yang kerap patah dalam dadamu yang ingar-bingar oleh apa yang tidak aku pahami.
Lagi-lagi, kukirimkan surat–entah keberapa kali–untukmu, tanpa bosan meski tanpa balasan.

Selamat mendengar kucuran hujan dari langit yang kian hari kian melebam, kian sembab oleh air mata dari mata musim.
Engkau tidakkah bertanya-tanya? Perihal judul Peniup Ruh Baru padahal Tuhan bukanlah gelarmu. Kau hanya Tuan dari kata-kata yang hidup dalam nadiku. Ya, nadiku yang basah oleh syair-syair yang kautulis di mana saja, rentetan aksara yang berulangkali buatku bertanya, dan mencoba mengerti seperti memahami apa yang tertulis pada buku ratusan lembar dengan sampul beledu merah muda; kau seringkali menyebutnya alkitab.
Aku ialah mata yang membaca judul-judul pada bait pertama yang kau tulis, mata yang mengeja tiap larik kesedihan yang kaualirkan ke darahku, dan mata yang terbuai oleh cantiknya aksaramu.

“Mengapa judul suratmu Peniup Ruh Baru, bukan Tuan Puisi saja?” bila hatimu bertanya demikian tuan, kau bisa lebih agung dari sekadar Tuan Puisi. Tuan, tidakkah kau tahu bahwa puisi ialah ruh bagi hati siapa saja yang mati? Puisi bisa menghidupkan apa saja kecuali tanaman yang sudah mati, hewan yang sudah mati, atau jasad yang sudah tak bernyawa. Bahkan kau tahu, puisi bisa menghidupi penyair yang tlah mati. Tentu bukan jasadnya, namun keberadaan arwah sang penyair yang menulisinya.
Tuan, andai kau tahu, sebelum ada kau satu bagian dari diriku telah mati digerogoti kepercayaan yang berlebihan dan pedih atas nama cinta. Bagian itu bernama hati. Hatiku sebenarnya tlah mati, tuan. Jauh sebelum engkau datang dan menghidupinya kembali. Dengan puisi yang kaudendangkan pada telingaku yang haus akan aksara surgawi dari bibirmu. Seperti aliran sungai yang kembali deras setelah musim kekeringan yang panjang.

Tuan, puisimu barangkali seruling yang meniupkan melodi yang menjelma ruh ke dalam relung hatiku nun jauh sampai dasar. Meresapi setiap bunyinya, hingga asap ruh itu mampu membangunkan kembali hati yang tlah mati, menyusun kembali hati yang tlah lama runtuh menjadi utuh. Seperti baru terlahir kembali.
Kau tiup perlahan-lahan aksara itu ke dalam dadaku, lalu gugur di sana seperti daun-daun kering yang akhirnya rontok pada tanah merah, ah tuan, mereka bilang ini yang namanya jatuh cinta.
Tuan, seandainya memang puisi yang kautiupkan itu bukanlah kepadaku, bukanlah untuk menghujani musim kering di dadaku, tapi engkau tlah terlanjur menghidupinya kembali. Ruh dari puisimu telah bersemayam dalam dadaku atas nama cinta. Jadi biarkanlah aku tetap memanggilmu Peniup Ruh Baru. Bukan Tuan Puisi.

Itu sebabnya, judul surat ini ialah Peniup Ruh Baru, Tuan.

puisimu ialah ruhku meskipun kautiupkan kepada orang lain.
yang hidup ialah debarku, menjelma gemetar paling syahdu.

Depok, 18 Februari 2015

Air Mata Januari

Januari masih menggantung di udara
Kesedihan kerapkali menjadikan langitnya abu
Beberapa pasang sepatu memaki air matanya
Hujan Bulan Januari yang katanya candu

Dua tatap mata kadangkala redup menatap langit
Betapa hujan serupa petaka pereguk kebahagiaan
Beberapa lainnya menjadikannya bait-bait
do’a supaya langit Januari bisa menyingkap awan

Hujan Bulan Januari, katanya candu
Bagi setiap hati yang kehilangan pemandu
Betapa kesedihan dinikmati bagai tetes madu
Serupa pemanis gulali dalam liang ladang tebu

Januari masih beraroma sama
Kesedihan dan air mata dalam satu napas
Desember pun punya aroma sama
Kesedihan dan air mata dalam satu lapas

Di luar kamarku ini, sayang
Hujan menampar-nampar jendela riang
Seolah bayangmu hadir sebagai kenangan yang lamat-lamat
tergerus waktu yang tenggat, dan kau masih kucintai sangat

Januari masih menggantung di udara
Kebahagiaan tak dapat lagi membirukan langit yang abu
Jadi biarkan hujan berdansa di luar sana
Sebagai pengingat bahwa kita pernah satu

Air mata Januari
Biar ia menyimpan kenang kita sendiri-sendiri

Depok, 21 Januari 2015
Di luar hujan, aku kuyup oleh rinduku sendiri.

Aku Ingin Menjadi Sajak yang Kausukai

Aku ingin menjadi sajak yang kausukai
Di antara huruf-huruf yang berbaris di kepalamu
Di antara sepi yang berguguran satu-satu di ujung sunyi kamarmu
Di antara angin yang berdesir dalam bingkai jendela hati

Aku ingin menjadi sajak yang kausukai
Kalimat-kalimat yang kauhapal di luar kepala
Kalimat-kalimat yang kaurapal di penghujung malam
Kalimat-kalimat berisi doa yang berjejal di anganmu

Aku ingin menjadi sajak yang kausukai
Sajak yang mengundang senyum di bibirmu
Sajak yang menggetarkan seluruh tubuhmu
Sajak yang membuatmu, mengingatku

(SPS) Depok, 18 Januari 2015