Mimpi Buruk Raja Zein

Hari itu Raja Zein tidak bisa tidur siang seperti biasanya. Semalam dia mimpi buruk. Dia mimpi kepalanya dipenggal orang tak dikenal. Tangan dan kakinya diikat pakai tali plastik murahan. Kepala yang dipenggal itu kemudian dibawa pulang si pemenggal dan badannya dimasukkan karung dan dilarungkan ke sungai di belakang istananya.

Raja Zein tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang meremangkan bulu kuduknya. Sesuatu yang, ah, sudahlah. Dia terlalu lelah membaca berita-berita di gawai, dia terlalu lelah memikirkan rakyat-rakyatnya selama hampir enam jam lamanya. Dia mengantuk. Tapi badannya selalu grasak-gurusuk. Muter-muter. Dia takut mimpi buruknya berlanjut lagi. Dia takut melihat kematian dirinya sendiri, meski itu dalam mimpi.

Rakyat Gole-gole hari itu sama saja dengan hari biasanya. Adem-ayem. Tentram. Tidak ada yang mengganggu ketentraman Rakyat Golegole meski di dalam istana, Rajanya tidak bisa tidur siang. Rakyat Golegole sesiang ini masih wajar. Ada yang memasak makan siang, ada yang bekerja, ada yang menumbuk padi, ada yang menanam padi, ada yang menonton tv, ada yang menyetel musik, ada yang menyeduh kopi, dan ada yang tidur siang dengan nyenyaknya. Sayangnya itu bukan Raja Zein. Raja Zein sedang gelisah.

Akhirnya Raja Zein terlelap juga. Terlelap pada saat pukul dua siang. Jadwal tidur siang yang telat. Raja  Zein biasanya tidur tepat tengah hari bolong. Setelah makan dua porsi lidah sapi panggang dan satu porsi kepala babi Zimbabwe. Babi paling enak di seluruh negeri Golegole yang hanya bisa dinikmati Raja Zein seorang. Dan istri yang setelah itu nguik-nguik di kamar mandi demi mengeluarkan seluruh isi perutnya. Dan anak-anak Raja Zein yang gemuk-gemuk bagai sapi impor.

Tidur siang Raja Zein ternyata tidak nyenyak-nyenyak amat. Pukul setengah empat sore dia mendadak terbangun dengan badan basah kuyup kemringet dan wajah pucat pasi. Istrinya yang sedang tidur di sebelahnya juga mau tak mau ikut terbangun. Dan menanyakan, apakah ada sesuatu yang buruk? Apakah kau mimpi buruk, sayang? Tetapi Raja Zein diam saja. Dia bangun dari kasurnya yang empuk dan mewah yang di pinggir-pinggir kasurnya terdapat besi berlapis emas 23 karat. Raja Zein langsung menuang segelas anggur putih 200 tahun lalu dari Swedia. Glek, glek, glek… tetapi bayangan di mimpi itu belum hilang.

“Aku merasa aku akan digulingkan, istriku. Aku merasa saya akan dibunuh. Dan kau dan anak-anak kita akan dibakar,” kata Raja Zein.

Istrinya melotot. Antara bertanya-tanya dan ngeri.

“Apa yang sedang kau bicarakan, suamiku? Sejak kapan Raja bisa merasa? Ada-ada saja. Hal buruk semacam itu tidak akan terjadi. Kau memegang tampuk kekuasaan. Kalau ada hal yang akan mengancam jiwa kita, kau tinggal kerahkan prajurit Golegole yang perkasa itu. Tidak mungkin itu terjadi.”

“Istriku, hal buruk adalah suatu kemungkinan yang mungkin terjadi. Apapun itu. Bukan tidak mungkin kalau kepalaku, kepala raja, dipenggal dan jadi pajangan di rumah orang miskin. Rumah rakyat!”

“Kau itu ngomong apa? Rakyat Golegole mana yang akan berani memenggal kepala? Kau hanya mimpi buruk.”

“Tidak…tidak. Ini nyata, istriku. Dan rakyat yang memenggalku adalah rakyat yang memberontak. Ya, rakyat yang memberontak.”

“Tidak usah macam-macam. Sekarang mandi saja. Sudah sedia sarsaparilla hangat untuk kau mandi. Aku akan minta pelayan membuatkanmu daging cendrawasih dan darah buaya supaya kau bisa tenang.”

“Baiklah. Terima kasih, istriku.”

Raja Zein kemudian mengangkat tubuhnya dari kasur dan meninggalkan istrinya. Dia pergi ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dalam bath tub berisi sarsaparilla hangat. Lumayan. Tetapi tidak melupakan bayang-bayang hitam di dalam mimpinya. Bayang-bayang hitam yang menyelundup ke istana dan memenggal kepalanya dengan mudah. Semudah dia mengangkat bokongnya.

Masih terbayang kilatan samurai itu di matanya ketika dia sedang memotong-motong daging cendrawasih dengan pisaunya. Kilatan samurai yang dengan gampang memutus leher dan kepalanya. Kilatan samurai yang kelihatannya sangat ringan untuk menebas lehernya. Dia memotong kepala cendrawasih itu dan tiba-tiba tangannya berhenti. Ia membayangkan apabila kepala cendrwasih itu adalah kepalanya. Dan pisau makan itu adalah samurai. Dan dirinya itu adalah si bayang-bayang hitam. Si pemenggal.

“Ada apa, Tuan? Apa kepala cendrawasihnya terlalu alot?” tanya pelayannya. Dia tidak menggubris. Dia malah memerintahkan untuk membuang kepala cendrawasih itu. Ke mana pun.

“Di mana kau buang itu kepala cendrawasih, hah?” tanyanya ketika pelayan itu kembali berdiri di samping meja perjamuannya.

“Ke sungai, Tuan.” Glek. Bulu roma Raja Zein meremang.

Apakah mimpi itu? Apakah….

Apakah pelayan ini nanti yang akan memenggal kepalanya dan membuangnya ke sungai di belakang istana? Apakah ini wangsit? Apa….

Hari itu juga pelayan yang membuang kepala cendrawasih ke sungai dipecat. Pelayan itu tidak tahu apa-apa. Tidak tahu alasan mengapa ia dipecat dan diusir dari istana. Pelayan itu tidak tahu mengapa ia dicampakkan setelah selama hampir separuh hidupnya ia mengabdi di sana. Selama hampir separuh hidupnya ia memasak daging-daging kesukaan raja-raja. Bahkan, sebelum Raja Zein ada.

Bukan hanya dipecat, pelayan itu juga tidak diperkenankan mendekati istana. Prajurit-prajurit di garda depan sudah mencatat dan menghapal wajah, suara, dan lekak-lekuk tubuhnya agar tidak sampai mendekat dan memasuki istana. Pelayan itu tidak tahu mengapa.

Prajurit itu juga tidak tahu mengapa dia harus melarang pelayan itu mendekati istana. Padahal tadinya pelayan itu begitu dihormati prajurit karena dianggap sepuh oleh prajurit-prajurit baru. Pelayan itu juga dikenal baik hati karena suka menyisakan daging-daging yang dia masak ke prajurit-prajurit garda depan.

Tetapi tiga hari setelah pengusiran itu, beredar cerita dari Raja bahwa pelayan itu akan membunuhnya, memenggal kepalanya, dan membuangnya ke sungai. Para prajurit itu bertanya-tanya, saling berpandangan, dan bilang bahwa hal itu tidak mungkin, si pelayan sangat baik. Tetapi apakah di balik kebaikannya ada sesuatu? Apakah diam-diam ia akan meracuni Raja dan memenggal kepalanya? Lama-lama cerita Raja itu dipercaya meski para prajurit itu tidak tahu kebenarannya. Karena Raja yang bicara, maka itulah kebenaran yang sesungguhnya.

Jauh dari istana, pelayan itu kini hanya jadi rakyat Golegole biasa. Hidup di pinggir kota dan bekerja sebagai buruh pabrik. Tetapi tak lama setelah dia diterima jadi buruh pabrik, empunya pabrik ternyata mendengar cerita raja tentang pelayan itu. Maka dipecat lagi lah pelayan itu. Dan pelayan itu tidak pernah tahu mengapa.

Kemudian pelayan itu, sebut saja namanya Dowo, kini bekerja sebagai petani di sawah milik orang lain. Serabutan. Dowo hanya bisa membawa pulang sedikit beras untuk makannya sendiri dan singkong cacat yang tidak laku dijual. Atau kadang-kadang kalau tidak menggarap sawah, dia jadi tukang ojek dari meminjam motor ke tetangganya. Lumayan, dari itu Dowo bisa hidup tentram dan makan meski hanya dengan beras, tok.

Di istana, Raja Zein sakit keras. Dia tidak bisa tidur selama dua bulan belakangan sehingga kantung matanya sudah sebesar bakso rudal. Dia tampak lelah dan kurus karena tidak makan daging selama tiga minggu. Dia hanya mau makan soup ayam, bayam, dan tahu. Seperti rakyat. Kadang, kalau ada, dan kalau dibolehkan, dia makan mie instan. Seperti rakyat kecil.

Mimpi-mimpi Raja Zein semakin jelas. Wajah di mimpinya itu semakin kentara. Dia sudah bisa melihat kepalanya tergantung di pintu rumah seorang rakyat Golegole. Dia sudah bisa melihat tubuhnya hanyut hampir ke muara. Dan wajah itu….wajah si pemenggal…

Dia bukan Dowo. Bukan pelayan itu.

Raja Zein merasa familier dengan pemenggal itu.

Dia merasa de ja vu.

Wajah itu…

Wajah itu…

Wajah itu… Ah, dia ingat.

Itu adalah wajah Woro Geni.

Dia Woro Geni, laki-laki yang tangan dan kakinya ia ikat dengan tali tambang. Laki-laki yang kepalanya dia penggal. Dan tubunya dia larungkan ke sungai.

Woro Geni yang seharusnya menjadi Raja Geni. Bukan Raja Zein.


 

Depok, 19 Desember 2016

Kisah Para Pengikut

Alkisah di suatu peradaban yang modern, gedung-gedung perak, jalanan tol berlapis emas satu karat, rumah-rumah baja, gubuk-gubuk besi, dan pohon-pohon plastik, hiduplah para nabi, dengan garis miring, beserta pengikutnya masing-masing.

Peradaban ini bukanlah peradaban zaman nabi yang dikisahkan kitab suci agama mana pun. Ini adalah sebuah peradaban baru yang siapa saja bisa menjadi nabi dan mempunyai ribuan pengikut. Pengikut ini lah yang nanti jadi pohon cerita di kisah ini.

Pengikut, sebagaimana kata dasarnya, ikut, yang artinya gemar mengikuti yang diaikuti. Para pengikut sebagaimana laiknya hamba yang setia. Mereka perpaduan antara hamba yang setia dan juga si dungu yang lahir tanpa karakter. Mereka lahir begitu saja dan diciptakan untuk berjalan di belakang ‘nabi garis miring’, dan tidak ada inisiatif berjalan di depan atau menjadi ‘nabi garis miring’ yang baru.

Mereka sebenarnya hamba setia. Andai saja tidak tolol, mereka akan mendapatkan ‘surga garis miring’ pula atau bahkan menjadi ‘nabi garis miring’ baru. Pada kisah ini, kawan-kawan semua, ahli cerita ini akan menceritakan kisah kematian para pengikut. Hamba-hamba setia sekaligus orang-orang tolol.

Berikut nama-namanya. Nama-nama ini mungkin pernah anda sekalian baca di koran-koran besar di halaman-halaman terakhir. Atau juga di televise yang memberitakan hal-hal yang kurang penting. Atau di radio yang orang jarang mendengarnya. Atau di kisah ini. Ahli cerita ini, berinisiatif membuatkan sebuah memoriam agar mereka, biarpun hanya pengikut, bisa hidup abadi laiknya si ahli cerita yang namanya sampai mati pun tidak akan pernah dilupakan orang.

Dimulai dari kisah seorang perempuan bernama Archassy Ruvina Argaroba, ya, nama manusia manusia modern ini memang agak nyentrik dan panjang. Dia cukup dipanggil Has. Dia seorang pengikut alias hamba setia dari Venddyat Jazqualine Febrigarda. Dia cukup dipanggil Ven. Ven seorang ‘nabi garis miring’ perempuan yang mempunyai duaribu pengikut. Dia gemar berbelanja barang-barang nyentrik antik dan mahal untuk dipamerkan di akun pribadinya dan membuat hamba-hamba setianya keblinger untuk mengikutinya. Tetapi Has yang bernasib paling sial, atau mungkin mujur? Has mati. Di usia yang sangat muda, 20 tahun, dengan cara konyol, kelaparan.

Mati kelaparan bukan suatu yang patut ditertawakan dan konyol. Tapi itu patut ditertawakan dan menjadi konyol ketika Has lebih memilih membeli anting berlian seperti Ven dari seluruh uang gajinya bulan itu. Dan, Has, lupa tidak menyisakannya untuk makan, minum, bayar sewa kamar, dan ongkos bekerja. Bagaimana pun, Has seorang pegawai di sebuah restoran, sebagai tukang cuci piring, dan membersihkan meja. Gajinya tidak seberapa, hanya cukup makan dan bayar sewa. Untungnya kamar sewa Has dekat dengan tempat kerjanya, biasanya kalau tidak ada uang naik bus, dia bisa menyewa sepeda. Tetapi naas, Has kali itu kalap, dan dia tidak makan selama seminggu. Lalu jatuh sakit dan mati kesepian di kamar sewanya. Ven tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu.

Setelah kematian Has April lalu, disusul dengan Thomas Librandate Aleganza, dipanggil Tom, yang mati pada Juni. Tom adalah seorang pengikut dari seorang provokator bernama Ragaza Arzendra Irgha. Tom seorang mahasiswa yang tidak kritis. Sepanjang hidupnya di kampus, Tom hanya menopang dagu dan melihat-lihat dosen berganti-gantian memasuki kelas-menulis di papan tulis-bicara blablabla-keluar ruangan, dan Tom segera keluar dari kelas dengan tatapan muram dan kosong dan mengantuk.

Suatu hari, Ragaza Arzendra Irgha, menghina presiden, ulama, dan guru. Sebagai hamba setia, orang tolol, dan mahasiswa tidak kritis, Tom menyetujui ucapan Ragaza Arzendra Irgha dan ikut mengkompori kata-kata Ragaza Arzendra Irgha dan menambah-nambahi kata-kata cacian dan hinaan kasar kepada presiden, ulama, dan guru. Aparat keamanan langsung bertindak dan menangkap Tom. Sialnya, di tahanan, Tom satu sel dengan seorang fanatik presiden dan ulama-ulama, dan Tom dihajar habis-habisan hingga giginya tanggal tiga, hidungnya berdarah, bibirnya jontor, pelipisnya robek, dan kakinya patah. Darah mengucur deras dari kepala Tom hingga ia mati di sel. Dan Ragaza Arzendra Irgha tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu. Toh, Ragaza Arzendra Irgha juga rupanya ditangkap dan seminggu kemudian bebas setelah menulis permintaan maaf.

Peristiwa mengejutkan juga datang dari seorang perempuan (lagi) bernama Sadlinda Hereafro Daravatvrostki, dipanggil Sad. Seorang pengikut dari Hanniana Urichiru Uragama, dipanggil Uri. Sebenarnya Sad tidak menyukai gaya jepang Uri yang begitu modern dan kekomik-komikan. Tetapi sayangnya, Sad jatuh cinta kepada laki-laki yang sangat menyukai Uri. Laki-laki ini bernama Zabriandanath Karuichima Arichavotski, dipanggil Zab. Zab ini juga seorang hamba setia Uri, tetapi Zab bukan hanya hamba, tetapi seorang pecinta.

Dilansir dari New York Times, gadis bernama Sad ini berupaya untuk mengesankan Zab dengan menjadi Uri. Sad membeli semua perlengkapan yang dipakai Uri mengomikan-diri. Ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga ditemui satu setel kostum sailor moon di lemari Sad. Belakangan diketahui bahwa Uri pernah mengenakan kostum itu di pesta Halloween tahun lalu. Tetapi naas bagi Sad. Zab tidak pernah melihat cinta Sad. Sad ditolak saat mengenakan kostum Uri; seragam jepang yang ada pita merah besar, wig rambut kepang warna pink, topi pelayan putih yang dihiasi motif jangkar, dan kacamata bulat oversize. Lalu  Zab dengan teganya bilang, “kau tidak bisa menjadi Uri, Sad. Kau menggelikan dengan kostum itu,” katanya. Kata terakhir yang Zab ucapkan sebelum Sad bunuh diri di kamar apartemennya. Sad loncat dari lantai 14, dan mati begitu saja di atas mobil tamu yang hendak menuju basement. Dan Uri tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu perihal Sad atau Zab.

Masih banyak kasus semacam itu sepanjang tahun ini. Data statistik mencoba membeberkan datanya ke publik semalam. Tahun ini ada 25 kejadian serupa. Mereka itu orang-orang seperti Has, Tom, dan Sad. Ahli kisah tentu akan meneruskan memoriam ini. Tapi hari ini cukup Has, Tom, dan Sad saja dulu. Di samping karena kematian mereka begitu unik dan kontroversial, mereka juga lah yang diliput besar-besaran oleh beberapa media walaupun ujungnya ditaruh di halaman-halaman terakhir.

Namun zaman akan terus berganti-ganti-dan-ganti. Nabi garis miring baru pun banyak bermunculan dengan ribuan pengikut yang kemudian menyusul Has, Tom, dan Sad. Ahli cerita mulai tua dan sakit-sakitan. Pengikut ahli cerita pun banyak. Dan si ahli cerita tidak tahu bahwa minggu lalu seorang pengikutnya bernama Gregori Alexandrovich Vagara, tewas ditembak seorang tak dikenal di depan perpustakaan ketika Gre membawa buku karangan si ahli cerita. Seorang tak dikenal itu kemudian mengaku kalau dia membenci ahli cerita karena dia mengarang yang bukan-bukan tentang pengikut Ven, Ragaza, dan Uri. Orang itu mengaku kesal dibilang hanya seorang hamba setia dan orang tolol. Orang itu tidak terima dan langsung spontan menembak Gre yang membawa buku dengan sampul si ahli cerita itu di tangannya. Dan si ahli cerita pun tidak pernah tahu tentang Gregori Alexandrovich Vagara dan tidak pernah mau tahu. Si ahli cerita keburu lewat.

Tamat


Jakarta, 11 November 2016

 

Risalah Mulut Besar dan Rencana Perang Rakyat Zapulatule

Besok akan ada perang besar di negeri Zapulatule. Begitulah berita yang didengar Yazumbe, salah satu rakyat Zapulatule. Menurut Yahmen, si tukang penyebar berita, Zapulatule akan dipecahkan oleh perang saudara. Perang antara rakyat Zapulatule pemuja Zhanzagah dengan rakyat Zapulatule pemuja Zhanamilut. Biang onarnya adalah Apelitua, penganut ajaran Zhanamilut, yang dikenal bermulut congor dan senang membual. Apelitua sudah dikenal begitu, bukan berarti penganut Zhanamilut memiliki kelakuan yang sama dengan Apelitua.

Apelitua. Dia lelaki yang dikenal di negeri Zapulatule sebagai pemabuk dan penceracau. Sepanjang jalan kerap melontarkan kata-kata yang tidak pantas, baik itu kebenaran maupun keisengannya belaka. Bila Apelitua sedang mabuk, dia akan berjalan menyusuri negeri kecil Zapulatule dan menghina siapa saja yang berpapasan. Beberapa masyarakat paham perangai buruk Apelitua, dia juga kerap menerima pukulan kecil berkat ulahnya itu, tetapi Apelitua tidak pernah kapok. Besok, besok, besok, dan besoknya lagi Apelitua akan selalu mabuk dan menceracau dan menghina siapa pun yang lewat di depannya.

Suatu subuh yang dingin menggigit kulit, Apelitua sedang berjalan ke rumah usai dari mabuk-mabukan. Di saat yang sama, Zamrud yang terkenal gampang marah dan suka main tangan itu, baru pulang dari tempat kerjanya dan dengan kesialan Zamrud yang baru saja dipecat dan dimaki-maki tuannya. Apelitua dan Zamrud berpapasan.

“Heh, kacung Wan Aragaba baru pulang..hik… kasihan….hik…berangkat pagi pulang subuh tetapi tetap miskin!” ujar Apelitua serampangan. Mata Zamrud memerah.

“Kau tahu, anak-anakmu hanya makan kerikil tadi pagi. Tolol kau, hik…mau saja digobloki Wan Aragaba si tengik itu…hik….dan kau…hik….si kacung tengik!” ujarnya lagi sambil tertawa kegirangan.

“Ke mana Zhanzagah-mu? Dasar tolol!”

Zamrud tahu Apelitua sedang mabuk. Tetapi ia tidak mampu meredam emosinya. Hingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.

Apelitua dipukuli dengan kepalan tangannya hingga badannya runyak dan berdarah-darah. Giginya tanggal dua. Apelitua tidak sempat memohon ampun, dia malah memaki Zamrud lebih serampangan lagi. Dan Zamrud makin kalap.

Zamrud hanyalah seorang budak dari Wan Aragaba. Ia miskin dan memiliki tujuh anak. Anak-anaknya, yang Apelitua temui pagi sehari sebelumnya, tengah mengumpulkan kerikil untuk direbus dan dimakan bersama. Istri Zamrud sudah mati setelah melahirkan anak terakhir satu tahun lalu. Dan saat ia berpapasan dengan Apelitua, ia sedang dilanda musibah. Zamrud dipecat Wan Aragaba dan dia tidak punya uang sama sekali untuk makan esok hari. Sial untuk Zamrud. Sial pula untuk Apelitua yang dihajar habis-habisan hingga pingsan di pinggir jalan.

Apelitua tidak mati. Belum. Dia hanya koma sepuluh hari di rumah rawat tabib Abazizaziwue. Dia koma sepuluh hari dan sembuh total dalam keadaan penuh dendam yang hampir tumpah.

Apelitua kembali turun ke jalan. Dia masih menyimpan dendam kepada Zamrud. Hingga dia mendesiskan fitnah-fitnah ke seantero negeri Zapulatule.

Dia berbisik kepada kawan-kawannya, “Zamrud menghajar saya dan menghina Zhanamilut kita. Dia bilang, Zhanamilut tidak ada.  Dia hanya mitos.”

Kebetulan. Sangat  kebetulan, Zamrud adalah masyarakat Zapulatule yang memuja Zhanzagah. Dan Apelitua sangat membenci Zhanzagah karena Dia telah mengambil Ayah dan Ibu Apelitua saat dia masih kecil. Apelitua marah kepada Zhanzagah dan dia berhenti memuja Zhanzagah sejak saat itu. Dan seterusnya.

“Zamrud bilang lagi, bahwa pemuja Zhanzagah lebih baik dan lebih unggul daripada pemuja Zhanamilut. Pemuja Zhanamilut dibilang anak buah setan!” begitu mulut Apelitua berucap.

Beberapa pemuja Zhanamilut murka. Bukan lagi kepada Zamrud, tetapi juga kepada pemuja Zhanzagah. Sebagian kawan Apelitua menginginkan perang. Sebagian lagi menyebarkan cerita ke seantero rakyat pemuja Zhanamilut. Beberapa tahu kalau itu hanya ulah Apelitua, namun beberapa lagi tersulut.

Yazumbe adalah salah satu bagian dari kelompok pertama. Dia tahu siapa Apelitua. Dia tahu bagaimana perangainya. Dia pula yang mendengar cerita pertama dari Apelitua dan mendengar pula cerita dari Zamrud. Yazumbe mendengar dari dua pihak. Apelitua adalah tetangga dekat Yazumbe, sedangkan Zamrud adalah kawan dekatnya. Yazumbe tahu bagaimana Apelitua dan dia pun tahu bagaimana Zamrud.

Yazumbe tahu perang akan segera terjadi. Sebagian besar golongannya, golongan pemuja Zhanamilut, akan turun ke tanah dan membawa senjata untuk mengepung Gunung Zapentehu, tempat pemujaan penganut Zhanzagah. Yazumbe tahu dan sudah memperingatkan mereka dengan kata yang baik dan santun. Tetapi sebagian besar dari mereka tidak mau mendengar. Mereka malah mencap Yazumbe sebagai hamba Zhanamilut palsu. Tapi Yazumbe yakin Zhanamilut tidak akan berpikir begitu. Yazumbe yakin Zhanamilut tahu kalau dia mempercayainya meskipun sebagian hambanya berkata Yazumbe ingkar.

Yazumbe pasrah. Dia sudah memang sudah melakukan sesuatu untuk mencegah perang saudara besok hari. Tetapi ia tahu, mereka yang ingin perang sedang dibutakan oleh Nafsu yang besar. Nafsu itulah iblis pertama yang turun di tanah Zapulatule. Iblis berbadan besar dan hitam, memiliki bola mata merah menyala, kuku-kukunya tajam, dan memiliki kemampuan mengelabui siapa saja yang membawa dia ke dalam jiwa mereka. Yazumbe juga bisa saja dikelabui, tetapi Zhanamilut lebih perkasa di dalam jiwa Yazumbe, dan warga lainnya yang tidak terpicu amarah dan tipudaya Apelitua.

Malam hari sebelum perang, Apelitua sedang gembira. Dia berjanji akan menebas leher Zamrud. Dia mempersiapkan samurai panjang yang sudah diasahnya.

Gunung Zapentehu akan berdarah dan Zhanzagah tidak mampu melakukan apa-apa, batinnya.

Malam hari sebelum perang, para pasukan sedang mempersiapkan senjata dan kuda-kudanya. Dia yakin, Zhanamilut akan bangga kepada mereka. Zhanamilut akan bangga dan berkata, “mereka lah pemuja-pemuja setiaku,” kepada Zhanzagah.

Malam hari sebelum perang, para penganut Zhanzagah tengah mempersiapkan ayam merah, lintingan tembakau, dua batok beras padi burgun (padi yang bewarna ungu), buah kelepato (kelapa muda), kaki kambing bunting, cingur babi hutan, dan ceker ayam untuk dibawa ke Gunung Zapentehu. Mereka akan melawat esok pagi kepada Zhanzagah. Begitu juga Zamrud dan tujuh anaknya yang menyisihkan sebagian beras kampung untuk Zhanzagah. Hanya itu yang mampu mereka berikan kepada Zhanzagah. Dia tidak tahu, Apelitua sedang menyiapkan kematiannya.

Malam hari sebelum perang, Yazumbe mendaki bukit Zalapatuta. Dia ingin berbicara kepada Zhanamilut tentang keluh kesahnya. Tentang perang esok. Ini jalan terakhirnya. Sepanjang malam dia duduk di puncak bukit Zalapatuta, memohon kepada Zhanamilut untuk menghentikan perang esok hari. Menghentikan pertumpahan darah yang akan terjadi.

“Saya percaya, ya Zhanamilut, kau ada di pihak kami, dan kau akan menghentikan perang. Saya percaya, ya Zhanamilut, kau dan Zhanzagah tidak akan menghendaki perang terjadi. Saya percaya ya Zhanamilut dan Zhanzagah bahwa kau akan menghetikan perang. Kau tidak akan rela para pemujamu mati bersimbah darah karena bualan semata. Ya Zhanzagah, saya percaya pada kau yang tidak akan menyertai mereka yang dikelabui Nafsu. Karena ajaranmu ya Zhanamilut dan ajaranmu ya Zhanzagah, adalah untuk saling menciptakan kedamaian dan cinta kepada negeri Zapulatule.” Begitu Yazumbe memohon.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Hujan rintik-rintik dan keyakinan akan terkabulnya permohonan, menyertai Yazumbe turun dari bukit Zalapatuta, bukit yang dipercaya tempat tinggal Zhanamilut dan Zhanzagah. Titik temu pemuja Zhanamilut dan Zhanzagah yang selalu hidup rukun sebelum Apelitua menebar fitnah.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Dan dia melewati kedai di mana Apelitua, sang pemimpin perang yang akan menebas leher Zamrud, sedang minum-minum. Begitu juga dari golongan mereka yang esok akan ikut menyerbu Gunung Zapentehu.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Dan entah bagaimana, ia yakin perang tidak akan terjadi.

Yazumbe sampai rumah saat tengah malam. Ia mencuci kaki dan segera tidur dengan hati yang tenang dan juga lapang.

Sedangkan di langit dini hari, permohonan Yazumbe sedang diproses dengan cara yang sangat jauh dari nalar pemuja Zhanamilut dan Zhanzagah atau seluruh rakyat negeri Zapulatule.

 

Tamat.


Depok, 3 November 2016