Sepucuk Surat Untuk Morrissey

Kepada Morrissey yang wajah dan tubuhnya hanya bisa kutatap lewat foto hitam-putih,—foto ketika dirmu masih mempunyai senyum maut, melumpuhkan detak jantungku. Masih muda belia. Masih mampu merayu keimanan batinku. Masih… Ah, pokoknya masih sangat tampan, dan kiranya masih seusiaku, sebab kalau sekarang, kau lebih pantas menjadi Ayahku, atau bahkan Kakekku— ada gadis kecil patah hati yang menggilai suaramu.
Ya, itu aku, Mozz.

Aku gadis yang bertempat tinggal jauh dari tempatmu sekarang.
Aku berada di Indonesia. Kau pernah dengar nama negara itu? Apa kau pernah menyambanginya?
Ah, sudahlah yang barusan hanya basa-basi belaka.
Mozz, kau tahu, suaramu ialah kebahagiaan kecil yang ramai dipestakan pada dadaku yang digelimangi rasa galau. Ya, aku mengenalmu, mengenal The Smiths pada akhir 2013, sebuah keterlambatan memang. Aku tahu lagumu kali pertama ialah “Please, please, please Let Me Get What I Want” yang menjadi soundtrack film 500 Days Of Summer, kemudian disusul dengan lagu berjudul “There’s A Light That Never Goes Out” yang aku artikan sendiri, ialah harapan. Cahaya yang tidak pernah pergi. Bukan begitu?
Baiklah, film itu berasal dari tangan temanku. Dia memberiku film itu, entah alasannya apa, aku lupa, mungkin untuk mengobati rasa sakitku setelah putus dengan mantan pacarku. Entah untuk mengobati rasa sakit, atau membuatnya bertambah parah, entahlah. Hanya dia yang tahu.

Skip! Awal mula mendengar lagumu satu kali. Ya, hanya sekali, dan aku merasa aneh. Lagumu aneh. Lagu The Smiths aneh! Tapi kemudian, kutemukan diriku sendiri memutar lagu aneh itu di kepala. Lagu yang kuputar hanya sekali itu menggaung di kepala, memaksaku untuk memutarnya kedua kali. Dan selanjutnya bisa ditebak….hhhmm...lagunya kok enak juga….mmmm...duh kok enak….hhmmmm duh nagih! Ya, kurang lebih seperti itu.

Setelahnya, aku kelimpungan sendiri mencari-cari lagumu, untungnya temanku yang memberikanku film romance itu memiliki beberapa album The Smiths, dan dia dengan baiknya memberikannya padaku. HAHAHA kan jadi tidak usah repot-repot mencarinya lagi.  Dan kau tahu apa, Mozz? Aku benar-benar jatuh cinta dengan suaramu, sepertinya.
Mendengar kau mendesah, dan melengking pada lagu This Charming Man saja aku masih terpesona. Ah, rasanya aku bahagia begitu mendengar suaramu. Seketika saja galau patah hatiku itu pupus. Ajaib!

Mozz, I just let you know; how your taste of music was messed up my life. Turn my black and white into colorful life–even what you said in Unloveable is you wore black on the outside, and black on the inside. D you know, Mozz? Your Unloveable makes me…..I’m not alone who unloveable. HAHAHA sounds pity, isn’t it?

Yeah, at least, aku, gadis patah hati yang sering sekali memutar suaramu, ingin berterima kasih.
Atas beberapa lagu yang kusukai berkat suarmu;

Ask
Heaven Knows I’m Miserable Now
I Want The One I Cant Have
Please, please, please Let Me Get What I Want
Rusholme Ruffians
Still Ill
Stretch Out And Wait
The Boy With The Thorn in His Side
There’s A Light That Never Goes Out
This Charming Man
Unloveable
A Rush And A Push And The Land Is Ours
Death Of A Disco Dancer
Paint A Vulgar Picture
I Won’t Share You

(The Smiths)

Everyday Is Like Sunday
My Love Life
Now My Heart Is Full
The More You Ignore Me, The Closer I Get

(Morrissey)

Terima kasih telah mengantarkan sepotong bahagia dari sepenggal lagu-lagu yang pernah terputar di telingaku.
Terima kasih sebab suaramu tlah menjadi teman perjalananku sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu sampai Depok yang macetnya ampun-ampunan itu.
Terima kasih, Mozz, your voice mean a lot to me. Xoxo.

Sayap Pelindungku

Masihkah kau menjadi sayap pelindungku?
Iya, kau.

Kau yang tidak pernah membaca suratku.

Sayap Pelindung. Aku ingat, kapan kali pertama aku menyematkan julukan itu padamu.
Ketika kali pertama tanganmu meraih tanganku. Aku ingat persis kapan itu terjadi. Sayap pelindung. Kau. Itu, kau.
Dengan tatap seolah malaikat, kau membantuku bangkit. Dari jatuh. Segala jatuh, kecuali jatuh cinta. Aku tak selamat dari jatuh cinta ketika dekap hangat jemarimu dan jemariku bertemu. Aku jatuh cinta hati padamu. Hatiku tak ikut selamat dari ‘jatuh’ rupanya.
Kau ialah biang keladi hatiku jatuh. Jatuh tanpa kau tangkap.
Tapi untungnya, sebelum pecah, hancur lebur, aku menangkapnya sendiri.

Kau, masihkah kau menjadi sayap pelindungku?
Bahkan, setelah musim-musim, dan tanggal-tanggal berganti, aku masih belum urung mengganti julukan sayap pelindung yang sudah terlanjur tersemat padamu. Aku tak mampu mengganti sayap pelindung itu. Julukan itu cocok bersanding pada namamu. Dan sayap itu, serasi terpasang di belakang punggungmu yang kokoh.

Punggung yang kini hanya bisa kutatapi sedang menjauh.
Jauh. Jauh. Hilang.
Sampai tiada lagi jejak. Tiada lagi helai bulu sayap.

Masihkah kau menjadi sayap pelindungku?
Ah ya, masih.

Depok, 09 Februari 2015

Surat Untuk Damar, dari Emily

Hari ini hujan tak kunjung reda, Damar.
Kau di mana? Kuharap sedang tidak berada di luar ruangan, sebab nanti kau akan basah kuyup dan menggigil.
Tetaplah di dalam ruangan, dan jangan beranjak, Damar. Jangan hujan-hujanan. Nanti kau sakit.
Aku tidak mau kau sakit.

Damar, ini bulan Februari.
Damar? Ah, itu namamu yang sedang kusamarkan, kau tahu? Surat ini tetap untukmu. Tetaplah di dalam ruangan, Damar.
Iya, kembali ke bulan Februari. Bulan yang kata orang-orang adalah bulan penuh cinta. Buktinya, di linimasa-ku bertebaran tagar #30HariMenulisSuratCinta. Banyak sekali. Dan aku salah satu yang menulis surat cinta. Ha? Konyol ya, Damar? Iya, aku bisa sekonyol itu bila mencintai seseorang. Mencintaimu. Ah, itu kata-kata konyolku, Damar! Jangan dengarkan!

Cinta. Kau tahu apa artinya? Aku juga tidak. Lalu mengapa aku mengatakan kata itu? Ah, iseng saja. Kita pernah membahas tentang cinta, kau ingat? Cinta yang kataku bisa memenuhi rongga dada dengan kebahagiaan yang penuh. Kebahagiaan yang mampu membuat kita melupakan segalanya. Lalu, cinta katamu ialah hal yang sesakral pernikahan. Kau akan mencintai seseorang ketika orang itu sudah sah menjadi pasangan hidup sematimu-alias-istrimu. Ya, kau bilang begitu. Kalau begitu, cinta ialah perasaan yang bisa dikontrol oleh manusia, dong? Perasaan yang suka-suka saja kau ada dan tiadakan di hatimu. Begitu? Bukan?
Kalau begitu, enak betul. Aku mau bisa mengontrol hatiku sendiri. Aku ingin menghapus cinta yang ada di dadaku. Cinta yang tak semestinya ada. Tolong ajari aku bagaimana caranya, sebab kau tahu, aku tak pandai mengontrol hati. Aku hanya bisa menata wajah agar bagaimanapun tidak pernah terlihat sedih di matamu. Ya, di matamu aku berusaha tegar. Itu yang kau tidak tahu, Damar.

Pasca pergimu, aku kehilangan dongeng panjang yang mampu membuatku terpukau. Puisi Shakespeare saja barangkali kalah dengan puisimu. Ah, aku jadi teringat malam di saat kau membacakan puisi. Puisi yang sempat kupikir untukku. Hehe…hantam saja kepalaku, Damar, agar lupa segala kenangan manis itu. Kenangan manis yang kini pahit.
Kenangan kita bukan gulali, Damar, yang bisa manis sepanjang masa. Kenangan kita barangkali sayur asem. Enak dimakan saat sedang hangat-hangatnya, dan akan basi di kemudian hari. Ah, kampret memang.

Hari ini, seharusnya kita bertemu, entah di mana, atau mungkin seharusnya kita berpapasan. Sebentar saja, barang satu-dua- detik saja. Berpapasan muka denganmu dan…..siapa itu di sampingmu? Engh…bayangan itulah yang membuatku merantai kaki agar tidak ke mana-mana hari ini. Selain hujan yang turun semenjak malam kemarin.
Damar, adakalanya kita rindu seseorang, tapi tak lekas ingin segera berjumpa. Adakalanya aku begitu, Damar. Merindukanmu tapi tidak ingin bertemu. Ya, begitu.

Damar, hujan di luar tak kunjung reda,
tapi di kepalaku, ingatan tentangmu malah tak pernah reda.

Dari aku,
Emily, tentu bukan nama sebenarnya.

Depok, 09 Februari 2015

Kepada Puisi-puisiku

Kepada puisi-puisi yang pernah kulafalkan di ujung lidah,
puisi-puisi yang lahir dari rahim kepala, dan jari-jemari yang menari di atas papan digital,
kenalkanlah, aku Ibumu.

Aku seorang perempuan. Ya, seorang ibu puisi bukan hanya perempuan, laki-laki juga bisa menjadi ibu dari puisi-puisi. Tetapi, aku perempuan.
Kau tidak perlu tahu namaku, cukup kau tahu saja tempat dan tanggal lahirmu yang kusemat di akhir baris. Mereka menyebutnya titimangsa.
Sebelumnya, aku minta maaf, sebab beberapa dari kalian, kulahirkan untuk kesedihan, demi egoku. Demi mengisi kekosongan yang tak pernah sempat dia isi. Ya, dia. Bukan, bukan ayahmu. Hanya saja, kau terlahir karenanya.
Puisi patah hati. Ya, kalian yang kulahirkan dengan air mata yang bersimbah, dan kesedihan yang panjang. Aku meminta maaf tlah melahirkan kalian, maaf untuk menjadikanmu sebuah kesedihan yang sendu lewat tubuh-tubuhmu.

Nak, kehadiranmu walaupun dengan luka, tetapi kau mampu melegakanku.
Kau mampu menerangi gelap dan legam malam yang tersimpan dalam kepalaku.
Kau mampu menenangkan ego, dan ketidakwarasanku sebab luka yang menganga.
Kau mampu membuatku merasa…..kekosongan itu penuh. Penuh kembali.
Dan yang terpenting Nak, kau mampu menyampaikan rasa rinduku pada dia, meski tak pernah sekalipun hurufmu terbaca olehnya.

Nak, biasanya, kau lahir di tengah kegelapan malam,
hujan deras, atau rintik-rintik, tidak mesti.
Tetapi, saat aku melahirkanmu, Nak, aku tersiksa sakit di sekujur dada,
menahan sesak dan kepedihan. Nak, penderitaan itu punya nama.
Setiap penderitaan punya nama.
Namun yang menderaku saat itu ialah bernama rindu.

Dan setelah kau lahir, rindu itupun musnah.
Nak, berkat kau.

Terima kasih.

Nak, jangan lelah mengisi rahimku dengan aksara. Sebab kepalaku perlu kauisi dengan itu.
Tanpa aksara, kepalaku hanyalah tengkorak tanpa apa-apa.
Nak, tetaplah menjadi aksara yang cantik, yang tampan, yang enak dibaca semua orang.
Nak, biarkan Ibu terus melahirkan puisi, biarkan Ibu merasakan luka atau jatuh cinta untuk melahirkanmu.
Sebab, kau lahir dengan itu; luka, ataupun jatuh cinta. Sedih ataupun bahagia. Biru dan sendu satu-padu.

Kepada puisi-puisiku,
Jangan lelah berpuisi, sebab namamu memang itu.

Depok, 07 Februari 2015

Untuk Perempuan Dalam Pelukannya

Untuk Perempuan Dalam Pelukannya,
Hai, salam kenal.

Aku menulis surat ini untukmu, perempuan yang kini sangat dekat dengan hawa napasnya. Ya, hawa napas lelakimu.
Perempuan yang kerap hadir di kepalanya sebagai ingatan yang manis. Kepala yang isinya seringkali membuatku kepayang. Ya, lelakimu semengagumkan itu. Tapi, tenang saja… tenang, aku tidak akan mencurinya darimu. Tidak akan. Tenang saja.
Aku sudah cukup melihatnya baik-baik saja dan bahagia berada di sampingmu. Itu saja cukup. Memang apa lagi yang kuharapkan bisa kulakukan sekarang ini? Tak ada lagi. Selain melihat bahagia kalian dari jauh. Melihat senyumnya terkembang karena ulahmu, dari jauh, aku pun turut tersenyum.

Mungkin kau bertanya-tanya siapa aku, kan? Kalau begitu, hai, aku perempuan yang mencintai laki-laki yang sama denganmu. Tapi tak seberuntung dirimu, yang bisa memeluknya kapan saja, bisa mendengarnya bercerita, bisa mengeluh apa saja padanya, bisa melakukan apa saja padanya, bisa mencintainya sebebas-bebasnya. Aku tidak bisa seperti itu, kau tahu?
Aku hanya bisa menatapnya di balik punggungmu. Aku hanya bisa mendengar suaranya lewat rekaman di kepalaku. Aku hanya bisa memeluknya dengan doa. Aku hanya bisa menyampaikan rindu lewat bisikan pada dinding kamarku. Aku hanya bisa mencintainya diam-diam. Tanpa perlu dia tahu, tanpa perlu kau tahu. Cukup kertas dalam buku diariku, dan dinding kamarku saja yang tahu, kalau aku begitu mencintainya, dan merindukan kehadirannya.

Namun hari ini, kutitipkan surat ini padamu, ada pesan dariku untuk kau baca;
Jagalah ia baik-baik, selalu ingatkan tentang kesehatannya yang lebih berharga dari apa-pun. Bilang padanya, sehat itu sesuatu yang mahal.
Buat dia selalu tersenyum sebab senyumnya ialah senyumku. Aku akan tersenyum di balik punggungmu saat dia terseyum.
Buat dia tertawa sesering mungkin. Aku sudah tak bisa melakukannya, jadi lakukanlah. Aku senang mendengarnya tertawa.
Jangan lelah mendengarkan ceritanya, sebab kau ialah perempuan beruntung yang bisa mendengar kisah-kisah hidupnya. Aku selalu menyukainya, karena dulu itu merupakan dongeng pengantar tidurku. Aku tidak bisa tidur tanpa itu, dulu. Dan sekarang, kau tahu? Aku sering tidur di atas angka dua belas. Tanpa kopi.
Jangan kecewakan ia sekalipun. Sebab kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukannya.

Terakhir, bahagiakanlah ia semampumu. Cukup cintai ia sederhana sebab kebahagiaan itu sederhana.
Kebahagiaannya adalah dicintaimu. Sederhana, bukan?
Jangan kau tanya bagaimana kebahagiaanku, karena bahagiaku cukup saja melihatnya bahagia.

Terdengar omong kosong, tidak? Terserah mau percaya atau tidak, tapi inilah yang kulakukan. Sejak ia mencintaimu, dan mulai melupakan aku.

Salam.
Dari aku, perempuan yang (juga) mencintainya.

ilustrasi : weheartit

ilustrasi : weheartit

Depok, 05 Februari 2015

Penangkap Mimpi

Selamat malam, kau yang entah berada di jalan, atau di mana pun itu.
Hati-hati, musim hujan. Selalu sedia jas hujan atau payung di setiap berpergian ke mana pun.
Aku tidak ingin kepalamu sakit akibat didera hujan rintik-rintik. Aku tidak mau kau terserang demam, flu, atau semacamnya.
Sehatlah selalu. Aku mengharapkan itu.

Oh, ya. Aku di sini ingin bercerita tentang si penangkap mimpi. Kau tahu? Benda berbentuk lingkaran yang sisi bawahnya digantungi bulu-bulu ayam. Biasanya, orang-orang meletakkan itu di depan pintu kamarnya, atau tak jarang dijadikan kalung. Bermimpilah, aku akan menangkapnya, begitulah kira-kira yang diujar oleh benda itu bila ia bisa bicara. Sebab sesuai dengan namanya, dream catcher. Penangkap mimpi.

weheartit

Kau tahu? Sebelum bertemu denganmu, aku tertarik memilikinya. Siapa tahu dengan itu, mimpiku terwujud, hehe. Memang terdengar konyol sih, tetapi yah siapa tahu saja.
Lalu kau hadir. Menjelma kabut-kabut tipis serupa batas antara gelap mata terpejam dan dunia mimpi. Kau hadir seolah-olah bisikan di telingaku, bermimpilah, aku akan menangkapnya. Ya, kau membisikan kata-kata itu padaku.

Berwaktu-waktu kemudian, mimpiku terwujud. Ya, mimpiku benar-benar terwujud nyata. Bukan menjadi dongeng lagi, bukan hanya kabut-kabut tipis. Tetapi benar-benar nyata. Kau. Karena kau.

Kau tahu? Setelah itu, aku tidak perlu lagi benda bernama dream catcher, atau benda penangkap mimpi. Sebab kau telah ada di sini. Di sini. Di hatiku. Dan kau, ialah penangkap mimpiku.

Terima kasih
Untukmu, Penangkap Mimpi.

I don’t need a thing called dream catcher. because, you are my dream catcher. my only dream comes true.
– @chikopicinoo

Dari, aku.
Kau tahu siapa aku.

Kepada Siapa Saja yang Menanti

Surat ini saya tujukan pada siapa saja yang sedang menanti seseorang atau sesuatu.
Pada kau, mereka, dan siapa saja yang merasa menanti ialah pekerjaan yang lelah dan menyakitkan sekaligus.
Banyak orang yang bilang, percuma menanti hal yang sia-sia.
Tidak ada yang sia-sia, kau tahu? Pun perihal menanti seseorang yang jaraknya sudah memanjang jauh sekali, atau menunggu sesuatu yang rasanya tak mungkin untuk terwujud.
Seperti kataku, tidak ada yang sia-sia. Toh, kalau seseorang atau sesuatu yang kita tunggu tidak kunjung hadir, setidaknya sejak masa kita menanti, kita sedang menanam bunga bernama kesabaran. Tidak ada rugi-ruginya sama sekali, bukan?

Begitulah sekiranya tentang menanti sesuatu. Semacam menanam pohon bernama kesabaran. Ia akan tumbuh tinggi, rindang, dan teduh ketika kita merawatnya sungguh-sungguh.
Kesabaran selalu berbuah baik; selalu terasa manis.

Jadi, kepada siapapun yang sedang menanti, bersabarlah. Semua akan indah pada waktunya, seperti yang sering orang-orang katakan. Kuncinya ialah pada waktu dan kesabaran yang kita miliki. Hidup terlalu singkat untuk tidak menanti apa yang kita inginkan. Hidup terlalu singkat untuk tak menikmati bagaimana rasanya menanam sabar, dan senang bukan kepalang ketika buah kesabaran berbuah ranum dan manis. Begitulah.

“Menanti ialah luka yang pantas dinikmati luka
yang manis di kemudian hari
luka yang kan mekar menjadi kembang wangi”

Sebab, kesabaran ialah pohon berbuah manis bila kita sungguh-sungguh merawatnya.

Dari saya,
yang juga sedang menanti.

Depok, 3 Februari 2015

Kepada Sepasang Kaki yang Menjauh

Kepada sepasang kaki yang menjauh,

Hai, apa kabar? Panggil aku gila, karena menulis surat pada sepasang kaki yang sudah pergi. Melangkah melewati lembah, bukit, menyebrangi sungai, pulau, dan lautan. Sepasang kaki yang pernah berpijak tepat di sampingku. Dulu.
Jauh hari sebelum hari ini.
Telah sampai di mana petualangan dan penantianmu, duhai sepasang kaki?
Sudahkah kau singgahi rumah bernama perempuan yang tak aku kenali?
Atau, kau sedang beristirahat di suatu tempat dan berpikir tuk kembali ke sini?

Ah, untuk yang terakhir, aku ragu.
Sebab dirimu yang pergi ialah tanda bahwa kau tak lagi betah berada di sisiku.
Meski begitu, itu takkan membuatku berhenti untuk melakukan apa yang pernah aku lakukan; mencintaimu.
Apa kau mungkin akan kembali? Entahlah. Aku enggan menerka, sebab aku tak ingin congkak mendahului rencana Tuhan yang pastinya lebih indah dari hanya terkaanku.

Surat ini singkat, kutulis padamu, sepasang kaki yang menjauh, entah kembali lagi atau tidak;
Mencintaimu tak mengenal kata tamat. Tak tahu-menahu tentang tanda titik.
Maka aku masa bodoh dengan waktu yang berlalu, dan juga kata perpisahan yang pernah tersemat.
Tak peduli jarak telah merenggutmu jauh-jauh.
Tak peduli kata perpisahan yang telah kau ucap.

Belakangan ini, aku sering menulis puisi. Kau mau tahu alasannya? Sederhana.
Mencintaimu tak kenal kata tamat. Maka kupuisikanlah bait-bait cinta tak putus-putus berkemas doa. Agar kau selamat sampai akhir perjalananmu. Atau, sampai kembali ke sini lagi (entah apa itu mungkin, aku tidak tahu).

Kepada Sepasang Kaki yang Menjauh, panggil aku gila.
Sebab telah mencintaimu tanpa kenal waktu dan tanpa peduli apa pun.
Sebab telah mengatakan pada diri sendiri,
bahwa mencintaimu dan merindukanmu,
ialah luka yang candu.

Dari aku,
Perempuan yang kautinggalkan demi perjalanan.
Selamat Bulan Februari, semoga bahagia.

Depok, 01 Februari 2015

Untuk Bulan Januari

Dear Januari,

Begitu banyak kisah aku bagi denganmu. Puisi-puisi jatuh cinta sampai kehilangan tak luput dari tanggal-tanggal di tubuhmu, mengukir bagian titimangsa setelah akhir garis tulisanku.
Aku menyukai namamu. Januari. Terdengar syahdu sekaligus abu-abu, pada setiap hati yang merindukan, dan juga kehilangan. Sebab, hujan selalu turun di tubuhmu, membasahi ingatan-ingatan lalu yang ingin dilupakan. Termasuk aku, si pemilik hati yang merindukan dia. Dia yang sedang bahagia bukan bersamaku. Dia yang sering kupuisikan di bulan Januari.

Januari, aku menggambarkan dirimu sebagai sosok perempuan, yang kerap menangis di pagi hari setelah bangun dari tidur. Dengan gaun warna mendung, kau membagikan gigilmu pada semesta, sebab kau tak mampu menahan sedih itu sendiran. Maka, kau bagi air mata itu lewat hujan yang turun setiap hari. Hujan yang kadang deras, kadang rintik. Geram aku ingin bertanya padamu, siapa yang sedang kau rindukan?
Apa kita sedang merindu dengan jenis yang sama; merindu sesuatu yang takkan kembali?
Kalau ya, aku ingin merengkuhmu. Saling berpeluk di bawah hujan, menangis bersama; kau dengan hujan yang deras, aku dengan ingatan yang menderas di kepalaku.

Januari, aku selalu suka ketika engkau berpuisi di pagi hari lewat hujan rintik-rintik. Bagiku, itu ialah puisi penyampaian rindu termanis sealam semesta. Aku tidak sedang merayumu, ini sungguhan! Sungguh!
Aku menyukainya; hujanmu di pagi hari, sebab aku merasa kesedihanku punya teman.

Hari ini, kau akan pergi. Menyisakan gerimis dan hujan deras di terasku. Pergi meninggalkan aku dan kesedihanku sendiri. Maka, izinkanlah aku mengirim surat ini untukmu, sebagai tulisan di penghujung bulanmu. Sebab aku pasti akan merindukanmu. Rindu bercerita padamu lewat kisah dan puisi, rindu puisi-puisi sendumu lewat hujan. Rindu aroma Januari yang selalu hampir sama setiap harinya; pet-ri-chor. Itu parfum yang kaupakai? Aku menyukai aroma itu.

Nah, ini bagian penutup surat untukmu, Januari.
Terima kasih atas awan mendung, dan kesenduan yang kauciptakan di dadaku.
Terima kasih atas hujan di pagi, siang, sore, malam, sampai dini hari, sebab tanpa hujan, aku tidak akan bisa berpuisi sebiru kesedihan.
Terima kasih telah menderaskan hujan di beberapa malam, membuat beberapa kepala ikut dideraskan kenangan akan angan dan masa lalu.
Terima kasih atas hujan gerimis yang manis, jenis hujan yang mampu membuat beberapa sejoli saling jatuh cinta, dan menciptakan kenang. Meski gerimismu seringkali hanya menyinggahi rindu padaku, bukan jatuh cinta.
Terima kasih atas segala yang telah kaubagi kepada semesta. Terutama padaku. Sebab engkau telah mengajariku bagaimana cara mencintai dengan cara yang lain.

Januari, terima kasih engkau telah hadir di awal tahunku yang cappuccino; pahit sekaligus manis.
Semoga, tahun depan kita berjumpa lagi, dengan cerita dan bahagia yang lain.
Selamat tinggal, dan sampai jumpa!

Depok, 31 Januari 2015
Hujanlah, sebagai balasan surat ini.

Mencintaimu;

Selamat malam, kau yang sedang dikerudungi bahagia. Semoga aku tak mengganggu.
Malam ini, entah malam ke berapa aku merindukanmu terlalu banyak, lewat doa atau puisi yang tertulis di surat digital ini. Aku tak pernah sempat menghitung berapa banyak aksara yang melebur ketika bayanganmu hadir sesering napasku berembus. Aku pun enggan menganggapnya sebagai beban. Sebab, terluka karena merindumu ternyata patut dinikmati. Seperti yang sedang aku lakukan ini; menulisimu. Menulisi deru rindu yang menderas di dada ketika malam menggelap ataupun pagi merayap menuju langit. Ya, sepagi itu.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mataku enggan terpejam karena begitu banyak cairan kafein di lambungku. Ini bukan tentang kopi. Melainkan tentang ingatan tentangmu yang tak mau hilang dari benakku. Bayanganmu, kafein. Lihat, sekarang pukul berapa? 00:00
Seawal itukah aku mencintaimu? Ya. Tetapi tidak cukup lebih awal untuk bisa bersamamu.

Kenyataan dan harapan terkadang tidak membaur jadi satu-padu yang harmonis. Malah, terkadang mereka saling berpunggungan. Seperti nasib baik dan nasib buruk.
Seperti malam ini. Tak perlu aku menceritakan maksudnya, sebab kurasa kau sudah tahu maksudku.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mencintaimu, cukup hanya lewat barisan kata dan doa; sebab ketulusan bisa menjelma apa saja. Dan mencintaimu, juga bisa melalui cara apa saja.

Depok, 26 Januari 2015